Multifaktor Penyebab Stunting, Cegah Sedini Mungkin
Sabtu, 13 Januari 2024 - 01:30 WIB
loading...
A
A
A
Edi pun berpendapat hal yang sama. Menurutnya sampai saat ini belum ada yang menyebutkan gula menjadi penyebab stunting. “Sejauh asupan gizi tercukupi tidak masalah. Dampak konsumsi gula berlebih adalah obesitas pada baduta dan balita," lanjutnya.
Lebih lanjut Edi juga menegaskan konsumsi makanan manis merupakan bagian dari pola asuh. Jika dibiasakan dengan makanan sehat maka akan lebih terjaga pola gizinya. “Inilah mengapa pola asuh, termasuk pemberian makanan yang akan menentukan apakah anak stunting atau tidak," ungkapnya.
Mengingat pentingnya memasukkan protein hewani dalam makanan anak sebagai cara untuk mencegah terjadinya stunting, bagaimanakah sebenarnya pemahanan orangtua terhadap hal ini? Lucia Nauli Simbolon menjelaskan, Masyarakat masih banyak yang belum berani memberikan makanan pertama protein hewani. “Orangtua ketika anak mulai MPASI selalu bertanya apakah makanan pertama tidak kuah dulu atau sayur dulu? Mereka menyakini makanan pertama anak adalah buah atau sayur daripada protein hewani,” kata dokter spesialis anak ini.
Baca Juga: Mengenal Apa Itu Stunting, Masalah Kesehatan yang Kerap Dialami Balita Indonesia
Padahal, sambung Lucia, anak membutuhkan nutrisi makro dan mikro. Makro dari karbohidrat, lemak dan protein. “Untuk karbohidrat, orang Indonesia suka nasi dan makanan yang manis. Padahal karbohidrat bisa juga diganti dengan ubi ungu atau kentang,“ jelasnya.
Untuk protein hewani bisa berasal dari ikan karena memiliki kadar DHA tinggi yang penting untuk otak. Tapi untuk pembentukan otot, Lucia menyebutkan daging merah dan ayam sebagai sumbernya. Sementara sumber lemak juga bukan hanya dari butter atau keju, tapi juga bisa santan. Menurut Lucia penting bagi orangtua untuk mengoptimalkan asupan protein hewani pada makan anak, dimana 20 persen adalah protein hewani dan 30 persen lemak juga wajib berasal dari hewani.
“Hitung prosi anak sekitar 20-25 gram protein hewani. Awal-awal ditimbang agar tahu misalnya berapa banyak ikan Lele yang harus diberikan untuk mendapatkan 25 gram protein hewani. Protein nabati itu bonus saja,“ sarannya.
Pentingnya pemberian asupan protein hewani juga sejalan dengan pedoman baru MPASI yang dikeluarkan WHO. Dalam keterangannya,WHO merekomendasikan pemberian ASI seharusnya dilanjutkan hingga usia 2 tahun. Pada bayi usia 6-11 bulan yang tidak mendapatkan ASI bisa diberikan susu formula atau susu hewani.
Adapun untuk anak berusia 12-23 bulan yang diberikan susu selain ASI, susu yang diberikan sebaiknya merupakan susu hewani. Dalam keterangannya disebutkan bahwa produk susu termasuk cairan susu hewani, adalah bagian dari pola makan beragam yang berkontribusi pada kecukupan gizi.
Hal yang juga penting dilakukan adalah mencegah terjadinya stunting. Kemenkes sendiri disebutkan Fauzi memiliki 11 intervensi spesifik untuk mencegah terjadinya stunting mulai dari masa kehamilan, sebelum lahir, dan setelah melahirkan. “Intervensinya bahkan dimulai sejak masih remaja putri, yaitu dengan memberikan tablet tambah darah (TTD) untuk mencegah anemia," ungkapnya.
Remaja putri dengan anemia tentunya akan berisiko mengalami anemi pada saat hamil bila tidak diobati. Inilah yang kemudian menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya stunting dari masa kehamilan. Untuk itu menurut Lucia, merencanakan kehamilan juga menjadi faktor penting dalam mencegah terjadinya stunting.
Lebih lanjut Edi juga menegaskan konsumsi makanan manis merupakan bagian dari pola asuh. Jika dibiasakan dengan makanan sehat maka akan lebih terjaga pola gizinya. “Inilah mengapa pola asuh, termasuk pemberian makanan yang akan menentukan apakah anak stunting atau tidak," ungkapnya.
Mengingat pentingnya memasukkan protein hewani dalam makanan anak sebagai cara untuk mencegah terjadinya stunting, bagaimanakah sebenarnya pemahanan orangtua terhadap hal ini? Lucia Nauli Simbolon menjelaskan, Masyarakat masih banyak yang belum berani memberikan makanan pertama protein hewani. “Orangtua ketika anak mulai MPASI selalu bertanya apakah makanan pertama tidak kuah dulu atau sayur dulu? Mereka menyakini makanan pertama anak adalah buah atau sayur daripada protein hewani,” kata dokter spesialis anak ini.
Baca Juga: Mengenal Apa Itu Stunting, Masalah Kesehatan yang Kerap Dialami Balita Indonesia
Padahal, sambung Lucia, anak membutuhkan nutrisi makro dan mikro. Makro dari karbohidrat, lemak dan protein. “Untuk karbohidrat, orang Indonesia suka nasi dan makanan yang manis. Padahal karbohidrat bisa juga diganti dengan ubi ungu atau kentang,“ jelasnya.
Untuk protein hewani bisa berasal dari ikan karena memiliki kadar DHA tinggi yang penting untuk otak. Tapi untuk pembentukan otot, Lucia menyebutkan daging merah dan ayam sebagai sumbernya. Sementara sumber lemak juga bukan hanya dari butter atau keju, tapi juga bisa santan. Menurut Lucia penting bagi orangtua untuk mengoptimalkan asupan protein hewani pada makan anak, dimana 20 persen adalah protein hewani dan 30 persen lemak juga wajib berasal dari hewani.
“Hitung prosi anak sekitar 20-25 gram protein hewani. Awal-awal ditimbang agar tahu misalnya berapa banyak ikan Lele yang harus diberikan untuk mendapatkan 25 gram protein hewani. Protein nabati itu bonus saja,“ sarannya.
Pentingnya pemberian asupan protein hewani juga sejalan dengan pedoman baru MPASI yang dikeluarkan WHO. Dalam keterangannya,WHO merekomendasikan pemberian ASI seharusnya dilanjutkan hingga usia 2 tahun. Pada bayi usia 6-11 bulan yang tidak mendapatkan ASI bisa diberikan susu formula atau susu hewani.
Adapun untuk anak berusia 12-23 bulan yang diberikan susu selain ASI, susu yang diberikan sebaiknya merupakan susu hewani. Dalam keterangannya disebutkan bahwa produk susu termasuk cairan susu hewani, adalah bagian dari pola makan beragam yang berkontribusi pada kecukupan gizi.
Hal yang juga penting dilakukan adalah mencegah terjadinya stunting. Kemenkes sendiri disebutkan Fauzi memiliki 11 intervensi spesifik untuk mencegah terjadinya stunting mulai dari masa kehamilan, sebelum lahir, dan setelah melahirkan. “Intervensinya bahkan dimulai sejak masih remaja putri, yaitu dengan memberikan tablet tambah darah (TTD) untuk mencegah anemia," ungkapnya.
Remaja putri dengan anemia tentunya akan berisiko mengalami anemi pada saat hamil bila tidak diobati. Inilah yang kemudian menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya stunting dari masa kehamilan. Untuk itu menurut Lucia, merencanakan kehamilan juga menjadi faktor penting dalam mencegah terjadinya stunting.
Lihat Juga :