Diagnosis Dini dan Pengobatan bagi Penderita TB-HIV melalui Uji LF-LAM
Selasa, 21 Maret 2023 - 01:59 WIB
loading...
Tuberkulosis (TB) merupakan penyebab kematian nomor satu di dunia dari agen infeksi tunggal, mycobacterium tuberculosis (MTB), dengan peringkat di atas HIV/AIDS. Foto Ilustrasi/Freepik
A
A
A
JAKARTA - Tuberkulosis (TB) merupakan penyebab kematian nomor satu di dunia dari agen infeksi tunggal, mycobacterium tuberculosis (MTB), dengan peringkat di atas HIV/AIDS. Diperkirakan sekitar 2 miliar manusia atau 25% dari populasi dunia terinfeksi MTB, dan 5%-10% orang yang terinfeksi memiliki risiko seumur hidup mengidap penyakit TB.
Sebelumnya, tes tuberkulosis bagi pasien yang terjangkit HIV bernama Tes GeneXpert. Namun, biaya mesin dan alat pendukung lain merupakan salah satu faktor penghambat peningkatan diagnosis TB secara dini. Selain biaya yang tinggi, sistem ini juga membutuhkan sumber listrik berkelanjutan dan itu tidak selalu tersedia di daerah pedesaan.
Sementara itu, banyak negara berkembang yang menggunakan metode konvensional untuk diagnosa TB, yaitu BTA Sputum, namun sistem ini memiliki negatif palsu 50%-75%.
“HIV dan TBC merupakan dua penyakit yang kasusnya terbilang tinggi. Indonesia terhitung masih jadi penyumbang kedua setelah India dalam kasus ini. Jadi, kami melakukan kolaborasi untuk mengatasi pencegahan dan mengurangi potensi penularan,” ujar Endang Lukitosari dari Kementerian Kesehatan dalam sambutannya di acara Recent Strategies in TB-HIV Management belum lama ini.
Endang memaparkan, 25% kematian dari Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA) disebabkan oleh TBC karena ODHA 30 kali lebih berisiko untuk sakit TBC dibandingkan dengan orang yang tidak terinfeksi HIV.
“Untuk itu, jika ODHA dengan TBC tidak segera diobati, kematian akan lebih cepat. Supaya bisa diobati dengan cepat, maka perlu diagnosa dini,” ujarnya.
Senada dengan Endang, President Director Abbott Rapid Diagnostics (ARDx) Indonesia Benny George menyatakan, tuberkulosis merupakan penyebab utama kematian ODHA karena bertanggung jawab atas satu dari tiga kasus kematian terkait AIDS.
Sebelumnya, tes tuberkulosis bagi pasien yang terjangkit HIV bernama Tes GeneXpert. Namun, biaya mesin dan alat pendukung lain merupakan salah satu faktor penghambat peningkatan diagnosis TB secara dini. Selain biaya yang tinggi, sistem ini juga membutuhkan sumber listrik berkelanjutan dan itu tidak selalu tersedia di daerah pedesaan.
Sementara itu, banyak negara berkembang yang menggunakan metode konvensional untuk diagnosa TB, yaitu BTA Sputum, namun sistem ini memiliki negatif palsu 50%-75%.
“HIV dan TBC merupakan dua penyakit yang kasusnya terbilang tinggi. Indonesia terhitung masih jadi penyumbang kedua setelah India dalam kasus ini. Jadi, kami melakukan kolaborasi untuk mengatasi pencegahan dan mengurangi potensi penularan,” ujar Endang Lukitosari dari Kementerian Kesehatan dalam sambutannya di acara Recent Strategies in TB-HIV Management belum lama ini.
Endang memaparkan, 25% kematian dari Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA) disebabkan oleh TBC karena ODHA 30 kali lebih berisiko untuk sakit TBC dibandingkan dengan orang yang tidak terinfeksi HIV.
“Untuk itu, jika ODHA dengan TBC tidak segera diobati, kematian akan lebih cepat. Supaya bisa diobati dengan cepat, maka perlu diagnosa dini,” ujarnya.
Senada dengan Endang, President Director Abbott Rapid Diagnostics (ARDx) Indonesia Benny George menyatakan, tuberkulosis merupakan penyebab utama kematian ODHA karena bertanggung jawab atas satu dari tiga kasus kematian terkait AIDS.
Lihat Juga :