3 Romantisisme Lebay yang Sering Kita Lihat dalam Film Percintaan
Jum'at, 21 Agustus 2020 - 18:21 WIB
loading...
A
A
A
Ada juga tendensi berupa menunjukkan kasih sayang dengan barang-barang dan materi yang berlebihan. Kamu masih mendambakan pernikahan bernilai miliaran a la selebritas karena romantis? Cobalah tanya pada hati kecilmu, apakah romantisme dalam hubungan hanya bisa diukur dari materi?
Hubungan antarmanusia adalah suatu hal yang sifatnya personal. Segala hal yang menyangkut ideal-tidaknya itu bersifat relatif. Gak ada satu standar absolut yang bisa dijadikan parameter untuk menilai kualitas sebuah hubungan.
Kalau standar semu ini ditelan mentah-mentah, budaya pop malah mendikte laki-laki dan perempuan untuk menjadi sesuatu yang bukan diri mereka sendiri.
Sering kali, itu membuat banyak orang memaksakan dirinya maupun pasangan untuk mengikuti standar yang sebenarnya gak sesuai dengan kondisi mereka.
Padahal esensi sebuah hubungan bukan pada hal-hal romantisisme seperti itu, melainkaan pada kemampuan untuk berkompromi, toleransi, dan saling menyayangi. (Baca Juga: Selena Gomez: Cinta Pertama Bisa Jadi Toxic )
2. CEWEK PASIF, COWOK AKTIF
![3 Romantisisme Lebay yang Sering Kita Lihat dalam Film Percintaan]()
Foto: Getty Images
Di dalam hubungan, cowok hampir selalu diidentikkan menjadi sosok inisiator, seperti harus jadi yang pertama mengajak berkencan, yang pertama menyatakan perasaan, sampai yang menginisiasi first kiss. Di sisi lain, cewek diidentikkan sebagai sosok pasif yang menerima inisiasi-inisiasi dari cowok, misalnya menerima ajakan berkencan.
Si cewek bakal ikut aja ke mana si cowok membawanya saat kencan pertama. Dia juga gak harus membayar makan malam saat kencan, yang membalas pernyataan perasaan (bukan menyatakan duluan), dan menyambut (atau menolak) inisiasi first kiss. Gak sedikit cewek yang gak mau make a move duluan ke pujaan hatinya dengan berlindung di balik ujaran “Masa' cewek duluan?”
Nah, hal-hal ini seharusnya gak ada dalam hubungan. Jalannya sebuah hubungan adalah tanggung jawab kedua belah pihak. Kalau yang cewek cuma diam aja dan memendam perasaan, dari mana cowok bisa tahu apa yang cewek rasakan? Laki-laki, kan, bukan cenayang yang bisa tahu segala hal sendiri.
Hubungan antarmanusia adalah suatu hal yang sifatnya personal. Segala hal yang menyangkut ideal-tidaknya itu bersifat relatif. Gak ada satu standar absolut yang bisa dijadikan parameter untuk menilai kualitas sebuah hubungan.
Kalau standar semu ini ditelan mentah-mentah, budaya pop malah mendikte laki-laki dan perempuan untuk menjadi sesuatu yang bukan diri mereka sendiri.
Sering kali, itu membuat banyak orang memaksakan dirinya maupun pasangan untuk mengikuti standar yang sebenarnya gak sesuai dengan kondisi mereka.
Padahal esensi sebuah hubungan bukan pada hal-hal romantisisme seperti itu, melainkaan pada kemampuan untuk berkompromi, toleransi, dan saling menyayangi. (Baca Juga: Selena Gomez: Cinta Pertama Bisa Jadi Toxic )
2. CEWEK PASIF, COWOK AKTIF

Foto: Getty Images
Di dalam hubungan, cowok hampir selalu diidentikkan menjadi sosok inisiator, seperti harus jadi yang pertama mengajak berkencan, yang pertama menyatakan perasaan, sampai yang menginisiasi first kiss. Di sisi lain, cewek diidentikkan sebagai sosok pasif yang menerima inisiasi-inisiasi dari cowok, misalnya menerima ajakan berkencan.
Si cewek bakal ikut aja ke mana si cowok membawanya saat kencan pertama. Dia juga gak harus membayar makan malam saat kencan, yang membalas pernyataan perasaan (bukan menyatakan duluan), dan menyambut (atau menolak) inisiasi first kiss. Gak sedikit cewek yang gak mau make a move duluan ke pujaan hatinya dengan berlindung di balik ujaran “Masa' cewek duluan?”
Nah, hal-hal ini seharusnya gak ada dalam hubungan. Jalannya sebuah hubungan adalah tanggung jawab kedua belah pihak. Kalau yang cewek cuma diam aja dan memendam perasaan, dari mana cowok bisa tahu apa yang cewek rasakan? Laki-laki, kan, bukan cenayang yang bisa tahu segala hal sendiri.
Lihat Juga :