CERMIN: Sebuah Pengucapan Baru dalam Sinema Dokumenter dari Tunisia

Sabtu, 24 Februari 2024 - 14:00 WIB
loading...
A A A
Sebagaimana dikutip dari The Guardian, semuanya berawal pada 2016. Saat itu seorang perempuan Tunisia bernama Olfa Hamrouni menulis di berita lokal tentang kegagalan negaranya dalam memerangi momok ISIS.

Setahun sebelumnya, dua putri sulungnya yang mengalami radikalisasi, Ghofrane dan Rahma Chikhaoui, melarikan diri untuk bergabung dengan kelompok tersebut di Libya. Tahun-tahun sebelumnya, Hamrouni berjuang membesarkan keempat putrinya – dua putri tertua, pemberontak dan berapi-api; dua orang termuda menjadi spons konflik.

Dengan materi cerita sekuat ini, Kaouther tak perlu bersusah payah mencari pengucapan baru. Tapi ia melakukan hal yang bisa jadi menurutnya perlu dilakukan. Ia menantang dirinya mencampurbaurkan realitas dan reka-ulang sebagaimana banyak pendekatan film dokumenter yang melakukan re-enactment (reka-ulang).


CERMIN: Sebuah Pengucapan Baru dalam Sinema Dokumenter dari Tunisia

Foto: Tanit Films

Dalam adegan pembuka yang mengejutkan, kita mendengar Kaouther membujuk Olfa bahwa jika ada adegan reka-ulang yang bakal terlalu menguras emosinya, maka ia menyediakan aktris profesional yang akan memerankan dirinya.

Selanjutnya kita tahu tak ada yang tak mungkin dalam Four Daughters. Sembari cerita terus mengalir dari mulut Olfa, Eya, dan Tayssir, kita juga melihat reka-ulang banyak peristiwa yang traumatis yang membuat ketiga narasumber tersebut tak bisa menahan emosinya. Berbeda dengan ibunya, Eya dan Tayssir kukuh untuk memainkan dirinya sendiri dalam semua adegan, sementara kedua kakak perempuan mereka dimainkan oleh aktris profesional.

Dengan keberanian Kaouther berpadu dengan betapa kompleksnya cerita yang dialami Olfa, Eya, dan Tayssir, maka kita tahu Four Daughters tak sekadar menjadi film dokumenter yang menyentak. Ia juga terasa revolusioner karena Kaouther memberanikan diri mendobrak pakem-pakem yang sebelumnya sudah banyak kita kenali dari sinema dokumenter.

Four Daughters adalah sebuah upaya dari Olfa mengunjungi kembali luka-luka yang masih menyakitkan baginya hingga hari ini. Sekaligus film ini juga menjadi terapi bagi dirinya untuk berdamai dengan apa pun pilihan yang diambil oleh kedua putri tertuanya, juga menjadi medium rekonsiliasi bagi ia dan kedua putrinya yang tersisa.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dear You dan Ketakutan...
Dear You dan Ketakutan yang Salah Arah
Film Maatrubhumi Jadi...
Film Maatrubhumi Jadi Sorotan karena Angkat Isu Geopolitik
Terungkap! 3 Modus Propaganda...
Terungkap! 3 Modus Propaganda Disintegrasi yang Membonceng Film Pesta Babi
Rekomendasi
Presiden Prabowo Jadi...
Presiden Prabowo Jadi Inspektur Upacara Peringatan Hari Bhayangkara di Cikeas
YHK Junior Padel Championship...
YHK Junior Padel Championship 2026 Jadi Ajang Lahirnya Atlet Muda Indonesia
OTT Kuansing, Bupati...
OTT Kuansing, Bupati Suhardiman Amby dan Sekda Zulkarnain Menyerahkan Diri ke KPK
Berita Terkini
Sunscreen Ringan Jadi...
Sunscreen Ringan Jadi Pilihan Perlindungan Kulit Harian di Iklim Tropis
Mencicipi Lima Abad...
Mencicipi Lima Abad Jakarta dari Meja Makan, Warisan Kuliner Peranakan di Kota Tua
GSDC 2026 di ICE BSD...
GSDC 2026 di ICE BSD Perkuat Posisi Indonesia dalam Industri MICE Berkelanjutan
Usia 30-an Lutut Mulai...
Usia 30-an Lutut Mulai Rewel? Mengapa Welmove Bukan Hanya Suplemen untuk Orang Tua
My Devil President:...
My Devil President: Microdrama CEO yang Penuh Plot Twist
Sinopsis Microdrama...
Sinopsis Microdrama Swift Vows Love Story Unfolds di V+Short, Kisah Cinta CEO
Infografis
Daftar Juara Liga Indonesia...
Daftar Juara Liga Indonesia dari Masa ke Masa: Persib Ukir Sejarah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved