Review Film Pasukan Semut: Cerita dari Tapal Batas

Rabu, 31 Januari 2024 - 13:07 WIB
loading...
A A A
Rizal ada di tengah sengkarut masalah yang sudah berlangsung selama puluhan tahun itu. Di tengah kesulitan ekonomi ditambah dengan kondisi ibunya yang sedang sakit membuat Rizal harus mengambil keputusan: main kucing-kucingan dengan “kacang ijo”.

Istilah ini diperuntukkan bagi para tentara Indonesia yang mengawal ketat sejumlah titik di perbatasan. Oleh karena itulah Rizal menangkut gula secara ilegal demi mendapatkan penghasilan yang cukup untuk biaya pengobatan ibunya. Namun keselamatannya menjadi pertaruhan dan hidupnya pun menjadi tak tenang.

Review Film Pasukan Semut: Cerita dari Tapal Batas

Foto: Gertak Film

Kita dipaksa oleh Haris masuk ke dalam hidup Rizal yang sempit di tengah negeri yang sedemikian luas hingga tak bisa terjangkau seluruhnya. Melalui storytelling yang menarik plus pengambilan gambar yang intens, kita tercebur ke dalam kubangan masalah di perbatasan bersama Rizal.

Melalui matanya, kita melihat bahwa pemerintah cenderung abai pada mereka yang hidup terlalu jauh dari pusat. Saya sendiri menyadari masalah itu ketika akhirnya tercebur ke dalam hidup masyarakat perbatasan. Bahwa negeri ini terlalu luas dan semakin diperburuk dengan kondisi wilayahnya yang terdiri dari 17 ribu pulau sehingga tak mudah dihubungkan satu sama lain.

Hidup memang sering kali hanya perlu dijalani, kadang tanpa kalkulasi berarti, sering kali juga tanpa konklusi apa pun seperti pilihan berani yang diambil oleh Haris untuk mengakhiri filmnya. Bahwa Rizal mungkin akan masih terus hidup dalam lingkaran setan kemiskinan dan terus berputar-putar di dalamnya, tanpa tahu cara untuk membebaskan diri darinya.

Bahwa banyak orang seperti Rizal yang masih mau mengambil risiko hidup merana di negeri sendiri ketimbang berpindah kewarganegaraan. Entah apa yang ada di kepala mereka yang memegang teguh ke-Indonesia-annya di tengah himpitan hidup mahasulit.

Review Film Pasukan Semut: Cerita dari Tapal Batas

Foto: Gertak Film

Pada suatu hati di Entikong pada 2011 itu, kami mengambil gambar sejumlah orang tua dan anak-anaknya memanggul hasil bumi yang bisa mereka panen menyusuri desa demi desa selama berjam-jam. Kelak hasil bumi itu dijual dan sebagian ditukar dengan kebutuhan mereka mulai dari mi instan, minyak goreng, hingga roti dan kue-kue yang menjadi kemewahan mereka.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dear You dan Ketakutan...
Dear You dan Ketakutan yang Salah Arah
Film Maatrubhumi Jadi...
Film Maatrubhumi Jadi Sorotan karena Angkat Isu Geopolitik
Terungkap! 3 Modus Propaganda...
Terungkap! 3 Modus Propaganda Disintegrasi yang Membonceng Film Pesta Babi
Rekomendasi
Roy Suryo Tegaskan Jokowi...
Roy Suryo Tegaskan Jokowi Harus Hadir di Pengadilan: Nggak Boleh Mengakali dengan Zoom
ONDA Bidik Kebutuhan...
ONDA Bidik Kebutuhan Renovasi Rumah dengan Sistem Terintegrasi
10 Fakta Menarik Grup...
10 Fakta Menarik Grup C Piala Dunia 2026: Maroko Ukir Sejarah, Vinicius Sentuh Rekor 3 Legenda Brasil
Berita Terkini
Haru, Alfatih Putra...
Haru, Alfatih Putra Mendiang Mpok Alpa Bawa Rapor ke Makam Sang Bunda Setelah Naik Kelas
Kronologi ART Angel...
Kronologi ART Angel Lelga Ketahuan Mencuri, Berawal dari Cari Barang yang Mau Dipakai
Sinopsis Microdrama...
Sinopsis Microdrama Fall Into Sweet Trap di V+Short, Nikah Kontrak Berujung Cinta
Di Tengah Popularitasnya,...
Di Tengah Popularitasnya, Arcelly Idol Ternyata Masih Bergantung pada Benda Ini
Polisi Tetapkan ART...
Polisi Tetapkan ART Angel Lelga sebagai Tersangka Kasus Dugaan Pencurian, Langsung Ditahan
Pecahkan Rekor, Ratusan...
Pecahkan Rekor, Ratusan Affiliator Lakukan Siaran Langsung Penjualan Bersama di Satu Lokasi
Infografis
Daftar Juara Liga Indonesia...
Daftar Juara Liga Indonesia dari Masa ke Masa: Persib Ukir Sejarah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved