Review Film Challengers, Cerita Seksi tentang Cinta dan Tenis
Jum'at, 26 April 2024 - 12:52 WIB
loading...
A
A
A
Patrick lebih luwes bersosialisasi, bisa dibilang playboy dan bad boy yang berani mengambil risiko.Sedangkan Art, meski pada akhirnya masuk kampus bergengsi Stanford, serba ada di belakang Patrick dalam hal apa pun, termasuk kemampuan bermain tenis.
Hingga akhirnya muncul Tashi Duncan (Zendaya), petenis ambisius yang seksi di dalam dan luar lapangan. Patrick dan Art sama-sama terpikat, dan keduanya terang-terangan menampakkannya.
Yang terjadi berikutnya adalah penonton menyaksikan betapa lihainya penulis skenario Justin Kuritzkes merangkai cerita. Dengan membuat alur yang dinamis, maju-mundur berkali-kali, penonton diajak ikut merangkai opini mereka tentang Art, Tashi, dan Patrick.
Dalam satu masa, mungkin kita akan terkagum-kagum dengan Tashi. Namun ketika mundur kembali ke belakang, mungkin kita akan sebal dengannya dan menyadari bahwa ia adalah sosok pengendali yang manipulatif, lalu kita berbalik bersimpati dengan Patrick. Namun seiring pecahan-pecahan cerita terkumpul, opini kita bisa jadi akan berubah-ubah lagi.
Satu yang menonjol dari penceritaan Challengers adalah betapa sutradara dan penulis mampu memasukkan unsur seksi dalam banyak adegannya, tanpa harus membuat film ini jadi terkesan murahan atau menjadi film erotis.
![Review Film Challengers, Cerita Seksi tentang Cinta dan Tenis]()
Foto: Warner Bros. Pictures
Rekam jejak Luca Guadagnino dan Justin Kuritzkes memang berperan besar dalam hal ini. Luca dikenal punya ciri khas menampilkan sensualitas, karakter yang kompleks, serta visual indah dlaam film-filmnya.
Hingga akhirnya muncul Tashi Duncan (Zendaya), petenis ambisius yang seksi di dalam dan luar lapangan. Patrick dan Art sama-sama terpikat, dan keduanya terang-terangan menampakkannya.
Yang terjadi berikutnya adalah penonton menyaksikan betapa lihainya penulis skenario Justin Kuritzkes merangkai cerita. Dengan membuat alur yang dinamis, maju-mundur berkali-kali, penonton diajak ikut merangkai opini mereka tentang Art, Tashi, dan Patrick.
Dalam satu masa, mungkin kita akan terkagum-kagum dengan Tashi. Namun ketika mundur kembali ke belakang, mungkin kita akan sebal dengannya dan menyadari bahwa ia adalah sosok pengendali yang manipulatif, lalu kita berbalik bersimpati dengan Patrick. Namun seiring pecahan-pecahan cerita terkumpul, opini kita bisa jadi akan berubah-ubah lagi.
Satu yang menonjol dari penceritaan Challengers adalah betapa sutradara dan penulis mampu memasukkan unsur seksi dalam banyak adegannya, tanpa harus membuat film ini jadi terkesan murahan atau menjadi film erotis.

Foto: Warner Bros. Pictures
Rekam jejak Luca Guadagnino dan Justin Kuritzkes memang berperan besar dalam hal ini. Luca dikenal punya ciri khas menampilkan sensualitas, karakter yang kompleks, serta visual indah dlaam film-filmnya.
Lihat Juga :