CERMIN: Ketika Walt Disney Studio Membalikkan Prasangka Rasisme
Jum'at, 26 Mei 2023 - 14:58 WIB
loading...
A
A
A
Berbeda dengan kakak-kakaknya yang digambarkan penurut, Ariel yang sekilas tampak kalem selalu penuh rasa ingin tahu dan tak ragu-ragu menuruti rasa penasarannya. Sudah lama ia penasaran dengan dunia manusia. Meski selalu dilarang oleh ayahnya untuk membiarkan penasaran itu terus tumbuh, Ariel justru sengaja memeliharanya. Hingga suatu ketika, rasa penasaran itu menemukan jawabannya.
Di tengah lautan yang tengah mengamuk, sebuah kapal yang dinakhodai pangeran tampan bernama Eric terkena musibah. Kapal tersebut dilalap api dan membuat para awak kocar-kacir menyelamatkan diri. Sementara Eric memastikan semua awak dalam kondisi selamat sampai ke sekoci, ia melihat seekor anjing di tengah kapal yang perlu diselamatkan. Tanpa ragu ia kembali ke kapal tanpa peduli dengan nyawanya sendiri.
![CERMIN: Ketika Walt Disney Studio Membalikkan Prasangka Rasisme]()
Foto: The Walt Disney Studios
Kita sudah tahu kelanjutan cerita ini. Ariel akan menyelamatkan Eric dan Eric penasaran dengan sosok sang penyelamat. Tapi The Little Mermaidtentu berjalan tak sesederhana itu. Ariel yang setelah menyelamatkan Eric justru semakin penasaran dengan dunia manusia tahu bahwa inilah saatnya ia untuk membayar rasa penasarannya, berapa pun harganya. Termasuk melepaskan hal paling berharga dari dirinya: suaranya yang merdu.
Saya rasa semua prasangka rasisme itu lenyap ketika kita melihat bagaimana cerdiknya Rob Marshall sebagai sutradara menyelipkan ide soal keragaman manusia. Rasanya baru kali ini kita melihat putri duyung dari beragam ras. Tak hanya berkulit putih atau hitam, juga berkulit kuning dan cokelat. Apa pun agenda Walt Disney Studios soal itu, saya rasa tak ada masalah sama sekali terkait hal tersebut.
Terutama pemilihan Halle Bailey sebagai Ariel adalah pilihan yang tepat. Sebagai sesama sutradara, saya memaklumi bagaimana Rob terpikat dengan sosok Halle. Ia tak cuma cantik dan punya kualitas loveable, tapi juga bersuara merdu dan berhasil berakting dengan baik.
![CERMIN: Ketika Walt Disney Studio Membalikkan Prasangka Rasisme]()
Foto: The Walt Disney Studios
Kini kita melihat Ariel seperti layaknya remaja biasa yang selalu penasaran, selalu ingin menabrak peraturan demi peraturan yang mengekang dan kadang tak peduli dengan segala risiko yang melibatkan orang lain termasuk ayahnya. Sama seperti kita melihat Eric yang juga seperti layaknya remaja biasa yang ingin lepas dari bayang-bayang gelar dan orang tuanya, dan ingin menjadi dirinya sendiri.
Di tengah lautan yang tengah mengamuk, sebuah kapal yang dinakhodai pangeran tampan bernama Eric terkena musibah. Kapal tersebut dilalap api dan membuat para awak kocar-kacir menyelamatkan diri. Sementara Eric memastikan semua awak dalam kondisi selamat sampai ke sekoci, ia melihat seekor anjing di tengah kapal yang perlu diselamatkan. Tanpa ragu ia kembali ke kapal tanpa peduli dengan nyawanya sendiri.

Foto: The Walt Disney Studios
Kita sudah tahu kelanjutan cerita ini. Ariel akan menyelamatkan Eric dan Eric penasaran dengan sosok sang penyelamat. Tapi The Little Mermaidtentu berjalan tak sesederhana itu. Ariel yang setelah menyelamatkan Eric justru semakin penasaran dengan dunia manusia tahu bahwa inilah saatnya ia untuk membayar rasa penasarannya, berapa pun harganya. Termasuk melepaskan hal paling berharga dari dirinya: suaranya yang merdu.
Saya rasa semua prasangka rasisme itu lenyap ketika kita melihat bagaimana cerdiknya Rob Marshall sebagai sutradara menyelipkan ide soal keragaman manusia. Rasanya baru kali ini kita melihat putri duyung dari beragam ras. Tak hanya berkulit putih atau hitam, juga berkulit kuning dan cokelat. Apa pun agenda Walt Disney Studios soal itu, saya rasa tak ada masalah sama sekali terkait hal tersebut.
Terutama pemilihan Halle Bailey sebagai Ariel adalah pilihan yang tepat. Sebagai sesama sutradara, saya memaklumi bagaimana Rob terpikat dengan sosok Halle. Ia tak cuma cantik dan punya kualitas loveable, tapi juga bersuara merdu dan berhasil berakting dengan baik.

Foto: The Walt Disney Studios
Kini kita melihat Ariel seperti layaknya remaja biasa yang selalu penasaran, selalu ingin menabrak peraturan demi peraturan yang mengekang dan kadang tak peduli dengan segala risiko yang melibatkan orang lain termasuk ayahnya. Sama seperti kita melihat Eric yang juga seperti layaknya remaja biasa yang ingin lepas dari bayang-bayang gelar dan orang tuanya, dan ingin menjadi dirinya sendiri.
Lihat Juga :