Review Film Joko: Relasi Kuasa, Pedofilia, dan Kecemerlangan Rukman Rosadi

Rabu, 06 Maret 2024 - 13:28 WIB
loading...
A A A
Biasanya predator bisa 'bekerja' dengan leluasa karena ada sebuah sistem yang rapat melindungi nafsu jahanamnya. Totok diperlihatkan pula sejak awal punya karyawati yang seakan mendukung kejahatan seksual yang dilakukan bosnya itu.

Di sini pun sesungguhnya relasi kuasa berlaku. Penyebabnya karena si karyawati terpaksa harus mengikuti permainan bosnya agar tetap bisa bekerja dan mencari nafkah untuk keluarganya.

Nomine Film Pendek Terbaik Festival Film Indonesia 2018 arahan Suryo Wiyogo ini seakan menjadi jawaban dari film Women From Rote Island yang dianggap memunculkan sudut pandang “male gaze”, ketika sebuah film memotret kekerasan seksual yang melanda korban perempuan yang dirakit oleh sutradara laki-laki.

Sementara Joko menjadi sebuah tawaran menarik sekaligus diskursus penting bahwa sering kali pun korban adalah laki-laki yang bisa saja lebih tak berani bersuara karena terlampau menanggung malu tak tertahankan.

Joko bekerja istimewa terutama karena reaksi kimiawi dari dua pemeran utamanya yang kebetulan adalah bapak dan anak dalam kehidupan sehari-hari. Rukman Rosadi bisa jadi adalah the next Lukman Sardi yang selalu bisa berakting cemerlang dalam peran sekecil apa pun dan selalu bisa mencuri perhatian bahkan dalam film yang berkualitas buruk.

Joko memberinya panggung besar untuk memperlihatkan bahwa nafsu hewani tak perlu melulu diperlihatkan secara beringas, superfisial, dan akhirnya tertebak. Sebagai Totok, sedari awal kita jijik melihat bagaimana Totok menyeringai, memandang penuh nafsu, dan berdialog yang selalu berusaha memperlihatkan bahwa dirinya berada di atas daripada mangsanya.

Sementara Elang El Gibran yang mencuri perhatian sebagai Basuki dalam dwilogi Srimulat: Hil yang Mustahal adalah seorang aktor masa depan negeri ini. Sebagaimana ayahnya, Elang juga membiarkan dirinya dirasuki Joko, membiarkan dirinya menjadi korban kebejatan dari laki-laki berkuasa dan merasa tak punya daya untuk melawannya.

Review Film Joko: Relasi Kuasa, Pedofilia, dan Kecemerlangan Rukman Rosadi

Foto:Hide Project Films

Sebagaimana dalam Women From Rote Island, sering kali yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari adalah korban yang memilih diam, memilih untuk menutup babak dari pengalaman traumatik itu, dan mencoba berdamai dengannya yang akan dilakukan sekuatnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dear You dan Ketakutan...
Dear You dan Ketakutan yang Salah Arah
Film Maatrubhumi Jadi...
Film Maatrubhumi Jadi Sorotan karena Angkat Isu Geopolitik
Terungkap! 3 Modus Propaganda...
Terungkap! 3 Modus Propaganda Disintegrasi yang Membonceng Film Pesta Babi
Rekomendasi
Pelimpahan Berkas Perkara...
Pelimpahan Berkas Perkara Febrie Dinilai Tindakan Rasional
Transaksi Serba Digital,...
Transaksi Serba Digital, Pembelian Token Listrik Semakin Praktis
Ramalan Juni Indonesia...
Ramalan Juni Indonesia Kolaps, Prabowo: Ini Udah Juli!
Berita Terkini
Berawal dari Iseng Main...
Berawal dari Iseng Main TikTok, Ini Perjalanan Sukses Kreator Konten Nickysya
Obat Kuat dengan Efek...
Obat Kuat dengan Efek hingga 3 Hari, Amankah? Yuk Kenali Faktanya Sebelum Mengkonsumsi
Bring Back My Heart...
Bring Back My Heart Jadi Pilihan Microdrama Romantis yang Seru di V+Short
Terinspirasi Rafathar,...
Terinspirasi Rafathar, Nagita Slavina Gelar Kompetisi Basket SMA
Nathalie Holscher Ungkap...
Nathalie Holscher Ungkap Alasan Mantap Nikahi Arief Fadli
Sinopsis Hotter Than...
Sinopsis Hotter Than Hate, Microdrama Revenge Plot yang Tayang di V+Short
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved