CERMIN: tentang Orpa yang Mencoba Menemukan Jalannya Sendiri
Rabu, 13 September 2023 - 15:26 WIB
loading...
Film Orpa mengisahkan tentang gadis Papua yang dipaksa menjalani pernikahan dini padahal ia masih ingin sekolah. Foto/QUN Films
A
A
A
JAKARTA - Tahun 2016. Akhirnya kita bisa melihat wajah Papua terkini dalam film Indonesia. Denias: Senandung di Atas Awanmenjadi pembuka bagi kita untuk melihat Papua lebih dekat.
Film Denias: Senandung di Atas Awansesungguhnya menyodorkan persoalan klasik yang sudah kita tahu dan maklumi bersama. Bahwa di Papua, sebagaimana di banyak tempat di ujung negeri ini, masih banyak anak-anak yang kesulitan mendapatkan akses pendidikan yang layak.
Tapi Denias: Senandung di Atas Awan masih terasa melihat problematika yang dialami masyarakat Papua dari kacamata penduduk luar. Begitupun kita tahu bahwa pendidikan masih menjadi salah satu agenda terpenting yang seharusnya menjadi prioritas utama dari pemerintah.
Baca Juga: CERMIN: Bagaimana Mendefinisikan Film Religi?
Lalu17 tahun berlalu, soal pendidikan masih menjadi isu yang penting dibicarakan di Papua. Bedanya kali ini terasa kejujuran dan orisinalitasnya karena dituturkan dari sudut pandang penduduk asli. Theo Rumansara, sutradara yang kelahiran Biak, Papua, menyodorkan masalah ini diselang-seling dengan isu pernikahan dini hingga pertarungan kaum adat.
Orpamenjadi film panjang pertama yang dibuat langsung oleh warga asli Papua. Film ini menuturkan kisahnya dari sudut pandang Orpa (diperankan dengan menarik oleh pendatang baru, Orsila Murib), gadis remaja yang sesaat lagi lulus SD. Digambarkan sebagai remaja yang cerdas dan suka membaca, Orpa bercita-cita melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.
![CERMIN: tentang Orpa yang Mencoba Menemukan Jalannya Sendiri]()
Foto: QUN Films
Tapi mimpi Orpa tak sesederhana yang bisa dibayangkan oleh kita yang hidup di kota besar. Orpa harus berhadapan dengan dua hal: paksaan dari ayahnya untuk segera menikah dengan lelaki pilihannya, ataua keluar dari desanya untuk menuju ke kota tempat sekolah menengah pertama berada.
Maka dalam usianya yang masih belia, Orpa dipaksa untuk memperjuangkan hal yang diyakininya. Orpa nekat melarikan diri dari rumahnya. Ibunya yang tahu kehendak besar putrinya tak menghalanginya, malah mendukung sepenuh hati.
Film Denias: Senandung di Atas Awansesungguhnya menyodorkan persoalan klasik yang sudah kita tahu dan maklumi bersama. Bahwa di Papua, sebagaimana di banyak tempat di ujung negeri ini, masih banyak anak-anak yang kesulitan mendapatkan akses pendidikan yang layak.
Tapi Denias: Senandung di Atas Awan masih terasa melihat problematika yang dialami masyarakat Papua dari kacamata penduduk luar. Begitupun kita tahu bahwa pendidikan masih menjadi salah satu agenda terpenting yang seharusnya menjadi prioritas utama dari pemerintah.
Baca Juga: CERMIN: Bagaimana Mendefinisikan Film Religi?
Lalu17 tahun berlalu, soal pendidikan masih menjadi isu yang penting dibicarakan di Papua. Bedanya kali ini terasa kejujuran dan orisinalitasnya karena dituturkan dari sudut pandang penduduk asli. Theo Rumansara, sutradara yang kelahiran Biak, Papua, menyodorkan masalah ini diselang-seling dengan isu pernikahan dini hingga pertarungan kaum adat.
Orpamenjadi film panjang pertama yang dibuat langsung oleh warga asli Papua. Film ini menuturkan kisahnya dari sudut pandang Orpa (diperankan dengan menarik oleh pendatang baru, Orsila Murib), gadis remaja yang sesaat lagi lulus SD. Digambarkan sebagai remaja yang cerdas dan suka membaca, Orpa bercita-cita melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.

Foto: QUN Films
Tapi mimpi Orpa tak sesederhana yang bisa dibayangkan oleh kita yang hidup di kota besar. Orpa harus berhadapan dengan dua hal: paksaan dari ayahnya untuk segera menikah dengan lelaki pilihannya, ataua keluar dari desanya untuk menuju ke kota tempat sekolah menengah pertama berada.
Maka dalam usianya yang masih belia, Orpa dipaksa untuk memperjuangkan hal yang diyakininya. Orpa nekat melarikan diri dari rumahnya. Ibunya yang tahu kehendak besar putrinya tak menghalanginya, malah mendukung sepenuh hati.
Lihat Juga :