CERMIN: Perempuan di Antara Kretek dan Peristiwa Berdarah
Jum'at, 03 November 2023 - 08:08 WIB
loading...
Serial Gadis Kretek mencampurkan kisah sejarah, kesetaraan gender, rahasia keluarga, dan cinta lewat sosok perempuan lembut. Foto/Netflix
A
A
A
JAKARTA - Tahun 2012. Tiga penulis perempuan populer meluncurkan novelnya masing-masing. Laksmi Pamuntjak menghadirkan Amba, Leila S Chudori datang dengan Pulang,dan Ratih Kumala memperkenalkan novel Gadis Kretek.
Entah apa yang terjadi pada tahun itu yang membuat tiga novel tersebut dirilis pada tahun yang sama dan memiliki kedekatan cerita yang sama. Ketiganya mengusung bagaimana peristiwa berdarah pada 1965 yang dikenal sebagai Pemberontakan G30S/PKI mengubah sejarah hidup seseorang.
“Sejarah adalah langkah seorang raksasa yang tak punya hati,“ ujar salah satu tokoh dalam novel Amba. Dan kita tahu sejarah selalu punya caranya sendiri untuk kembali masuk ke sendi-sendi hidup kita hari ini. Novel Gadis Kretek yang diluncurkan 11 tahun lalu itu kini bertransformasi menjadi serial lima episode berjudul sama yang ditayangkan di Netflix.
Baca Juga: CERMIN: Hanung Bramantyo dalam Karya Paling Provokatif
Ratih Kumala lahir dari keluarga yang terjun dalam dunia kretek, dalam hal ini kakeknya yang membangun bisnis itu. Namun bisnistersebut sudah tak ada jauh sebelum ia lahir. Meski begitu, ia masih mendapatkan cerita-cerita dari keluarga besar ibunya.
Bertahun-tahun kemudian Ratih mengumpulkan kepingan-kepingan sejarah keluarganya itu, melakukan riset selama hampir empat tahun, dan akhirnya mewujud menjadi novel yang mengisahkan tokoh sentral seorang perempuan yang berada di tengah industri yang didominasi laki-laki: industri rokok kretek.
![CERMIN: Perempuan di Antara Kretek dan Peristiwa Berdarah]()
Foto: Netflix
Idrus dan Roemaisa tak punya anak laki-laki. Mereka diberkahi dua anak perempuan, Dasiyah dan Rukayah. Berbeda dengan adiknya, Dasiyah justru memperlihatkan ketertarikan amat kuat pada rokok kretek.
Pengaruh sang ayah yang sejak kecil selalu mengajaknya terjun ke dalam usahanya membuat Dasiyah perlahan mencintainya. Dasiyah pun ingin menjadi peracik saos, resep rahasia yang membuat rokok kretek terasa begitu nikmat ketika diisap. Tapi Dasiyah hidup pada tahun 1960-an, sebuah periode saat perempuan hanya diperbolehkan mengurus rumah tangga, memasak, menjahit dan sejumlah pekerjaan domestik lainnya.
Entah apa yang terjadi pada tahun itu yang membuat tiga novel tersebut dirilis pada tahun yang sama dan memiliki kedekatan cerita yang sama. Ketiganya mengusung bagaimana peristiwa berdarah pada 1965 yang dikenal sebagai Pemberontakan G30S/PKI mengubah sejarah hidup seseorang.
“Sejarah adalah langkah seorang raksasa yang tak punya hati,“ ujar salah satu tokoh dalam novel Amba. Dan kita tahu sejarah selalu punya caranya sendiri untuk kembali masuk ke sendi-sendi hidup kita hari ini. Novel Gadis Kretek yang diluncurkan 11 tahun lalu itu kini bertransformasi menjadi serial lima episode berjudul sama yang ditayangkan di Netflix.
Baca Juga: CERMIN: Hanung Bramantyo dalam Karya Paling Provokatif
Ratih Kumala lahir dari keluarga yang terjun dalam dunia kretek, dalam hal ini kakeknya yang membangun bisnis itu. Namun bisnistersebut sudah tak ada jauh sebelum ia lahir. Meski begitu, ia masih mendapatkan cerita-cerita dari keluarga besar ibunya.
Bertahun-tahun kemudian Ratih mengumpulkan kepingan-kepingan sejarah keluarganya itu, melakukan riset selama hampir empat tahun, dan akhirnya mewujud menjadi novel yang mengisahkan tokoh sentral seorang perempuan yang berada di tengah industri yang didominasi laki-laki: industri rokok kretek.

Foto: Netflix
Idrus dan Roemaisa tak punya anak laki-laki. Mereka diberkahi dua anak perempuan, Dasiyah dan Rukayah. Berbeda dengan adiknya, Dasiyah justru memperlihatkan ketertarikan amat kuat pada rokok kretek.
Pengaruh sang ayah yang sejak kecil selalu mengajaknya terjun ke dalam usahanya membuat Dasiyah perlahan mencintainya. Dasiyah pun ingin menjadi peracik saos, resep rahasia yang membuat rokok kretek terasa begitu nikmat ketika diisap. Tapi Dasiyah hidup pada tahun 1960-an, sebuah periode saat perempuan hanya diperbolehkan mengurus rumah tangga, memasak, menjahit dan sejumlah pekerjaan domestik lainnya.
Lihat Juga :