CERMIN: Urip Iku Urup
Sabtu, 04 Maret 2023 - 08:41 WIB
loading...
A
A
A
Menyerah pada hidup jelas adalah pilihan terakhir. Ketika kita merasa sedang berhadapan dengan tembok tinggi dan tak bisa memanjatnya, ketika kita terperosok ke dalam lubang yang terlalu dalam dan tak bisa lagi melihat cahaya, bagaimana kita akan membiarkan cahaya hidup kita perlahan-lahan mati?
“Urip iku urup”. Hidup harus menyala. Kalimat pendek dan filosofis berbahasa Jawa kuno itu ditulis pada bola kembang api raksasa oleh Fahmi ketika dirinya, Raga, Sukma, dan Anggun justru ingin mematikan cahaya itu, berpisah dengan hidup untuk selama-lamanya. Dilosofi ini menjadi pengingat sekaligus kutukan bagi keempatnya.
![CERMIN: Urip Iku Urup]()
Foto: Falcon Pictures
Dari awalnya bersemangat menyala untuk mati tapi terus ditaklukkan oleh sebuah keanehan bahwa rencana mereka terus menerus gagal. Hidup seperti tak membiarkan mereka untuk mati. Hidup terasa memberi mereka kesempatan kedua untuk kembali menyala.
“Urip iku urup”. Hidup itu selalu bertukar. Dalam menjalani kehidupan, posisi kita senantiasa berubah-ubah sewaktu-waktu. Hari ini kita dielu-elukan, besok kita dicaci maki. Hari ini kita beruntung, besok kita mengalami kesialan. Dan karenanya kita diminta untuk berusaha memahami posisi sulit yang dialami seseorang.
Bayangkan jika kamu berada di posisi Fahmi, Raga, Sukma, dan Anggun. Bagaimana rasanya berutang 1,3 miliar? Bagaimana rasanya tak bergairah lagi menjalani profesi sebagai dokter? Bagaimana rasanya merasa hidup tak berarti ketika ditinggal putra tercinta? Bagaimana rasanya jika hari demi hari dilalui dengan caci maki dan ejekan dari teman sekolah?
“Urip iku urup”. Bahwa hidup harus memberi manfaat pada sekitar. Persis dengan ajaran Islam bahwa alasan manusia berada di bumi tak lain untuk memberi manfaat pada sesamanya. Bahwa Fahmi, Raga, Sukma, dan Anggun masih bisa meneruskan hidupnya dan dengan pengalaman pahit yang telah mereka jalani bisa jadi mereka bisa menolong orang lain yang mengalami hal serupa.
![CERMIN: Urip Iku Urup]()
Foto: Falcon Pictures
“Urip iku urup”. Hidup harus menyala. Kalimat pendek dan filosofis berbahasa Jawa kuno itu ditulis pada bola kembang api raksasa oleh Fahmi ketika dirinya, Raga, Sukma, dan Anggun justru ingin mematikan cahaya itu, berpisah dengan hidup untuk selama-lamanya. Dilosofi ini menjadi pengingat sekaligus kutukan bagi keempatnya.

Foto: Falcon Pictures
Dari awalnya bersemangat menyala untuk mati tapi terus ditaklukkan oleh sebuah keanehan bahwa rencana mereka terus menerus gagal. Hidup seperti tak membiarkan mereka untuk mati. Hidup terasa memberi mereka kesempatan kedua untuk kembali menyala.
“Urip iku urup”. Hidup itu selalu bertukar. Dalam menjalani kehidupan, posisi kita senantiasa berubah-ubah sewaktu-waktu. Hari ini kita dielu-elukan, besok kita dicaci maki. Hari ini kita beruntung, besok kita mengalami kesialan. Dan karenanya kita diminta untuk berusaha memahami posisi sulit yang dialami seseorang.
Bayangkan jika kamu berada di posisi Fahmi, Raga, Sukma, dan Anggun. Bagaimana rasanya berutang 1,3 miliar? Bagaimana rasanya tak bergairah lagi menjalani profesi sebagai dokter? Bagaimana rasanya merasa hidup tak berarti ketika ditinggal putra tercinta? Bagaimana rasanya jika hari demi hari dilalui dengan caci maki dan ejekan dari teman sekolah?
“Urip iku urup”. Bahwa hidup harus memberi manfaat pada sekitar. Persis dengan ajaran Islam bahwa alasan manusia berada di bumi tak lain untuk memberi manfaat pada sesamanya. Bahwa Fahmi, Raga, Sukma, dan Anggun masih bisa meneruskan hidupnya dan dengan pengalaman pahit yang telah mereka jalani bisa jadi mereka bisa menolong orang lain yang mengalami hal serupa.

Foto: Falcon Pictures
Lihat Juga :