Review Film Joker 2, Tayang 2 Oktober di Bioskop
Rabu, 02 Oktober 2024 - 09:43 WIB
loading...
A
A
A
Lee mendampingi Arthur dalam persidangan. Ia juga selalu meyakinkan Arthur bahwa Joker memang ada dalam diri kekasihnya itu, dan ia harus mengeksplorasi sisi liarnyatersebut.
Joker 2 melanjutkan kondisi psikologis Arthur yang sulit membedakan antara fakta dan fantasi. Sepanjang filmnya, kita pun selalu ditunjukkan kondisi Arthur yang mempertanyakan kepada dirinya sendiri, apakah ia Arthur ataukah Joker.
Di awal-awal film, ia berperilaku seperti Arthur yang minderan, murung, hidup tanpa energi, dan cenderung mengikuti peraturan di rumah sakit-penjara Arkham. Namun dalam momen-momen tertentu, sosok Joker yang liar kerap muncul.
Sisi Joker ini makin menemukan tempatnya saat ia bertemu dengan Lee. Perempuan itu bak katalis yang ingin Joker segera bangkit dan mengambil alih sepenuhnya tubuh dan pikiran Arthur.
![Review Film Joker 2, Tayang 2 Oktober di Bioskop]()
Foto: Warner Bros. Pictures
Lee digambarkan sebagai sosok 'gelap' yang sangat manipulatif. Demi citra ini, karakter yang dimaksudkan sebagai Harley Quinn tersebut juga digambarkan jauh berbeda dengan komiknya.
Tak ada ciri khas Harley Quinn yang doyan mengunyah permen karet, cerewet, dan gemar berpakaian seksi. Ia berubah menjadi sosok yang terlihat lemah, padahal cerdas dan ambisius.
Saat emosinya dipermainkan Lee, Joaquin Phoenix sebagai Arthur juga dengan lihainya bolak-balik menunjukkan ekspresinya sebagai Arthur, lalu sebagai Joker. Jika ia sedang menjadi Joker, Arthur akan lebih ekspresif, menari dan menyanyi sepuas hati.
Dalam Joker 2, Todd Phillips yang menulis skenarionya bersama Scott Silver juga memindahkan kondisi sosial nyata ke dalam layar. Ia misalnya, menampilkan kondisi persidangan yang bak tontonan hiburan untuk warga.
Pertarungan Psikologis dan Krisis Identitas Arthur
Joker 2 melanjutkan kondisi psikologis Arthur yang sulit membedakan antara fakta dan fantasi. Sepanjang filmnya, kita pun selalu ditunjukkan kondisi Arthur yang mempertanyakan kepada dirinya sendiri, apakah ia Arthur ataukah Joker.
Di awal-awal film, ia berperilaku seperti Arthur yang minderan, murung, hidup tanpa energi, dan cenderung mengikuti peraturan di rumah sakit-penjara Arkham. Namun dalam momen-momen tertentu, sosok Joker yang liar kerap muncul.
Sisi Joker ini makin menemukan tempatnya saat ia bertemu dengan Lee. Perempuan itu bak katalis yang ingin Joker segera bangkit dan mengambil alih sepenuhnya tubuh dan pikiran Arthur.

Foto: Warner Bros. Pictures
Lee digambarkan sebagai sosok 'gelap' yang sangat manipulatif. Demi citra ini, karakter yang dimaksudkan sebagai Harley Quinn tersebut juga digambarkan jauh berbeda dengan komiknya.
Tak ada ciri khas Harley Quinn yang doyan mengunyah permen karet, cerewet, dan gemar berpakaian seksi. Ia berubah menjadi sosok yang terlihat lemah, padahal cerdas dan ambisius.
Saat emosinya dipermainkan Lee, Joaquin Phoenix sebagai Arthur juga dengan lihainya bolak-balik menunjukkan ekspresinya sebagai Arthur, lalu sebagai Joker. Jika ia sedang menjadi Joker, Arthur akan lebih ekspresif, menari dan menyanyi sepuas hati.
Kritik Sosial yang Memilukan
Dalam Joker 2, Todd Phillips yang menulis skenarionya bersama Scott Silver juga memindahkan kondisi sosial nyata ke dalam layar. Ia misalnya, menampilkan kondisi persidangan yang bak tontonan hiburan untuk warga.
Lihat Juga :