CERMIN: Waluyo Kehilangan Uang, Rumah, Keluarga, dan Harga Dirinya
Jum'at, 29 Desember 2023 - 07:01 WIB
loading...
A
A
A
Seperti masih belum cukup, ia juga harus kehilangan ibunya dan mungkin setelahnya, sebagaimana yang saya alami sebagai seorang laki-laki, kehilangan harga dirinya. Karena itulah saya bersimpati pada apa yang yang diyakini Waluyo yang membuatnya mau bergabung dalam sebuah gerakan bawah tanah yang dipimpin Ismail untuk merebut kembali kedaulatan keuangan dari para mafia.
Sayangnya memang Waluyo bukan karakter sentral dari film 13 Bom di Jakarta. Peran itu milik Ismail yang seharusnya diberi ruang lebih lebar oleh skenario untuk dikembangkan latar belakangnya, bukan sekadar dialog demi dialog panjang yang mudah dilupakan. Protagonis film ini adalah Ismail yang seharusnya membuat kita bersimpati pada apa yang diperjuangkannya, meskipun sebagaimana Waluyo, kita juga mengutuk bagaimana Ismail tak menghiraukan korban yang berjatuhan sebagai collateral damage.
Lawan Ismail dalam film ini adalah Karin yang juga karena kelemahan skenario justru tak pernah diperlihatkan duel satu lawan satu dengannya. Skenario yang ditulis Irfan Ramly dan Angga Dwimas Sasongko juga tak mau bersusah payah membangun latar belakang kokoh bagi seorang agen intelijen perempuan yang berjibaku dengan tugasnya sebagai seorang ibu. Bisa dibandingkan dengan dua karakter utama (perempuan) dalam She Said besutan Maria Schrader yang berjuang mati-matian di antara tanggung jawab sebagai jurnalis dan sebagai ibu.
![CERMIN: Waluyo Kehilangan Uang, Rumah, Keluarga, dan Harga Dirinya]()
Foto: Visinema Pictures
Tapi Angga sebagai sutradara bisa jadi tahu bagaimana cara menambal skenario yang tak berfungsi sepenuhnya dengan baik itu. Angga berkomitmen penuh menjadikan film ini sebagai parade aksi mendebarkan selama nyaris 2,5 jam. Penyutradaraannya yang solid membuat karakter demi karakter yang cukup banyak bisa berlalu lalang dengan baik dalam adegan.
Kamera yang juga terus menerus bergerak dengan perhitungan matang, penyuntingan yang menjalani ritme yang rapi, penataan musik yang sukses membuat jantung kita terus menerus berdebar. Terutama bagaimana Angga mengarahkan ensembel aktor dengan sangat baik.
Dalam sebuah kesempatan, saya pernah ditanya oleh seseorang. “Bisa nggak, sih, kita bikin film action yang keren?” Jawaban saya tentu saja, “Bisa!” Angga sudah memulainya dengan menarik dalam Mencuri Raden Salehpada tahun lalu dan meningkatkan terus tantangan yang harus dihadapinya kali ini dalam 13 Bom di Jakarta. Tentu saja sebagai sebuah karya, kelemahan masih saja ada, tapi keutuhan film ini sebagai aksi yang sanggup membetot perhatian penonton selama 2,5 jam memang perlu diberi tepuk tangan panjang.
Sayangnya memang Waluyo bukan karakter sentral dari film 13 Bom di Jakarta. Peran itu milik Ismail yang seharusnya diberi ruang lebih lebar oleh skenario untuk dikembangkan latar belakangnya, bukan sekadar dialog demi dialog panjang yang mudah dilupakan. Protagonis film ini adalah Ismail yang seharusnya membuat kita bersimpati pada apa yang diperjuangkannya, meskipun sebagaimana Waluyo, kita juga mengutuk bagaimana Ismail tak menghiraukan korban yang berjatuhan sebagai collateral damage.
Lawan Ismail dalam film ini adalah Karin yang juga karena kelemahan skenario justru tak pernah diperlihatkan duel satu lawan satu dengannya. Skenario yang ditulis Irfan Ramly dan Angga Dwimas Sasongko juga tak mau bersusah payah membangun latar belakang kokoh bagi seorang agen intelijen perempuan yang berjibaku dengan tugasnya sebagai seorang ibu. Bisa dibandingkan dengan dua karakter utama (perempuan) dalam She Said besutan Maria Schrader yang berjuang mati-matian di antara tanggung jawab sebagai jurnalis dan sebagai ibu.

Foto: Visinema Pictures
Tapi Angga sebagai sutradara bisa jadi tahu bagaimana cara menambal skenario yang tak berfungsi sepenuhnya dengan baik itu. Angga berkomitmen penuh menjadikan film ini sebagai parade aksi mendebarkan selama nyaris 2,5 jam. Penyutradaraannya yang solid membuat karakter demi karakter yang cukup banyak bisa berlalu lalang dengan baik dalam adegan.
Kamera yang juga terus menerus bergerak dengan perhitungan matang, penyuntingan yang menjalani ritme yang rapi, penataan musik yang sukses membuat jantung kita terus menerus berdebar. Terutama bagaimana Angga mengarahkan ensembel aktor dengan sangat baik.
Dalam sebuah kesempatan, saya pernah ditanya oleh seseorang. “Bisa nggak, sih, kita bikin film action yang keren?” Jawaban saya tentu saja, “Bisa!” Angga sudah memulainya dengan menarik dalam Mencuri Raden Salehpada tahun lalu dan meningkatkan terus tantangan yang harus dihadapinya kali ini dalam 13 Bom di Jakarta. Tentu saja sebagai sebuah karya, kelemahan masih saja ada, tapi keutuhan film ini sebagai aksi yang sanggup membetot perhatian penonton selama 2,5 jam memang perlu diberi tepuk tangan panjang.
Lihat Juga :