Review Film Rabu yang Bahagia: Satu Hari yang Biasa bagi Danang dan Bapaknya
Rabu, 01 November 2023 - 11:55 WIB
loading...
Film pendek Rabu yang Bahagia mengisahkan pertemuan ayah dan anak setelah dua tahun tak jumpa. Foto/Carnival Films
A
A
A
JAKARTA - Saya masih ingat betul peristiwa yang membuat saya harus keluar dari rumah. Untuk kesekian kalinya adik saya yang menggunakan narkoba berulah dan menjual barang paling berharga saya: sebuah tape recorder dua pintu yang saya beli dari hasil menjadi penyiar radio dengan susah payah.
Saya murka dan malam itu juga memutuskan cabut dari rumah. Waktu itu saya masih di tahun kedua kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Usia saya tak lebih dari 20 tahun.
Saya ingat meninggalkan rumah dengan tergesa-gesa. Tak banyak barang yang saya bawa. Dan menuju jalan utama untuk naik angkot.
Baca Juga: CERMIN: Hanung Bramantyo dalam Karya Paling Provokatif
Tanpa saya sadari, ayah saya mengikuti dengan terengah-engah. Ia membujuk saya untuk tak meninggalkan rumah. Tapi saya bergeming. Niat saya sudah bulat.
Sejak itu hubungan saya dengan Ayah memburuk. Semakin memburuk ketika saya meninggalkan Makassar menuju Jakarta pada akhir tahun 2005 tanpa sepengetahuannya. Ayah saya marah besar karena saya memutuskan untuk tak melanjutkan mengejar cita-cita menjadi dokter.
![Review Film Rabu yang Bahagia: Satu Hari yang Biasa bagi Danang dan Bapaknya]()
Foto: Carnival Films
Mungkin karena hubungan saya dengan ayah saya yang buruk itu membuat saya malah menyukai film tentang hubungan ayah dan anak. Salah satu yang menjadi favorit saya adalah film Prancis berjudul Le Grand Voyage yang saya tonton di Jakarta International Film Festival 2005.
Le Grand Voyage membawa kita menyusuri perjalanan jarak jauh dari Prancis ke Makkah sekaligus melihat hubungan berjarak antara ayah dan anak. Sepanjang durasinya, Ismail Ferroukhi membuat saya melihat lebih jernih apa yang sesungguhnya terjadi antara saya dan ayah saya. Ada komunikasi yang macet, ada harapan satu sama lain yang tak tergapai, ada keinginan-keinginan yang tak terucapkan.
Saya murka dan malam itu juga memutuskan cabut dari rumah. Waktu itu saya masih di tahun kedua kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Usia saya tak lebih dari 20 tahun.
Saya ingat meninggalkan rumah dengan tergesa-gesa. Tak banyak barang yang saya bawa. Dan menuju jalan utama untuk naik angkot.
Baca Juga: CERMIN: Hanung Bramantyo dalam Karya Paling Provokatif
Tanpa saya sadari, ayah saya mengikuti dengan terengah-engah. Ia membujuk saya untuk tak meninggalkan rumah. Tapi saya bergeming. Niat saya sudah bulat.
Sejak itu hubungan saya dengan Ayah memburuk. Semakin memburuk ketika saya meninggalkan Makassar menuju Jakarta pada akhir tahun 2005 tanpa sepengetahuannya. Ayah saya marah besar karena saya memutuskan untuk tak melanjutkan mengejar cita-cita menjadi dokter.

Foto: Carnival Films
Mungkin karena hubungan saya dengan ayah saya yang buruk itu membuat saya malah menyukai film tentang hubungan ayah dan anak. Salah satu yang menjadi favorit saya adalah film Prancis berjudul Le Grand Voyage yang saya tonton di Jakarta International Film Festival 2005.
Le Grand Voyage membawa kita menyusuri perjalanan jarak jauh dari Prancis ke Makkah sekaligus melihat hubungan berjarak antara ayah dan anak. Sepanjang durasinya, Ismail Ferroukhi membuat saya melihat lebih jernih apa yang sesungguhnya terjadi antara saya dan ayah saya. Ada komunikasi yang macet, ada harapan satu sama lain yang tak tergapai, ada keinginan-keinginan yang tak terucapkan.
Lihat Juga :