CERMIN: Teluh Darah dan Banyuwangi pada tahun 1998
Rabu, 03 Mei 2023 - 13:25 WIB
loading...
A
A
A
Pada 2022, keduanya menjalani hidup nyaman. Meski hidup menduda dan hanya berdua dengan putra semata wayangnya, Esa, toh Bondan tak kekurangan. Demikian pula dengan Ahmad yang kini tampak nyaman dengan kehidupan serba mewah dengan dua anak yang cantik dan ganteng, Wulan dan Wisnu.
Mereka sudah bergerak maju dengan hidup mereka, melupakan masa lalu, sebuah malam nahas yang menjadi sumbu dari meledaknya dendam yang sudah lama dipelihara dalam sekam.
![CERMIN: Teluh Darah dan Banyuwangi pada tahun 1998]()
Foto: Disney+ Hotstar
Anak-anak Ahmad dan Bondan adalah produk masa kini. Ketika mereka berhadapan dengan situasi demi situasi tak lazim yang mengancam nyawa ayah-ayah mereka, mereka bersikap skeptis dan menganggapnya sebagai gangguan medis biasa. Terutama Wulan yang menjadi tokoh utama Teluh Darahdan digambarkan tampak sangat skeptis di awal.
Gangguan demi gangguan menghampiri kehidupan mereka yang nyaman yang secara perlahan meningkat eskalasinya dan kelak mengancam nyawa. Tapi sekali lagi Wulan tetap keras kepala dan skeptis terhadap semua hal di luar nalar yang terjadi di depan matanya, meski gangguan tersebut berubah menjadi pertarungan ayah-ayah mereka dengan maut.
Sebagaimana kita, Wulan dan Esa pun selalu menganggap kedua ayah mereka adalah sosok terbaik tanpa cela, seorang ayah teladan yang membaktikan diri memberi mereka kehidupan layak yang mereka nikmati sekarang. Padahal jelas betul, Ahmad dan Bondan bukan malaikat. Pada suatu masa, mereka adalah orang-orang yang membiarkan darah berlumuran di tangannya.
Teluh Darahmenggedor ketakutan dan kengerian penonton secara perlahan. Skenarionya selalu memberi ruang bagi kita mengintip bagaimana sesungguhnya dendam yang kini berwujud sebagai santet bekerja. Kita menjadi tahu dengan istilah asing seperti buhul dan bagaimana benda itu bisa ditemukan begitu saja dalam rumah dan memicu teror tak berkesudahan dari target dendam.
![CERMIN: Teluh Darah dan Banyuwangi pada tahun 1998]()
Foto: Disney+ Hotstar
Mereka sudah bergerak maju dengan hidup mereka, melupakan masa lalu, sebuah malam nahas yang menjadi sumbu dari meledaknya dendam yang sudah lama dipelihara dalam sekam.

Foto: Disney+ Hotstar
Anak-anak Ahmad dan Bondan adalah produk masa kini. Ketika mereka berhadapan dengan situasi demi situasi tak lazim yang mengancam nyawa ayah-ayah mereka, mereka bersikap skeptis dan menganggapnya sebagai gangguan medis biasa. Terutama Wulan yang menjadi tokoh utama Teluh Darahdan digambarkan tampak sangat skeptis di awal.
Gangguan demi gangguan menghampiri kehidupan mereka yang nyaman yang secara perlahan meningkat eskalasinya dan kelak mengancam nyawa. Tapi sekali lagi Wulan tetap keras kepala dan skeptis terhadap semua hal di luar nalar yang terjadi di depan matanya, meski gangguan tersebut berubah menjadi pertarungan ayah-ayah mereka dengan maut.
Sebagaimana kita, Wulan dan Esa pun selalu menganggap kedua ayah mereka adalah sosok terbaik tanpa cela, seorang ayah teladan yang membaktikan diri memberi mereka kehidupan layak yang mereka nikmati sekarang. Padahal jelas betul, Ahmad dan Bondan bukan malaikat. Pada suatu masa, mereka adalah orang-orang yang membiarkan darah berlumuran di tangannya.
Teluh Darahmenggedor ketakutan dan kengerian penonton secara perlahan. Skenarionya selalu memberi ruang bagi kita mengintip bagaimana sesungguhnya dendam yang kini berwujud sebagai santet bekerja. Kita menjadi tahu dengan istilah asing seperti buhul dan bagaimana benda itu bisa ditemukan begitu saja dalam rumah dan memicu teror tak berkesudahan dari target dendam.

Foto: Disney+ Hotstar
Lihat Juga :