alexametrics

Bisnis Doodle Art: Kompetisi No, Kolaborasi Yes

loading...
Bisnis Doodle Art: Kompetisi No, Kolaborasi Yes
Bisnis Doodle Art: Kompetisi No, Kolaborasi Yes. (Dok. Pribadi).
A+ A-
JAKARTA - Bagi sebagian anak muda, jenuh saat belajar biasanya dihabiskan untuk mencoret-coret di belakang buku. Namun, siapa sangka, coretan di kertas kosong tersebut dapat menghasilkan uang yang cukup menggiurkan, loh! Seperti coretan doodle art yang ternyata bisa dijadikan lahan bisnis baru. Seperti yang dilakukan oleh kedua founder brand doodle art ini, DOODLEINZIG dan Doodleganger.

Kenal lewat Hobi Menggambar
Rizal Vara Saputro dan Anggita Bayu, founder dari DOODLEINZIG, memulai bisnis doodle art mereka pada 2013. “Pada tahun itu saya kenal dengan Bayu lewat teman menggambar di Twitter karena kami awalnya sama-sama menyukai menggambar, khususnya doodle art. Setelah mengobrol dengan Bayu dan memulai bisnis dengan chat online, menentukan nama brand, konsep, dan lain-lain, akhirnya lahirlah sebuah brand yang kami bangun, yaitu DOODLEINZIG,” kata Rizal yang memulai usahanya saat awal masuk perkuliahan.

Produk-produk DOODLEINZIG seperti buff, jam tangan, tumblr, kaus kaki, topi, bucket hat, kemeja, polo shirt, t-shirt, hoodie, crewneck, enamel pin, dan case handphone dijual dengan kisaran Rp70.000–Rp260.000. “Pengalaman dalam bisnis ini tentu ekstra keras karena kami berdua harus mengeluarkan edisi terbaru dengan desain terbaru juga. Moto kami tidak akan memproduksi ulang desain yang pernah dibuat sebelumnya,” kata Rizal. Dari sini, Rizal dan Bayu harus mencari ide-ide baru untuk menjadi desain produk selanjutnya.



Berbisnis pastilah akan menemui aral lintang dalam setiap prosesnya. Seperti yang dialami dua cowok ini pada awal pembuatan brand. Ketika itu mereka belum memiliki pasar. Hingga pada akhirnya mereka menargetkan segmen pasar yang mencintai seni. Selain menentukan segmen pasar, kesulitan lain yang dirasakan Rizal dan Bayu adalah pembagian waktu keduanya.

Berkenalan lewat media sosial dan memiliki hobi yang sama dapat mengantarkan Rizal dan Bayu ke bisnis ini dengan omzet per bulan minimal Rp25 juta. Melalui bisnis ini, keduanya mendapatkan banyak ilmu yang tidak didapat di bangku kuliah.

“Pesan untuk anak-anak muda sekarang yang ingin menyalurkan hobinya (khususnya dalam bidang menggambar, doodle art, dan lain-lain), jangan takut untuk menunjukkan karyamu ke orang lain, khususnya ketika ada di publik. Jangan takut terhadap opini bahwa gambar kamu jelek karena menurut kami, tidak ada karya yang jelek karena setiap karya akan memiliki pasar tersendiri dan pasti memiliki sebuah nilai,“ kata cowok yang hobi mendengarkan musik ini.

Passion di Bidang Wirausaha
Tidak jauh berbeda dengan pengalaman Rizal dan Bayu dalam merintis bisnis doodle art, Dellana Arievta menyukai bercerita dan menulis, kemudian tulisan-tulisan tersebut diberi ilustrasi. “Passion-ku sejak sekolah dasar memang berwirausaha, menurun dari kakekku yang gemar mengulik dan ‘bikin-bikin’. Sempat beberapa kali membuat brand, aku akhirnya bertemu dengan teman-teman yang memiliki passion sama di Institut Seni Indonesia,” cerita Della.

Della memulai bisnis doodle art yang ia namai doodleganger ini dari membuat postcard dan dijual di stan milik temannya. “Bahkan, pernah cuma laku satu postcard. Awalnya malu untuk buka stan dan menghadapi pelanggan, tapi karena dukungan dari teman-teman, akhirnya mulai berani sewa stan sendiri dan pitching ke perusahaan retail untuk masuk toko,” katanya.

Produk-produk doodleganger milik Della seperti tote bag, pencil case, notebook, sticker pack, bros resin, dan lain-lain dijual berkisar Rp12.500–Rp150.000. “Satu produk yang paling berkesan prosesnya adalah bros resin. Ide ini muncul sewaktu sedang berdiskusi dengan dua dosen di kampus. Sepulangnya, aku langsung ke toko kimia dan beli bahan-bahan yang diperlukan, mencari bagaimana cara mencampur resin, dan melakukan eksperimen di berbagai permukaan. Dan akhirnya muncullah ide bros resin ini,” celoteh cewek yang kini tengah mengerjakan proyek lepas ini.

Menurut Della, semua produk merupakan hasil dari pengamatan dan modifikasi. Bagi Della, remaja seusianya sebaiknya jangan takut untuk mencoba, meniru, dan melakukan improvisasi. Itu karena tidak ada yang baru di dunia ini. Hal yang terpenting adalah anak-anak muda harus selalu berbagi apa yang mereka tahu dan mau meng-upgrade diri. “Karena sudah enggak zaman berkompetisi, ayo berkolaborasi!” ucap Della. (Nabilla Rizky Ramadhani/GEN SINDO/ Institut Pertanian Bogor)
(nfl)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak