Review Film Rabu yang Bahagia: Satu Hari yang Biasa bagi Danang dan Bapaknya
Rabu, 01 November 2023 - 11:55 WIB
loading...
A
A
A
Tapi yang dialami Danang dan bapaknya dalam film pendek Rabu yang Bahagia tak separah yang dialami Reda dan ayahnya dalam Le Grand Voyage, juga yang saya alami sendiri. Meski sudah memutuskan tak bekerja kantoran selama dua tahun dan memilih jalan hidupnya menjadi aktor, hidup Danang tak susah-susah amat.
Komunikasi dengan bapaknya pun sesungguhnya cukup lancar. Keduanya masih bisa bercanda, sang bapak masih bisa memukul mesra kepala anaknya dan keduanya pun masih bisa bercakap dengan lancar.
Rabu yang Bahagia yang baru saja meraih Jakarta Film Fund Award dari Jakarta Film Week 2023 hanya ingin memperlihatkan satu hari yang biasa antara anak dan bapaknya. Tak kelihatan ada masalah besar di antara mereka, tak ada urgensi yang membuat Danang harus merasa takut ayahnya tak bisa memahami apa keinginannya untuk menjalani hidup.
![Review Film Rabu yang Bahagia: Satu Hari yang Biasa bagi Danang dan Bapaknya]()
Foto: Carnival Films
Tapi sesungguhnya ada yang lebih penting dari pengakuan Danang yaitu kerinduan seorang anak kepada bapaknya. Sayangnya memang hal ini tak dieksplorasi oleh skenario dan bisa membuat film terasa lebih menyentuh hati. Padahal film ini punya durasi hingga 21 menit. Lebih dari cukup untuk bisa mengeksplorasi beberapa hal yang terjadi antara Danang dan bapaknya.
Medium film pendek adalah medium yang unik dan memberi keleluasaan bagi pembuat untuk melakukan eksplorasi seliar yang diinginkan. Saya sudah menyutradarai lima film pendek sejak tahun 2019 dan salah satu materi cerita yang selalu menarik perhatian saya adalah tentang hubungan.
Saya mengeksplorasi hubungan yang tak lagi sehat dari pasangan suami istri dalam Family Room, lantas mengupas hubungan yang rumit antara anak dengan ayah dan ibu yang baru saja meninggal dalam Hari Ke 40, juga memotret hubungan pasangan (mantan) kekasih dalam The Dessert.
Skenario memang selalu menjadi kunci untuk bisa membicarakan beberapa hal yang penting dalam cerita sekaligus dalam waktu singkat. Diperlukan keterampilan bercerita yang kuat agar film pendek tak terasa berpanjang-panjang durasinya.
Bisa jadi saya berbeda dengan penonton kebanyakan dari Rabu yang Bahagia. Saya baru merasakan hati saya tersentuh ketika menulis tulisan ini sembari mengingat-ingat apa yang pernah saya alami dengan ayah saya.
Komunikasi dengan bapaknya pun sesungguhnya cukup lancar. Keduanya masih bisa bercanda, sang bapak masih bisa memukul mesra kepala anaknya dan keduanya pun masih bisa bercakap dengan lancar.
Rabu yang Bahagia yang baru saja meraih Jakarta Film Fund Award dari Jakarta Film Week 2023 hanya ingin memperlihatkan satu hari yang biasa antara anak dan bapaknya. Tak kelihatan ada masalah besar di antara mereka, tak ada urgensi yang membuat Danang harus merasa takut ayahnya tak bisa memahami apa keinginannya untuk menjalani hidup.

Foto: Carnival Films
Tapi sesungguhnya ada yang lebih penting dari pengakuan Danang yaitu kerinduan seorang anak kepada bapaknya. Sayangnya memang hal ini tak dieksplorasi oleh skenario dan bisa membuat film terasa lebih menyentuh hati. Padahal film ini punya durasi hingga 21 menit. Lebih dari cukup untuk bisa mengeksplorasi beberapa hal yang terjadi antara Danang dan bapaknya.
Medium film pendek adalah medium yang unik dan memberi keleluasaan bagi pembuat untuk melakukan eksplorasi seliar yang diinginkan. Saya sudah menyutradarai lima film pendek sejak tahun 2019 dan salah satu materi cerita yang selalu menarik perhatian saya adalah tentang hubungan.
Saya mengeksplorasi hubungan yang tak lagi sehat dari pasangan suami istri dalam Family Room, lantas mengupas hubungan yang rumit antara anak dengan ayah dan ibu yang baru saja meninggal dalam Hari Ke 40, juga memotret hubungan pasangan (mantan) kekasih dalam The Dessert.
Skenario memang selalu menjadi kunci untuk bisa membicarakan beberapa hal yang penting dalam cerita sekaligus dalam waktu singkat. Diperlukan keterampilan bercerita yang kuat agar film pendek tak terasa berpanjang-panjang durasinya.
Bisa jadi saya berbeda dengan penonton kebanyakan dari Rabu yang Bahagia. Saya baru merasakan hati saya tersentuh ketika menulis tulisan ini sembari mengingat-ingat apa yang pernah saya alami dengan ayah saya.
Lihat Juga :