Review Film Dua Pilar Satu Atap: Drama Keluarga tentang Indahnya Bertoleransi
Rabu, 22 November 2023 - 14:58 WIB
loading...
Film pendek Dua Pilar Satu Atap menggambarkan tentang anak yang dibuang dan toleransi agama. Foto/Shockfilm
A
A
A
JAKARTA - Seorangperempuandengan tangan bertato terlihat duduk seenaknya di kursi. Sosoknya yang membelakangi layar tampak tak terlihat, selain gerakan ayunan tangannya yang memegang sebatang rokok yang masih menyala.
Di hadapannya, terduduk seorang gadis yang terlihat sedih nan muram. Dari dialog yang mereka lontarkan, terbuka fakta bahwa si perempuan bukanlah ibu kandung si gadis muda itu. Ia ternyata anak hibahan yang diberi keluarga biologisnya ke perempuan itu untuk membuang sial sesuai tradisi Tionghoa. Kini si perempuan memintanya kembali ke keluarga aslinya yang sekarang, karena mereka mau mengambil si gadis kembali sebagai anggota keluarga mereka.
Deskripsi adegan pembuka film pendek Dua Pilar Satu Atap yang dramatis di atas rupanya tidak menggambarkan tema keseluruhan filmnya. Selepas adegan prolog tadi, penonton lalu dibawa pada kehidupan keluarga biologis gadis itu.
Baca Juga: Review Film Telor Ceplok: Retak Rumah Tangga karena Makanan
Setelah ibunya meninggal, kini sang ayah memutuskan mengambil kembali anak yang dahulu dianggapnya membawa bala. Menjalani keseharian baru bersama keluarga aslinya memang cukup asing dan kagok, untungnya dalam prosesnya begitu banyak kehangatan yang hadir dengan sebuah kejutan menarik di akhir cerita.
Film pendek produksi kolaborasi Shockfilm dan Imasfek Universitas Sriwijaya asal Palembang, Sumatera Selatan, ini memang memiliki kisah yang cukup bombastis di menit awalnya, tapi saat mengalir malah terasa hangat ke belakang hingga kredit bergulir.
Dalam tiap adegan hanya digambarkan ada sesuatu yang belum terlihat saat keluarga ini masih terlihat kaku menyambut si gadis yang bernama Daisy. Daisy bahkan dipasang untuk memunggungi penonton di tiap adegan makan malam. Hingga di pengujung alur baru terlihat ternyata Daisy memiliki gesture tangan yang berbeda saat berdoa sebelum menyantap makan malamnya.
Hal ini juga terlihat melalui eksterior set film yang memperlihatkan patung dewi Kwan Im dan garu khas warga Tionghoa penganut Konghucu, tapi Daisy lalu tampak sedang mengaji di kamarnya selepas ibadah salat. Dalam satu adegan juga terlihat keluarga ini menyingkirkan panci wajan dan alat makan mereka untuk diganti dengan yang baru, menegaskan toleransi mereka pada Daisy yang pantang mengonsumsi babi, termasuk menggunaka peralatan bekas hewan yang dianggap najis dalam agamanya tersebut.
Adegan ini sangathalus, tapi menekankan betapa tolerannya keluarga ini terhadap anggota baru mereka. Betapa sang ayah yang merasa berdosa pernah membuang anak kandungnya sendiri demi kepercayaan yang dianutnya.
Karena selain toleransi yang tersirat dalam filmnya, Dua Pilar Satu Atap juga membawa pesan mengampuni dosa keluarga. Daisy yang awalnya tak terima dengan realita dirinya dibuang sejak masih kecil ke PSK, harus melepas amarahnya dan memaafkan ayahnya. Dengan dukungan sang kakak, Lily, ia lalu bisa mengampuni ayahnya dan memulai lembaran baru bersama keluarganya.
Di hadapannya, terduduk seorang gadis yang terlihat sedih nan muram. Dari dialog yang mereka lontarkan, terbuka fakta bahwa si perempuan bukanlah ibu kandung si gadis muda itu. Ia ternyata anak hibahan yang diberi keluarga biologisnya ke perempuan itu untuk membuang sial sesuai tradisi Tionghoa. Kini si perempuan memintanya kembali ke keluarga aslinya yang sekarang, karena mereka mau mengambil si gadis kembali sebagai anggota keluarga mereka.
Deskripsi adegan pembuka film pendek Dua Pilar Satu Atap yang dramatis di atas rupanya tidak menggambarkan tema keseluruhan filmnya. Selepas adegan prolog tadi, penonton lalu dibawa pada kehidupan keluarga biologis gadis itu.
Baca Juga: Review Film Telor Ceplok: Retak Rumah Tangga karena Makanan
Setelah ibunya meninggal, kini sang ayah memutuskan mengambil kembali anak yang dahulu dianggapnya membawa bala. Menjalani keseharian baru bersama keluarga aslinya memang cukup asing dan kagok, untungnya dalam prosesnya begitu banyak kehangatan yang hadir dengan sebuah kejutan menarik di akhir cerita.
Film pendek produksi kolaborasi Shockfilm dan Imasfek Universitas Sriwijaya asal Palembang, Sumatera Selatan, ini memang memiliki kisah yang cukup bombastis di menit awalnya, tapi saat mengalir malah terasa hangat ke belakang hingga kredit bergulir.
Pesan Toleransi dan Alam Bawah Sadar Penonton
Disutradarai Ilham Prajatama yang juga bertindak sebagai penulis skenario filmnya, Dua Pilar Satu Atap sebenarnya hanyalah sebuah film keluarga dengan pesan subtil yang terasa penting untuk kondisi saat ini, yaitu indahnya bertoleransi. Dengan halus Ilham bahkan tidak menyinggung perbedaan agama yang dianut si gadis dan anggota keluarga lainnya secara lisan.Dalam tiap adegan hanya digambarkan ada sesuatu yang belum terlihat saat keluarga ini masih terlihat kaku menyambut si gadis yang bernama Daisy. Daisy bahkan dipasang untuk memunggungi penonton di tiap adegan makan malam. Hingga di pengujung alur baru terlihat ternyata Daisy memiliki gesture tangan yang berbeda saat berdoa sebelum menyantap makan malamnya.
Hal ini juga terlihat melalui eksterior set film yang memperlihatkan patung dewi Kwan Im dan garu khas warga Tionghoa penganut Konghucu, tapi Daisy lalu tampak sedang mengaji di kamarnya selepas ibadah salat. Dalam satu adegan juga terlihat keluarga ini menyingkirkan panci wajan dan alat makan mereka untuk diganti dengan yang baru, menegaskan toleransi mereka pada Daisy yang pantang mengonsumsi babi, termasuk menggunaka peralatan bekas hewan yang dianggap najis dalam agamanya tersebut.
Adegan ini sangathalus, tapi menekankan betapa tolerannya keluarga ini terhadap anggota baru mereka. Betapa sang ayah yang merasa berdosa pernah membuang anak kandungnya sendiri demi kepercayaan yang dianutnya.
Karena selain toleransi yang tersirat dalam filmnya, Dua Pilar Satu Atap juga membawa pesan mengampuni dosa keluarga. Daisy yang awalnya tak terima dengan realita dirinya dibuang sejak masih kecil ke PSK, harus melepas amarahnya dan memaafkan ayahnya. Dengan dukungan sang kakak, Lily, ia lalu bisa mengampuni ayahnya dan memulai lembaran baru bersama keluarganya.
Lihat Juga :