Mengenal Tradisi Dugderan, Dirayakan Masyarakat Semarang Jelang Ramadan
Jum'at, 01 Maret 2024 - 21:33 WIB
loading...
A
A
A
Diketahui, dugderan merupakan perpaduan tiga etnis yang mendominasi masyarakat Semarang, yakni Jawa, China dan Arab. Nama dugderan diambil dari suara bedug yang ditabuh, yakni 'dug' dan 'der'.
Tradisi ini adalah menabuh bedug sebagai pertanda dimulainya bulan Ramadan. Tradisi ini diramaikan dengan ikon berupa warak ngendhog, yakni atraksi replikasi hewan berkaki empat, namun berkepala mirip naga.
Baca Juga: 7 Lagu Galau Ed Sheeran di Konser Jakarta, Singgung soal Kehidupan dan Cinta
Tradisi ini biasanya dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat yang tinggal di Kota Semarang dan dilakukan untuk merayakan keanekaragaman etnis, budaya, kuliner, dan seni yang ada di Semarang.
Biasanya karnaval ini berawal dari halaman Kantor Balai Kota sampai Masjid Agung Semarang tersebut nantinya akan dilanjutkan dengan pembacaan suhuf halaqah dan penabuhan bedug.
Tradisi ini adalah menabuh bedug sebagai pertanda dimulainya bulan Ramadan. Tradisi ini diramaikan dengan ikon berupa warak ngendhog, yakni atraksi replikasi hewan berkaki empat, namun berkepala mirip naga.
Baca Juga: 7 Lagu Galau Ed Sheeran di Konser Jakarta, Singgung soal Kehidupan dan Cinta
Tradisi ini biasanya dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat yang tinggal di Kota Semarang dan dilakukan untuk merayakan keanekaragaman etnis, budaya, kuliner, dan seni yang ada di Semarang.
Biasanya karnaval ini berawal dari halaman Kantor Balai Kota sampai Masjid Agung Semarang tersebut nantinya akan dilanjutkan dengan pembacaan suhuf halaqah dan penabuhan bedug.
(tdy)
Lihat Juga :