CERMIN: Bagaimana Mendefinisikan Film Religi?
Jum'at, 08 September 2023 - 13:29 WIB
loading...
A
A
A
Airmata Di Ujung Sajadah” menggulirkan cerita dari perspektif Aqilla, seorang gadis yang sekilas punya segalanya. Ia menjalani kehidupan akademik yang menyenangkan, punya rumah megah, juga punya pacar yang ganteng.
Namun sang bunda tak merestui lelaki pilihan Aqilla. Tak gentar dengan ancaman ibunya, Aqilla gagah berani meninggalkan segala kenyamanan hidup. Ia meninggalkan ibunya begitu saja dan memilih menikahi kekasihnya.
Kita tak pernah diberi tahu bagaimana Aqilla bisa menikahi kekasihnya secara sah dalam hukum Islam. Yang jelas mereka berdua akhirnya menikah dan hidup bahagia.
![CERMIN: Bagaimana Mendefinisikan Film Religi?]()
Foto: Beehave Pictures
Tapi skenario memilih plot berliku yang kerap ditempuh sinetron dengan ratusan episode. Suami Aqilla mengalami kecelakaan tragis tepat di depan matanya. Kita tak pernah tahu apa yang terjadi, tahu-tahu Aqilla sudah meraung-raung di tengah masyarakat yang merubung.
Lalu tiba-tiba saja Aqilla hamil. Dengan segala ketiba-tibaan yang sudah terjadi sejak awal, kita sudah tak kaget lagi ketika bayi yang Aqila lahirkan diserahkan oleh ibunya ke pasangan Arif dan Yumna. Sekali lagi setelah tak mencoba mengulas soal hukum Islam dalam pernikahan, skenario juga emoh mengobrolkan soal hukum adopsi dalam Islam yang lazim disebut tabbani. Rasulullah SAW bahkan mencontohkannya langsung ketika mengadopsi seorang anak bernama Zaid bin Haritsah.
Untuk seseorang dengan pekerjaan yang tergolong layak dan hidup yang terlihat berkecukupan, betapa bodohnya Arif ketika tak mengurus segala hal terkait adopsi dari Baskara, anak yang diserahkan kepadanya, sejak awal. Tapi mungkin memang itu yang diinginkan skenario agar cerita ini bisa terus berjalan hingga ke puluhan menit berikutnya.
Karena inilah yang menjadi inti dari cerita Airmata di Ujung Sajadah. Ceritanyatentang seorang ibu kandung yang merindukan anak semata wayangnya dan jika memungkinkan ingin kembali diambilnya.
Dengan pendekatan ketiba-tibaan yang telah berlangsung sejak awal cerita, juga dengan logika cerita yang sulit dipahami penonton kritis, tahulah kitabahwa pembuat film ini dengan cerdik menyasar pangsa pasar penonton sinetron. Ini adalah jenis penonton yang mungkin hanya sekali setahun ke bioskop demi bisa menyaksikan film seperti Airmata di Ujung Sajadah.
![CERMIN: Bagaimana Mendefinisikan Film Religi?]()
Foto:Beehave Pictures
Namun sang bunda tak merestui lelaki pilihan Aqilla. Tak gentar dengan ancaman ibunya, Aqilla gagah berani meninggalkan segala kenyamanan hidup. Ia meninggalkan ibunya begitu saja dan memilih menikahi kekasihnya.
Kita tak pernah diberi tahu bagaimana Aqilla bisa menikahi kekasihnya secara sah dalam hukum Islam. Yang jelas mereka berdua akhirnya menikah dan hidup bahagia.

Foto: Beehave Pictures
Tapi skenario memilih plot berliku yang kerap ditempuh sinetron dengan ratusan episode. Suami Aqilla mengalami kecelakaan tragis tepat di depan matanya. Kita tak pernah tahu apa yang terjadi, tahu-tahu Aqilla sudah meraung-raung di tengah masyarakat yang merubung.
Lalu tiba-tiba saja Aqilla hamil. Dengan segala ketiba-tibaan yang sudah terjadi sejak awal, kita sudah tak kaget lagi ketika bayi yang Aqila lahirkan diserahkan oleh ibunya ke pasangan Arif dan Yumna. Sekali lagi setelah tak mencoba mengulas soal hukum Islam dalam pernikahan, skenario juga emoh mengobrolkan soal hukum adopsi dalam Islam yang lazim disebut tabbani. Rasulullah SAW bahkan mencontohkannya langsung ketika mengadopsi seorang anak bernama Zaid bin Haritsah.
Untuk seseorang dengan pekerjaan yang tergolong layak dan hidup yang terlihat berkecukupan, betapa bodohnya Arif ketika tak mengurus segala hal terkait adopsi dari Baskara, anak yang diserahkan kepadanya, sejak awal. Tapi mungkin memang itu yang diinginkan skenario agar cerita ini bisa terus berjalan hingga ke puluhan menit berikutnya.
Karena inilah yang menjadi inti dari cerita Airmata di Ujung Sajadah. Ceritanyatentang seorang ibu kandung yang merindukan anak semata wayangnya dan jika memungkinkan ingin kembali diambilnya.
Dengan pendekatan ketiba-tibaan yang telah berlangsung sejak awal cerita, juga dengan logika cerita yang sulit dipahami penonton kritis, tahulah kitabahwa pembuat film ini dengan cerdik menyasar pangsa pasar penonton sinetron. Ini adalah jenis penonton yang mungkin hanya sekali setahun ke bioskop demi bisa menyaksikan film seperti Airmata di Ujung Sajadah.

Foto:Beehave Pictures
Lihat Juga :