alexametrics

Kini, Menyantap Ayam Bakakak Tak Perlu Menunggu Momen Tertentu

loading...
Kini, Menyantap Ayam Bakakak Tak Perlu Menunggu Momen Tertentu
Mak Elim tengah sibuk memanggang ayam bakakak yang menjadi pesanan pelanggannya. Dengan mempertahankan cita rasa dan pengolahan secara tradisional, kedainya menjadi salah satu yang paling diburu pecinta kuliner. / Foto: KoranSINDO/Asep Supiandi
A+ A-
PURWAKARTA - Ayam bakakak merupakan salah satu penganan khas istimewa di Tanah Pasundan. Mengapa istimewa? Karena dulu penganan itu hanya bisa disaksikan dan disantap pada momen tertentu, seperti hajatan atau tasyakuran sebagai bentuk syukur kepada Yang Maha Kuasa.

Didasari kekhususan penyajiannya di hari-hari istimewa, maka di Kabupaten Purwakarta seolah ingin menciptakan setiap waktu itu adalah waktu istimewa. Maka, ayam bakakak bisa ditemukan dengan mudah dan dapat disantap dimana dan kapan saja. Tidak hanya dinikmati ketika ada acara khitanan, pernikahan maupun hajat lembur saja.

Prinsipnya, ayam bakakak sama dengan penganan ayam bakar lainnnya. Pengistilahan bakakak sebenarnya bukanlah nama spesies ayam yang digunakan. Lalu kenapa makanan ini dinamakan ayam bakakak? Hal itu disebabkan pada masa lalu, masyarakat sering menyajikan ayam ini secara utuh tanpa dipotong-potong terlebih dahulu.



Dahulu, ayam bakakak ditaruh di atas piring yang berukuran besar dengan posisinya yang terlentang ke atas kemudian dihiasi dengan hiasan menarik. Sampai di sini tentunya Anda sudah bisa membayangkan seperti apa ayam bakakak ini.

Berbeda dengan sate maranggi yang sudah go internasional, sehingga banyak varian bumbu sebagai pilihan selera, gerai-gerai ayam bakakak di Purwakarta masih tetap mempertahankan bumbu asli bakakak. Dalam penyajiannya seolah ingin menonjolkan cita rasa natural dengan sedikit asin.

Menyantap ayam bakakak bersama nasi timbel tentu memberikan sensasi tersendiri di saat perut sedang keroncongan. Suap demi suap akan terus menyibukan gigi dan tenggorokan untuk mengunyah dan menelan penganan itu. Terlebih ayam bakakak dengan bumbu sederhana seperti kunyit dan ketumbar bakal menggugah selera makan. Apalagi sambal hijau yang khas menjadi pelengkap dari ayam bakakak kita santap. Sambal yang tidak terlalu pedas ini menjadi pembeda dengan ayam bakakak dari wilayah lain di Jawa Barat.

Salah satu dari sekian banyak penjual ayam bakakak adalah Ma Elim (75) di jalur Plered-Cirata, Purwakarta yang terbilang senior dalam usaha kuliner ayam bakakak. Tidak tanggung-tanggung, perempuan renta ini sudah 30 tahun menggeluti usahanya itu. Dia termasuk konsisten dalam cara pengolahan ayam bakakaknya.

Dengan keuletan serta mempertahankan cara memasak yang masih menggunakan cara tradisional, dia mampu mempertahankan pelanggan setianya yang setiap akhir pekan pasti datang ke kedainya. "Pelanggan tak akan lari ke mana. Asalkan bakakak disajikan dengan cita rasa yang terjaga," ucap dia meyakinkan.

Dia menyebutkan, dalam sehari mampu menjual antara 50-100 potong ayam kampung yang sudah dibakar. Bahkan, jika akhir pekan dagangannya bisa lebih banyak lagi terjual. Satu ekor ayam kampung yang sudah dibakar ini terbilang sangat murah, yakni dari mulai Rp30.000/ekor sampai Rp70.000/ekor.
(nug)
preload video
loading...
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak