CERMIN: Suara tentang Palestina dari Jepang
Jum'at, 13 Oktober 2023 - 13:40 WIB
loading...
A
A
A
Maka makna judul film R21 AKA Restoring Solidarity bisa melampaui apa yang dimaksudkannya. Ia bisa bermakna sebagai sebuah cara untuk merestorasi film-film lama yang mungkin terlupakan begitu saja oleh banyak orang. Tapi ia juga bisa bermakna sebagai sebuah cara untuk membangkitkan kembali solidaritas pada perjuangan Palestina atas nama kemanusiaan, terlepas dari ikatan ideologi hingga agama.
![CERMIN: Suara tentang Palestina dari Jepang]()
Foto: Doha Film Institute
Maka kita merinding ketika menyaksikan seorang perempuan tua Kristen yang memilih bertahan di Kuneitra, Suriah, setelah invasi Israel pada 1967. Ia diwawancarai untuk menanyakan apa yang akan dilakukannya di kota yang sudah morat-marit itu.
“Tak ada,“ sahutnya tanpa beban. “Yang kamu lihat bisa berbicara sendiri, kan? Jadi tidak perlu penjelasan (tambahan) apa pun,“ jelasnya.
Ia tak menangis, ia tak bersedih, mungkin air matanya sudah habis. Mungkin kesedihan sudah lama pergi dari dirinya atau mungkin juga karena ia tak lagi melihat kemanusiaan yang muncul di kotanya. Solidaritas tak pernah datang padanya dari Jamie Lee Curtis atau Justin Bieber jika ia masih hidup hari ini.
R21 AKA Restoring Solidarity menjadi terdengar begitu lantang hari-hari ini justru karena ia muncul dari masa yang jauh. Juga dari negeri yang tak pernah terbayangkan akan mendukung Palestina sedemikian rupa. Tapi Jepang juga pernah mengalami bombardir Amerika di Hiroshima dan Nagasaki dan mereka tahu betul bagaimana rasanya menjadi Palestina.
Potongan demi potongan film dari tahun 1963-1984 itu dijahit dengan tekun, disunting dengan jernih dan akhirnya menjelma menjadi sebuah suara protes yang keras dari masa lampau. Dari potongan film yang direkam hingga 40 tahun lalu itu, suara protes itu masih relevan kini.
![CERMIN: Suara tentang Palestina dari Jepang]()
Foto: Doha Film Institute
Salah satu segmen paling menarik dari R21 AKA Restoring Solidarity bisa jadi adalah potongan film pendek tentang sekelompok anak-anak yang menemukan sebuah peluncur rudal yang ditinggalkan. Mereka mulai bermain dengan peluncur rudal itu hanya untuk dihadapkan pada realitas konflik saat mereka menemukan tubuh anak lainnya.

Foto: Doha Film Institute
Maka kita merinding ketika menyaksikan seorang perempuan tua Kristen yang memilih bertahan di Kuneitra, Suriah, setelah invasi Israel pada 1967. Ia diwawancarai untuk menanyakan apa yang akan dilakukannya di kota yang sudah morat-marit itu.
“Tak ada,“ sahutnya tanpa beban. “Yang kamu lihat bisa berbicara sendiri, kan? Jadi tidak perlu penjelasan (tambahan) apa pun,“ jelasnya.
Ia tak menangis, ia tak bersedih, mungkin air matanya sudah habis. Mungkin kesedihan sudah lama pergi dari dirinya atau mungkin juga karena ia tak lagi melihat kemanusiaan yang muncul di kotanya. Solidaritas tak pernah datang padanya dari Jamie Lee Curtis atau Justin Bieber jika ia masih hidup hari ini.
R21 AKA Restoring Solidarity menjadi terdengar begitu lantang hari-hari ini justru karena ia muncul dari masa yang jauh. Juga dari negeri yang tak pernah terbayangkan akan mendukung Palestina sedemikian rupa. Tapi Jepang juga pernah mengalami bombardir Amerika di Hiroshima dan Nagasaki dan mereka tahu betul bagaimana rasanya menjadi Palestina.
Potongan demi potongan film dari tahun 1963-1984 itu dijahit dengan tekun, disunting dengan jernih dan akhirnya menjelma menjadi sebuah suara protes yang keras dari masa lampau. Dari potongan film yang direkam hingga 40 tahun lalu itu, suara protes itu masih relevan kini.

Foto: Doha Film Institute
Salah satu segmen paling menarik dari R21 AKA Restoring Solidarity bisa jadi adalah potongan film pendek tentang sekelompok anak-anak yang menemukan sebuah peluncur rudal yang ditinggalkan. Mereka mulai bermain dengan peluncur rudal itu hanya untuk dihadapkan pada realitas konflik saat mereka menemukan tubuh anak lainnya.
Lihat Juga :