Sejarah Tanjidor, Musik Khas Betawi yang Menghibur di Halal Bihalal IKA UII
Minggu, 28 April 2024 - 22:05 WIB
loading...
A
A
A
1. Sejarah Tanjidor
Tanjidor bermula dari Ernst Heinz, ahli musik dari Belanda mengadakan penelitian musik rakyat di pinggiran Kota Jakarta pada 1974, tanjidor berasal dari para budak ditugaskan bermain musik untuk para tuannya. Tanjidor juga merupakan orkes budak pada masa kompeni.
Para pejabat petinggi Belanda pada masa lalu membangun vila-vila di Cililitan Besar, Pondok Gede, Tanjung Timur, Ciseeng, dan Cimanggis. Di vila-vila tersebut terdapat beberapa budak dan para budak tersebut memiliki kemampuan memainkan alat musik.
Budak-budak itu memainkan alat musik dan menghibur tuannya saat pesta dan jamuan makan. Pada 1860, perbudakan dihapuskan. Para budak yang merdeka pun berinisiatif membentuk perkumpulan musik dan terkenal. Perkumpulan musik tersebut diberi nama Tanjidor.
Tanjidor berkembang di daerah pinggiran Jakarta, Depok, Cibinong, Citeureup, Cileungsi, Jonggol, Parung, Bogor, Bekasi dan Tangerang. Di daerah-daerah tersebut, biasanya orkes Tanjidor membawakan lagu yang berjudul Batalion, Kramton, Bananas, Delsi, Was Tak-tak, Welmes, Cakranegara. Judul-judul lagu itu 'berbau' Belanda, meskipun dengan ucapan Betawi.
Lagu-lagu Tanjidor kemudian berkembang dengan membawakan lagu khas Betawi seperti Jali-Jali, Surilang, Sirih Kuning, Kicir-Kicir, Cente Manis, Stambul, Persi serta lagu-lagu Sunda, seperti Kang Haji, Sulanjana, Daun Pulus dan sebagainya.
Tanjidor bermula dari Ernst Heinz, ahli musik dari Belanda mengadakan penelitian musik rakyat di pinggiran Kota Jakarta pada 1974, tanjidor berasal dari para budak ditugaskan bermain musik untuk para tuannya. Tanjidor juga merupakan orkes budak pada masa kompeni.
Para pejabat petinggi Belanda pada masa lalu membangun vila-vila di Cililitan Besar, Pondok Gede, Tanjung Timur, Ciseeng, dan Cimanggis. Di vila-vila tersebut terdapat beberapa budak dan para budak tersebut memiliki kemampuan memainkan alat musik.
Budak-budak itu memainkan alat musik dan menghibur tuannya saat pesta dan jamuan makan. Pada 1860, perbudakan dihapuskan. Para budak yang merdeka pun berinisiatif membentuk perkumpulan musik dan terkenal. Perkumpulan musik tersebut diberi nama Tanjidor.
Tanjidor berkembang di daerah pinggiran Jakarta, Depok, Cibinong, Citeureup, Cileungsi, Jonggol, Parung, Bogor, Bekasi dan Tangerang. Di daerah-daerah tersebut, biasanya orkes Tanjidor membawakan lagu yang berjudul Batalion, Kramton, Bananas, Delsi, Was Tak-tak, Welmes, Cakranegara. Judul-judul lagu itu 'berbau' Belanda, meskipun dengan ucapan Betawi.
Lagu-lagu Tanjidor kemudian berkembang dengan membawakan lagu khas Betawi seperti Jali-Jali, Surilang, Sirih Kuning, Kicir-Kicir, Cente Manis, Stambul, Persi serta lagu-lagu Sunda, seperti Kang Haji, Sulanjana, Daun Pulus dan sebagainya.
Lihat Juga :