CERMIN: Bagaimana Mendefinisikan Film Religi?
Jum'at, 08 September 2023 - 13:29 WIB
loading...
Film Air Mata di Atas Sajadah menampilkan elemen film religi meski tak sungguh-sungguh mengolah nilai-nilai Islami. Foto/Beehave Pictures
A
A
A
JAKARTA - Tahun 1977. Film Al Kautsargarapan Chaerul Umam dirilis dan hingga hari ini sering kali disebut sebagai film religi pertama di Indonesia.
Apa sesungguhnya yang dimaksud sebagai film religi? Apa saja yang menjadi ciri-ciri dari sebuah film hingga pantas melekatkan label “religi” kepadanya? Hingga hari ini belum ada penelitian komprehensif yang bisa menjawab dengan lugas terkait dua pertanyaan tersebut.
Namun yang mungkin bisa kita sepakati bersama bahwa film religi adalah film yang memasukkan nilai-nilai agama tertentu yang kental ke dalam film. Jadi sesungguhnya film religi tak melulu eksklusif menjadi 'hak' dari umat Muslim semata.
Baca Juga: CERMIN: Laura Basuki dengan Jangkauan Akting Mengagumkan
Begitupun di negeri yang mayoritas warganya beragama Islam, citra film religi disandingkan erat dengan film Islami. “Banyak sekali film sepanjang 1970-an sampai 1980-an yang sebetulnya punya nuansa religius,“ ujar kritikus film Hikmat Darmawan, dikutip dari CNN Indonesia.
Judul-judul seperti Al Kautsar, Para Perintis Kemerdekaan (1977) dan Titian Serambut Dibelah Tujuh(1982) juga dianggap Hikmat sebagai film religi. Hingga akhirnya film religi direkonstruksi oleh film populer berjudul Ayat-Ayat Cinta pada2008.
![CERMIN: Bagaimana Mendefinisikan Film Religi?]()
Foto: Beehave Pictures
Jika sebelumnya film religi yang dirilis pada era 1970-1980-an membicarakan isu-isu besar terkait umat, maka pasca Ayat-Ayat Cintayang dibicarakan adalah Islam dalam lingkup yang lebih kecil, dalam hal ini keluarga. Terjadi pergeseran dari tema-tema seputar kesalehan sosial menjadi kesalehan individual.
Lantas berdiri di manakah film berjudul Airmata di Ujung Sajadahbesutan Key Mangunsong?
Dari pemilihan judul yang menarik dan kata kunci “sajadah”, pembuat film tampak ingin menegaskan dari awal bahwa filmnya kelak akan memuat nilai-nilai Islami yang mungkin bisa menjadi panduan bagi penonton ketika mengalami masalah yang serupa dengan yang dialami para tokoh-tokohnya. Tapi betulkah demikian?
Apa sesungguhnya yang dimaksud sebagai film religi? Apa saja yang menjadi ciri-ciri dari sebuah film hingga pantas melekatkan label “religi” kepadanya? Hingga hari ini belum ada penelitian komprehensif yang bisa menjawab dengan lugas terkait dua pertanyaan tersebut.
Namun yang mungkin bisa kita sepakati bersama bahwa film religi adalah film yang memasukkan nilai-nilai agama tertentu yang kental ke dalam film. Jadi sesungguhnya film religi tak melulu eksklusif menjadi 'hak' dari umat Muslim semata.
Baca Juga: CERMIN: Laura Basuki dengan Jangkauan Akting Mengagumkan
Begitupun di negeri yang mayoritas warganya beragama Islam, citra film religi disandingkan erat dengan film Islami. “Banyak sekali film sepanjang 1970-an sampai 1980-an yang sebetulnya punya nuansa religius,“ ujar kritikus film Hikmat Darmawan, dikutip dari CNN Indonesia.
Judul-judul seperti Al Kautsar, Para Perintis Kemerdekaan (1977) dan Titian Serambut Dibelah Tujuh(1982) juga dianggap Hikmat sebagai film religi. Hingga akhirnya film religi direkonstruksi oleh film populer berjudul Ayat-Ayat Cinta pada2008.

Foto: Beehave Pictures
Jika sebelumnya film religi yang dirilis pada era 1970-1980-an membicarakan isu-isu besar terkait umat, maka pasca Ayat-Ayat Cintayang dibicarakan adalah Islam dalam lingkup yang lebih kecil, dalam hal ini keluarga. Terjadi pergeseran dari tema-tema seputar kesalehan sosial menjadi kesalehan individual.
Lantas berdiri di manakah film berjudul Airmata di Ujung Sajadahbesutan Key Mangunsong?
Dari pemilihan judul yang menarik dan kata kunci “sajadah”, pembuat film tampak ingin menegaskan dari awal bahwa filmnya kelak akan memuat nilai-nilai Islami yang mungkin bisa menjadi panduan bagi penonton ketika mengalami masalah yang serupa dengan yang dialami para tokoh-tokohnya. Tapi betulkah demikian?
Lihat Juga :