CERMIN: Perempuan di Antara Kretek dan Peristiwa Berdarah
Jum'at, 03 November 2023 - 08:08 WIB
loading...
A
A
A
Mungkin pemikiran Dasiyah terlalu maju pada masanya. Padahal ia hanya ingin menjadi peracik saos, ia tak pernah bercita-cita meruntuhkan dominasi laki-laki dalam industri rokok kretek.
Hanya seorang dalam hidupnya yang percaya dengan talentanya: namanya Soeraja. Keduanya pun jatuh cinta. Sayangnya keduanya harus dipisahkan oleh sebuah peristiwa besar pada tahun 1965. Peristiwa yang kelak mengubah rencana keduanya dan menghancurkan keluarga Dasiyah.
Dituturkan dalam tiga periode waktu: 1960-an, 1970-an, dan 2000-an awal memerlukan keterampilan bercerita tertentu. Ratih menunaikan tugasnya dengan baik ketika menggunakan surat, jurnal, hingga cerita dari tokoh-tokohnya untuk mengantarkan penonton kembali berjalan mundur menyusuri masa lalu. Sayangnya memang tak ada pendekatan inventif dari skenario untuk membuat cerita bergerak bolak-balik dengan lebih lincah.
![CERMIN: Perempuan di Antara Kretek dan Peristiwa Berdarah]()
Foto: Netflix
Gadis Kretek yang dituturkan dengan alur maju mundur sebenarnya cukup efisien, tapi narasi yang terlalu banyak (sebagaimana dalam novelnya) justru menjadi kendala. Rasanya sering sekali terlalu banyak informasi yang dimuntahkan dalam satu waktu dan akhirnya sering kali mudah terlewatkan begitu saja.
Skenario yang diracik tim penulis yang dikomandoi Tanya Yuson itu bahkan membuat episode perdana berjalan begitu lamban. Durasi 20 menit pertama terasa berjalan seperti 50 menit. Padahal penulis skenario seharusnya merasa tak punya utang apa pun ke materi aslinya (novel).
Tugas filmnya hanya membuat cerita berjalan dengan lancar dan terang benderang. Syukur-syukur jika bisa melakukan pendekatan yang segar dan menarik yang berbeda dari novelnya.
Kamila Andini yang cemerlang dengan dua filmnya sebelumnya, Yuni dan Before, Now & Then (Nana) seperti tak bisa berbuat banyak dengan skenario yang terasa tersendat-sendat. Padahal Kamila cemerlang ketika menulis sendiri dua skenario filmnya tersebut.
Untungnya memang penyutradaraan yang ditunjukkannya bersama dengan Ifa Isfansyah masih solid. Penyuntingan juga berperan besar membuat cerita terasa bergerak lebih lancar setelah melewati dua episode awal.
Hanya seorang dalam hidupnya yang percaya dengan talentanya: namanya Soeraja. Keduanya pun jatuh cinta. Sayangnya keduanya harus dipisahkan oleh sebuah peristiwa besar pada tahun 1965. Peristiwa yang kelak mengubah rencana keduanya dan menghancurkan keluarga Dasiyah.
Dituturkan dalam tiga periode waktu: 1960-an, 1970-an, dan 2000-an awal memerlukan keterampilan bercerita tertentu. Ratih menunaikan tugasnya dengan baik ketika menggunakan surat, jurnal, hingga cerita dari tokoh-tokohnya untuk mengantarkan penonton kembali berjalan mundur menyusuri masa lalu. Sayangnya memang tak ada pendekatan inventif dari skenario untuk membuat cerita bergerak bolak-balik dengan lebih lincah.

Foto: Netflix
Gadis Kretek yang dituturkan dengan alur maju mundur sebenarnya cukup efisien, tapi narasi yang terlalu banyak (sebagaimana dalam novelnya) justru menjadi kendala. Rasanya sering sekali terlalu banyak informasi yang dimuntahkan dalam satu waktu dan akhirnya sering kali mudah terlewatkan begitu saja.
Skenario yang diracik tim penulis yang dikomandoi Tanya Yuson itu bahkan membuat episode perdana berjalan begitu lamban. Durasi 20 menit pertama terasa berjalan seperti 50 menit. Padahal penulis skenario seharusnya merasa tak punya utang apa pun ke materi aslinya (novel).
Tugas filmnya hanya membuat cerita berjalan dengan lancar dan terang benderang. Syukur-syukur jika bisa melakukan pendekatan yang segar dan menarik yang berbeda dari novelnya.
Kamila Andini yang cemerlang dengan dua filmnya sebelumnya, Yuni dan Before, Now & Then (Nana) seperti tak bisa berbuat banyak dengan skenario yang terasa tersendat-sendat. Padahal Kamila cemerlang ketika menulis sendiri dua skenario filmnya tersebut.
Untungnya memang penyutradaraan yang ditunjukkannya bersama dengan Ifa Isfansyah masih solid. Penyuntingan juga berperan besar membuat cerita terasa bergerak lebih lancar setelah melewati dua episode awal.
Lihat Juga :