CERMIN: Amerika Seharusnya Sudah Punya Presiden Perempuan sejak 1972

Sabtu, 23 Maret 2024 - 08:36 WIB
loading...
CERMIN: Amerika Seharusnya...
Film Shirley menampilkan politikus perempuan Afrika-Amerika pertama yang menjadi anggota kongres pada akhir 1960-an. Foto/Netflix
A A A
JAKARTA - Pada 23 Juli 2001, Majelis Permusyawaratan Rakyat mencopot Abdurrahman Wahid sebagai Presiden Republik Indonesia dan lantas mendudukkan Megawati sebagai perempuan pertama yang menduduki jabatan tertinggi di negeri ini.

Namunketika mencoba bertarung kembali dalam pemilihan presiden tahun 2004, Megawati kalah telak dari Susilo Bambang Yudhoyono.

Begitupun dalam soal kepresidenan, Indonesia melampaui yang sudah diupayakan Amerika sejak puluhan tahun silam. Ketika Shirley Chisholm terpilih sebagai perempuan Afrika-Amerika pertama yang menjadi anggota kongres, maka pintu-pintu mulai terbuka sedikit demi sedikit atas ide datangnya presiden perempuan.

Baca Juga: CERMIN: Alien akan Datang ke Bumi 400 Tahun Lagi

Shirley menenun ide-ide itu sejak tahun 1972, 29 tahun sebelum Megawati mencatat sejarah di Indonesia.

Menyaksikan film Shirley yang tayang di Netflix sejatinya adalah menyaksikan bagaimana sejarah sedang coba dirakit. Meski kita semua tahu ujung cerita ini akan seperti apa, tapi sutradara John Ridley memberi ruang terutama bagi generasi muda untuk tahu bahwa perempuan-perempuan pendobrak seperti Shirley perlu diingat kembali hari-hari ini.

CERMIN: Amerika Seharusnya Sudah Punya Presiden Perempuan sejak 1972

Foto: Netflix

Film dibuka dengan efektif memperlihatkan bagaimana Shirley terpilih dan membuat sejarah di kongres, juga bagaimana ia didukung sepenuhnya oleh sang suami, Conrad. Masuknya Shirley ke kongres juga menyalakan bara yang selama ini mendekam cukup lama di tubuhnya.

Ia tahu sebagai perempuan, sebagai keturunan Afrika-Amerika, sebagai minoritas, maka Shirley akan menempuh perjuangan hingga tiga kali lebih sulit dari yang dijalaninya koleganya, para laki-laki kulit putih.

Tapi ia sudah memperhitungkan semuanya dan terus menggemakan “give politics back to the people”, kembalikan politik kepada rakyat. Sebuah pemikiran yang penuh idealisme tapi mungkin pula bisa terdengar begitu utopis.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dear You dan Ketakutan...
Dear You dan Ketakutan yang Salah Arah
Film Maatrubhumi Jadi...
Film Maatrubhumi Jadi Sorotan karena Angkat Isu Geopolitik
Terungkap! 3 Modus Propaganda...
Terungkap! 3 Modus Propaganda Disintegrasi yang Membonceng Film Pesta Babi
Rekomendasi
Rangkaian Kegiatan MPLS...
Rangkaian Kegiatan MPLS SD, SMP, dan SMA/SMK 2026, Orang Tua Wajib Tahu!
Nasib Belang Gurita...
Nasib Belang Gurita Bisnis Arab di Tengah Perang: Ada yang Boncos hingga Mendadak Kaya
Mengapa Orang Baik Memilih...
Mengapa Orang Baik Memilih Diam?
Berita Terkini
Komedian Temon Meninggal...
Komedian Temon Meninggal Dunia, Aldi Taher: Saya Bersaksi Abang Orang Baik
Febrie Adriansyah Jadi...
Febrie Adriansyah Jadi Tersangka, Nikita Mirzani Minta Jaksa yang Tangani Kasusnya Diusut
Kabar Duka, Komedian...
Kabar Duka, Komedian Temon Meninggal Dunia
Celine Evangelista Bantah...
Celine Evangelista Bantah Isu Jadi Istri Kelima, Akui Sudah Punya Pasangan
Erin Wartia Buka Suara...
Erin Wartia Buka Suara soal Ajakan Damai Mantan ART, Singgung Gugatan Rp1,1 Miliar
Usai Gugat Hak Asuh...
Usai Gugat Hak Asuh Anak, Pertemuan Ruben Onsu dan Sarwendah Mendadak Dibatalkan
Infografis
Rp603 Triliun Milik...
Rp603 Triliun Milik Amerika Serikat Habis Terbakar di Langit Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved