Review Film A Shuttlecock to Tomorrow: Romansa nan Manis dan Tetap Sportif
Rabu, 21 Februari 2024 - 14:43 WIB
loading...
A
A
A
Masih lekat dalam ingatan film Garuda di Dadaku yang dirilis pada 2009. Kisah Bayu, siswa kelas 6 SD, yang punya cita-cita menjadi pemain sepak bola terinspirasi dari keinginan bapaknya dulu.
Keinginan Bayu ditentang Usman, kakeknya. Meski dilarang, Bayu tetap tidak pantang menyerah. Dia pun berhasil menjadi bagian dari Timnas U13 yang akan berhadapan dengan Jepang kala itu. Garuda Di Dadaku berhasil menyabet Piala Citra kategori Film Anak Terbaik FFI 2009 dan masuk di beberapa nominasi untuk aktor terbaik, penulis skenario terbaik, dan tata musik terbaik.
Selain Garuda Di Dadaku, ada juga 3 Srikandi. Orang yang awam mengenai cabang olahraga memanah menjadi tahu bahwa Indonesia pernah punya tiga orang atlet gemilang pada masanya. Terinspirasi dari kisah nyata, film ini menceritakan perjuangan Nurfitriyana (Bunga Citra Lestari), Lilies (Chelsea Islan) dan Kusuma (Tara Basro) saat merebut medall perak pertama dalam ajang Olimpiade Seoul 1988.
![Review Film A Shuttlecock to Tomorrow: Romansa nan Manis dan Tetap Sportif]()
Foto: Vidsee
Dalam film ini ada tokoh Donald Pandiangan, “Robin Hood Indonesia“, yang diperankan oleh Reza Rahadian. Donald adalah seorang atlet lawas yang kecewa kepada pemerintah karena batal bertanding di Olimpiade Musim Panas 1980 di Moskwa karena alasan politis.
Sesungguhnya, keadaan semacam itu realita yang terjadi dalam dunia olahraga Indonesia. Film-film Hollywood termasuk banyak menyuguhkan tema-tema olahraga dari aneka cabang olahraga dan sudut pandang tokoh yang berbeda.
Tidak hanya atlet, Home Team (2022) adalah salah satu yang bercerita tentang kisah nyata seorang pelatih, Sean Payton. Cerita mengambil latar waktu ketika Sean ditangguhkan oleh NFL selama setahun dan kembali ke kampung halamannya, menemui anak lelakinya yang berusia 12 tahun.
Invictus (2009) adalah salah satu yang sukses pada masanya dan berhasil masuk sebagai nomine Oscar 2009 kategori aktor terbaik dan pemeran pendukung pria terbaik. Kisahnya adalah nyata tentang Nelson Mandela setelah keluar dari penjara pada tahun 1990.
Baca Juga: CERMIN: Mercusuar Harapan Itu Bernama Imajinari
Empat tahun setelahnya, ketika dinobatkan sebagai Presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan, ia menanggapi isu rasisme dengan bekerja sama dengan kapten tim Rugby berkulit putih, Francois Pienaar, saat menjadi tuan rumah Rugby World Cup 1995.
Cerita tentang olahraga pada akhirnya bisa dikemas dalam sentuhan yang sangat elegan, disandingkan dengan isu sosial, ekonomi, maupun politis sehingga membuatnya jadi unik dan menarik. Tidak melulu mengambil sudut pandang atlet, tetapi bisa juga profesi agen olahraga, pelatih, hingga pensiunan atlet.
Semoga ke depan, Indonesia pun bisa punya cerita-cerita menarik seputar dunia olahraga yang menarik hati penontonnya.
Sari Agustia
Ibu rumah tangga yang gemar menulis cerita fiksi, sedang belajar menulis skenario, bergiat di ISP NULIS, bisa dikontak via Instagram @sari_agustia
Keinginan Bayu ditentang Usman, kakeknya. Meski dilarang, Bayu tetap tidak pantang menyerah. Dia pun berhasil menjadi bagian dari Timnas U13 yang akan berhadapan dengan Jepang kala itu. Garuda Di Dadaku berhasil menyabet Piala Citra kategori Film Anak Terbaik FFI 2009 dan masuk di beberapa nominasi untuk aktor terbaik, penulis skenario terbaik, dan tata musik terbaik.
Selain Garuda Di Dadaku, ada juga 3 Srikandi. Orang yang awam mengenai cabang olahraga memanah menjadi tahu bahwa Indonesia pernah punya tiga orang atlet gemilang pada masanya. Terinspirasi dari kisah nyata, film ini menceritakan perjuangan Nurfitriyana (Bunga Citra Lestari), Lilies (Chelsea Islan) dan Kusuma (Tara Basro) saat merebut medall perak pertama dalam ajang Olimpiade Seoul 1988.

Foto: Vidsee
Dalam film ini ada tokoh Donald Pandiangan, “Robin Hood Indonesia“, yang diperankan oleh Reza Rahadian. Donald adalah seorang atlet lawas yang kecewa kepada pemerintah karena batal bertanding di Olimpiade Musim Panas 1980 di Moskwa karena alasan politis.
Sesungguhnya, keadaan semacam itu realita yang terjadi dalam dunia olahraga Indonesia. Film-film Hollywood termasuk banyak menyuguhkan tema-tema olahraga dari aneka cabang olahraga dan sudut pandang tokoh yang berbeda.
Tidak hanya atlet, Home Team (2022) adalah salah satu yang bercerita tentang kisah nyata seorang pelatih, Sean Payton. Cerita mengambil latar waktu ketika Sean ditangguhkan oleh NFL selama setahun dan kembali ke kampung halamannya, menemui anak lelakinya yang berusia 12 tahun.
Invictus (2009) adalah salah satu yang sukses pada masanya dan berhasil masuk sebagai nomine Oscar 2009 kategori aktor terbaik dan pemeran pendukung pria terbaik. Kisahnya adalah nyata tentang Nelson Mandela setelah keluar dari penjara pada tahun 1990.
Baca Juga: CERMIN: Mercusuar Harapan Itu Bernama Imajinari
Empat tahun setelahnya, ketika dinobatkan sebagai Presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan, ia menanggapi isu rasisme dengan bekerja sama dengan kapten tim Rugby berkulit putih, Francois Pienaar, saat menjadi tuan rumah Rugby World Cup 1995.
Cerita tentang olahraga pada akhirnya bisa dikemas dalam sentuhan yang sangat elegan, disandingkan dengan isu sosial, ekonomi, maupun politis sehingga membuatnya jadi unik dan menarik. Tidak melulu mengambil sudut pandang atlet, tetapi bisa juga profesi agen olahraga, pelatih, hingga pensiunan atlet.
Semoga ke depan, Indonesia pun bisa punya cerita-cerita menarik seputar dunia olahraga yang menarik hati penontonnya.
Sari Agustia
Ibu rumah tangga yang gemar menulis cerita fiksi, sedang belajar menulis skenario, bergiat di ISP NULIS, bisa dikontak via Instagram @sari_agustia
(ita)
Lihat Juga :