CERMIN: Ellyas Pical, di Balik Juara Dunia Hebat Ada Ibu yang Tak Henti Berdoa
Jum'at, 05 April 2024 - 09:25 WIB
loading...
A
A
A
Jika membaca kisah hidup Elly sebenarnya, kita tahu adegan dramatis ini direkayasa dan memang dibutuhkan oleh cerita agar kita bisa langsung bersimpati dengan Elly sejak awal. Pendekatan yang diambil penulis skenario Alim Sudio ini berhasil.
Di tangan Bimasena yang mencuri perhatian sejak film Waktu Maghrib, kita tahu bahwa ada sesuatu yang istimewa dari anak yang terbata-bata ketika disuruh membaca di depan kelas itu.
![CERMIN: Ellyas Pical, di Balik Juara Dunia Hebat Ada Ibu yang Tak Henti Berdoa]()
Foto: Prime Video
Dalam sebuah adegan yang sebenarnya juga klise, Elly diperlihatkan mencoba membantu seorang anak yang sedang dirundung oleh beberapa anak lainnya. Kita tahu adegan ini juga diperlukan untuk memperlihatkan bakat alamiah Elly dalam berkelahi.
Adegan klise ini juga efektif untuk terus membangun perspektif mengenai bagaimana Elly kelak puluhan tahun kemudian, setelah ia ikut menyaksikan pertandingan tinju di sebuah warung yang menyiarkan Muhammad Ali.
Yang menarik dari biopik ini adalah betapa leluasanya kreator diberi ruang untuk memperlihatkan bagaimana manusiawinya Ellyas Pical. Bandingkan dengan Susi Susanti: Love All yang terasa terlalu bersih dari skandal apa pun.
Ellyas Pical justru membiarkan kehidupan dirinya ditelanjangi secukupnya. Ketika ia sudah menjadi juara dunia dan bertaburan harta, Elly sempat merasakan ujian dari alkohol hingga perempuan dan membuatnya berpaling sejenak dari latihan tinju.
Namun yang membuat Ellyas Pical terasa dekat bagi siapa pun hingga hari ini adalah bagaimana kedekatannya dengan ibunya, Mama Ana, yang menjadi pilar utama hidupnya. Mama Ana adalah sebaik-baiknya seorang ibu buat anak semata wayang.
Seorang ibu yang dengan kasih sayangnya yang sering kali terasa berlebihan, justru tak menginginkan anaknya mengambil risiko apa pun.
![CERMIN: Ellyas Pical, di Balik Juara Dunia Hebat Ada Ibu yang Tak Henti Berdoa]()
Foto: Prime Video
Di tangan Bimasena yang mencuri perhatian sejak film Waktu Maghrib, kita tahu bahwa ada sesuatu yang istimewa dari anak yang terbata-bata ketika disuruh membaca di depan kelas itu.

Foto: Prime Video
Dalam sebuah adegan yang sebenarnya juga klise, Elly diperlihatkan mencoba membantu seorang anak yang sedang dirundung oleh beberapa anak lainnya. Kita tahu adegan ini juga diperlukan untuk memperlihatkan bakat alamiah Elly dalam berkelahi.
Adegan klise ini juga efektif untuk terus membangun perspektif mengenai bagaimana Elly kelak puluhan tahun kemudian, setelah ia ikut menyaksikan pertandingan tinju di sebuah warung yang menyiarkan Muhammad Ali.
Yang menarik dari biopik ini adalah betapa leluasanya kreator diberi ruang untuk memperlihatkan bagaimana manusiawinya Ellyas Pical. Bandingkan dengan Susi Susanti: Love All yang terasa terlalu bersih dari skandal apa pun.
Ellyas Pical justru membiarkan kehidupan dirinya ditelanjangi secukupnya. Ketika ia sudah menjadi juara dunia dan bertaburan harta, Elly sempat merasakan ujian dari alkohol hingga perempuan dan membuatnya berpaling sejenak dari latihan tinju.
Namun yang membuat Ellyas Pical terasa dekat bagi siapa pun hingga hari ini adalah bagaimana kedekatannya dengan ibunya, Mama Ana, yang menjadi pilar utama hidupnya. Mama Ana adalah sebaik-baiknya seorang ibu buat anak semata wayang.
Seorang ibu yang dengan kasih sayangnya yang sering kali terasa berlebihan, justru tak menginginkan anaknya mengambil risiko apa pun.

Foto: Prime Video
Lihat Juga :