CERMIN: Teriakan Nyaring dari Pulau Rote
loading...
A
A
A
Nama Jeremias Nyangoen bisa jadi terdengar asing di telinga sebagian besar penonton film Indonesia hari ini. Namun pada 2004, ia pernah menjadi nomine Most Favorite Actor dalam MTV Indonesia Movie Awards atas perannya dalam film Kanibal – Sumanto.
Tiga tahun setelahnya ia menjajal profesi penulis skenario untuk film Sang Dewi. Butuh 16 tahun bagi Jeremias untuk kembali dengan lompatan terbesar dalam kariernya: menjadi penulis skenario sekaligus sutradara untuk Women from Rote Island.
![CERMIN: Teriakan Nyaring dari Pulau Rote]()
Foto: Bintang Cahaya Sinema
Film sejenis Women from Rote Island jarang sekali dibuat di negeri ini. Memotret isu krusial hari ini dari wilayah paling timur Indonesia membuat film ini penting untuk dicatat. Untungnya memang Jeremias tak saja membuat film ini penting, tapi juga punya kualitas cemerlang. Saya kira memuji Women from Rote Island sebagai salah satu film Indonesia terbaik dalam 10 tahun terakhir tak berlebihan.
Skenario yang solid dengan kelokan-kelokan menarik, penyutradaraan yang subtil, olahan sinematografi yang mencengangkan, juga penataan musik yang menghantui dan sering kali menghipnosis jadi kekuatan. Tentu saja juga penampilan akting luar biasa dari hampir keseluruhan aktornya yang baru pertama kalinya bermain dalam film panjang/bioskop.
Women from Rote Island menjadi etalase bagi lahirnya dua aktris perempuan dari Timur. Linda Adoe yang bermain sebagai Orpa menampilkan kealamiahan seseorang yang tak pernah mengalami seni akting, menjalaninya sebagaimana keseharian dan membuat kita percaya bahwa ia sesungguh-sungguhnya adalah Orpa, perempuan berhati kuat dengan kesabaran luar biasa yang terus menerus diuji berbagai cobaan.
Sementara Irma Rihi tak saja menampilkan kematangan akting yang susah dicari tandingannya pada tahun ini. Sebagai Martha, Irma juga menunjukkan integritasnya sebagai aktris dengan totalitas akting jempolan.
Irma tak takut beradegan telanjang dalam adegan pembuka yang simbolik dan membiarkan salah satu payudaranya tersingkap dalam adegan perkosaan yang intens dan brutal. Sebuah totalitas yang kini menjadi barang langka dalam skena akting lokal.
![CERMIN: Teriakan Nyaring dari Pulau Rote]()
Foto: Bintang Cahaya Sinema
Melalui mulut Orpa dan Martha, kita akhirnya mendengar teriakan nyaring dari Pulau Rote. Sebuah teriakan yang bukan saja memekikkan keinginan agar kita lebih peduli dengan buruh migran yang menjadi korban kekerasan seksual, tapi juga bagi perempuan yang menjadi korban perkosaan dan pembunuhan.
Tiga tahun setelahnya ia menjajal profesi penulis skenario untuk film Sang Dewi. Butuh 16 tahun bagi Jeremias untuk kembali dengan lompatan terbesar dalam kariernya: menjadi penulis skenario sekaligus sutradara untuk Women from Rote Island.

Foto: Bintang Cahaya Sinema
Film sejenis Women from Rote Island jarang sekali dibuat di negeri ini. Memotret isu krusial hari ini dari wilayah paling timur Indonesia membuat film ini penting untuk dicatat. Untungnya memang Jeremias tak saja membuat film ini penting, tapi juga punya kualitas cemerlang. Saya kira memuji Women from Rote Island sebagai salah satu film Indonesia terbaik dalam 10 tahun terakhir tak berlebihan.
Skenario yang solid dengan kelokan-kelokan menarik, penyutradaraan yang subtil, olahan sinematografi yang mencengangkan, juga penataan musik yang menghantui dan sering kali menghipnosis jadi kekuatan. Tentu saja juga penampilan akting luar biasa dari hampir keseluruhan aktornya yang baru pertama kalinya bermain dalam film panjang/bioskop.
Women from Rote Island menjadi etalase bagi lahirnya dua aktris perempuan dari Timur. Linda Adoe yang bermain sebagai Orpa menampilkan kealamiahan seseorang yang tak pernah mengalami seni akting, menjalaninya sebagaimana keseharian dan membuat kita percaya bahwa ia sesungguh-sungguhnya adalah Orpa, perempuan berhati kuat dengan kesabaran luar biasa yang terus menerus diuji berbagai cobaan.
Sementara Irma Rihi tak saja menampilkan kematangan akting yang susah dicari tandingannya pada tahun ini. Sebagai Martha, Irma juga menunjukkan integritasnya sebagai aktris dengan totalitas akting jempolan.
Irma tak takut beradegan telanjang dalam adegan pembuka yang simbolik dan membiarkan salah satu payudaranya tersingkap dalam adegan perkosaan yang intens dan brutal. Sebuah totalitas yang kini menjadi barang langka dalam skena akting lokal.

Foto: Bintang Cahaya Sinema
Melalui mulut Orpa dan Martha, kita akhirnya mendengar teriakan nyaring dari Pulau Rote. Sebuah teriakan yang bukan saja memekikkan keinginan agar kita lebih peduli dengan buruh migran yang menjadi korban kekerasan seksual, tapi juga bagi perempuan yang menjadi korban perkosaan dan pembunuhan.
Lihat Juga :