CERMIN: Meledak sebagai Film Pendek, Melempem sebagai Serial
Rabu, 14 Juni 2023 - 14:26 WIB
loading...
A
A
A
Ia menjadi sosok istri yang menjadi pendukung nomor satu suaminya dalam bertarung sebagai calon kepala desa. Siapa yang menyangka bahwa keceriwisan Bu Tejo mungkin hanya kamuflase untuk menutupi sifat aslinya yang sesungguhnya baik.
Berkat kecemerlangan akting aktor dan aktrisnya, bahkan untuk kategori pendukung, kita hampir lupa bahwa serial ini masih berjalan terseok-seok hingga episode keempat. Durasi 39 menit di episode pertama pun berjalan sangat lambat dengan adegan pembuka yang juga tak menggugah penonton untuk melanjutkan ke episode demi episode berikutnya.
![CERMIN: Meledak sebagai Film Pendek, Melempem sebagai Serial]()
Foto: WeTV
Saya membayangkan adegan pembuka yang mungkin bisa “set up the tone” dari serialnya secara keseluruhan: Pak Tejo berada di sebuah pesta pernikahan dengan seorang penyanyi campursari dan keduanya tampak beradu mesra di depan khalayak.
Lalu kemesraan itu menjadi santapan ibu-ibu haus gosip dan gemar menyebarkan informasi hoaks tanpa bukti. Kelak foto dan video dari Pak Tejo menjadi senjata bagi sesama calon kepala desa, Pak Hartono, untuk terus menggerus simpati publik terhadap Pak Tejo.
Sayangnya memang serial ini mengambil alur yang aman, tak berani mengkonfrontasikan apa yang terjadi di Indonesia hari-hari ini dan membuatnya lebih terasa relevan dan mencekam. Jadinya memang nyaris tak ada kejutan di episode demi episodenya, tak ada hal-hal baru yang ditawarkan yang akan membuat penonton terus menebak-nebak apa yang akan terjadi.
Setelah episode 5 barulah Tilikberjalan dengan lebih dinamis. Namun penonton yang sudah kehilangan kesabaran mungkin akan meninggalkan serial ini begitu saja. Sayang sekali memang karena serial ini tak punya cukup banyak amunisi untuk ditebarkan di sepanjang durasi sejak episode pertama.
Yang juga menjadi kekurangan dari Tilikadalah terlalu banyaknya karakter yang muncul dengan subplot yang sebenarnya tak berhubungan langsung dengan plot utama. Akhirnya membuat cerita melebar ke mana-mana, tak berusaha terus memfokuskan diri pada soal pemilihan kepala desa. Saya membandingkan Tilikdengan serial The Politician di Netflix yang berbicara tentang pemilihan ketua OSIS di sebuah sekolah.
Berkat kecemerlangan akting aktor dan aktrisnya, bahkan untuk kategori pendukung, kita hampir lupa bahwa serial ini masih berjalan terseok-seok hingga episode keempat. Durasi 39 menit di episode pertama pun berjalan sangat lambat dengan adegan pembuka yang juga tak menggugah penonton untuk melanjutkan ke episode demi episode berikutnya.

Foto: WeTV
Saya membayangkan adegan pembuka yang mungkin bisa “set up the tone” dari serialnya secara keseluruhan: Pak Tejo berada di sebuah pesta pernikahan dengan seorang penyanyi campursari dan keduanya tampak beradu mesra di depan khalayak.
Lalu kemesraan itu menjadi santapan ibu-ibu haus gosip dan gemar menyebarkan informasi hoaks tanpa bukti. Kelak foto dan video dari Pak Tejo menjadi senjata bagi sesama calon kepala desa, Pak Hartono, untuk terus menggerus simpati publik terhadap Pak Tejo.
Sayangnya memang serial ini mengambil alur yang aman, tak berani mengkonfrontasikan apa yang terjadi di Indonesia hari-hari ini dan membuatnya lebih terasa relevan dan mencekam. Jadinya memang nyaris tak ada kejutan di episode demi episodenya, tak ada hal-hal baru yang ditawarkan yang akan membuat penonton terus menebak-nebak apa yang akan terjadi.
Setelah episode 5 barulah Tilikberjalan dengan lebih dinamis. Namun penonton yang sudah kehilangan kesabaran mungkin akan meninggalkan serial ini begitu saja. Sayang sekali memang karena serial ini tak punya cukup banyak amunisi untuk ditebarkan di sepanjang durasi sejak episode pertama.
Yang juga menjadi kekurangan dari Tilikadalah terlalu banyaknya karakter yang muncul dengan subplot yang sebenarnya tak berhubungan langsung dengan plot utama. Akhirnya membuat cerita melebar ke mana-mana, tak berusaha terus memfokuskan diri pada soal pemilihan kepala desa. Saya membandingkan Tilikdengan serial The Politician di Netflix yang berbicara tentang pemilihan ketua OSIS di sebuah sekolah.
Lihat Juga :