PPN Naik Jadi 12%, Masyarakat Beralih ke Frugal Living untuk Bertahan

Selasa, 26 November 2024 - 07:40 WIB
loading...
PPN Naik Jadi 12%, Masyarakat...
Kenaikan PPN menjadi 12 persen yang direncanakan pemerintah mulai 2025 memicu perubahan gaya hidup masyarakat. Salah satu tren yang mencuat frugal living. Foto/Life Off Grid
A A A
JAKARTA - Kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 persen yang direncanakan pemerintah mulai 2025 memicu perubahan gaya hidup masyarakat. Salah satu tren yang mencuat adalah frugal living , gaya hidup hemat dan penuh perencanaan untuk mengelola keuangan lebih bijak di tengah ketidakpastian ekonomi.

Frugal living menekankan pengeluaran yang berfokus pada kebutuhan, bukan keinginan, dengan menghindari pemborosan dan memaksimalkan efisiensi dalam penggunaan sumber daya. Misalnya, masyarakat mulai lebih selektif dalam belanja, memanfaatkan diskon atau promosi, memasak di rumah alih-alih makan di luar, dan memprioritaskan barang yang tahan lama.

Berbeda dengan gaya hidup hemat biasa, frugal living lebih mendalam karena mencakup perubahan pola pikir dan kebiasaan. Orang yang menjalani frugal living biasanya fokus pada nilai jangka panjang dari setiap keputusan keuangan yang diambil.

Baca Juga: Siap-siap! Tarif PPN 12% Dipastikan Naik 1 Januari 2025

Faktor Pendorong Tren Frugal Living



Ancaman kenaikan PPN menjadi 12 persen dari tarif sebelumnya 11 persen diatur dalam Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP). Langkah ini diambil pemerintah untuk meningkatkan penerimaan negara, tetapi dampaknya adalah potensi naiknya harga barang dan jasa, termasuk kebutuhan pokok.

“Pemerintah kemungkinan besar akan menaikkan PPN dari 11 persen menjadi 12 persen dan ini memang akan mendorong kenaikan inflasi," kata Chief Economist Permata Bank Josua Pardede dalam acara Permata Bank Wealth Wisdom 2024 di Park Hyatt Jakarta baru-baru ini.

Hal ini membuat masyarakat cenderung mencari cara untuk menghemat pengeluaran demi menjaga stabilitas finansial rumah tangga. Selain itu, inflasi yang masih berlanjut akibat krisis global juga memaksa masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam mengelola uang.

Oleh karena itu, gaya hidup hemat tidak hanya menjadi pilihan saat ini. Namun juga kebutuhan untuk bertahan di tengah tekanan ekonomi.

Prinsip Utama Frugal Living



1. Prioritas pada Kebutuhan, Bukan Keinginan


Frugal living mengajarkan seseorang untuk membedakan mana yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang hanya keinginan. Misalnya, membeli barang karena fungsinya, bukan karena mereknya.

2. Menghindari Pemborosan


Gaya hidup ini mendorong efisiensi dalam segala hal. Seperti menggunakan barang hingga habis, mengurangi limbah, dan memperbaiki barang daripada langsung menggantinya dengan yang baru.

3. Investasi pada Nilai Jangka Panjang


Orang yang menerapkan frugal living lebih cenderung mengalokasikan uang untuk hal-hal yang memberikan manfaat jangka panjang, seperti pendidikan, kesehatan, atau investasi, dibandingkan pengeluaran impulsif.

4. Pola Konsumsi yang Cerdas


Ini meliputi berburu diskon, membeli barang dalam jumlah besar untuk menghemat, atau memilih produk yang tahan lama.

5. Memanfaatkan Sumber Daya yang Ada


Frugal living juga berarti menggunakan sumber daya yang dimiliki seoptimal mungkin, misalnya dengan memasak di rumah dibandingkan makan di luar.

Baca Juga: Frugal Living: Pelit atau Ngirit? Intip IG Live MNC Asset dan Andhika Widjojo

Manfaat dan Tantangan Frugal Living



Frugal living yang sebagian orang diartikan sebagai pelit memberikan manfaat seperti meningkatkan tabungan, mengurangi utang, dan membangun kebiasaan finansial yang sehat. Namun, tantangannya adalah disiplin dalam membedakan kebutuhan dan keinginan, serta konsisten dalam mengatur anggaran.

Contoh Praktik Frugal Living



1. Mengatur Anggaran Bulanan: Membuat daftar pengeluaran dan mematuhi batas yang ditentukan.
2. Belanja Cerdas: Membandingkan harga sebelum membeli atau membeli barang bekas yang masih layak pakai.
3. Memanfaatkan Barang: Menggunakan barang hingga maksimal, seperti membawa botol minum sendiri untuk mengurangi pembelian air kemasan.
4. Mengurangi Hiburan Mahal: Mengganti liburan mahal dengan aktivitas lokal yang lebih hemat, seperti berkemah atau piknik.
5. Hidup Sederhana: Mengurangi gaya hidup konsumtif, seperti membeli pakaian baru hanya saat benar-benar diperlukan.

Gaya hidup ini semakin populer, terutama di masa ekonomi sulit, seperti saat pandemi atau menghadapi kenaikan pajak seperti PPN. Generasi muda mulai memanfaatkan media sosial untuk berbagi tips frugal living, seperti memasak makanan sehat dengan biaya murah atau membuat barang DIY (Do It Yourself).

Frugal living adalah pilihan hidup yang relevan di tengah ketidakpastian ekonomi. Gaya hidup ini tidak hanya membantu seseorang mencapai kestabilan finansial, tetapi juga menciptakan kebiasaan yang lebih berkelanjutan.

“PPN Naik Menjadi 12 persen? Saatnya kita balas dengan frugal living! Kurangi konsumsi, beli hanya yang benar-benar perlu jangan hidupi hidup mewah pejabat dari uang pajak kita!” tulis akun X @TOM5helby dikutip Selasa (26/11/2024).

“Ppn jadi 12 persen udah saatnya frugal living, ga ngemall duit simpan aja dalam kantong buat makan sehari2 aja,” komentar @yevimima.

“Sudah waktunya nerapin gaya hidup frugal living kawan, lebih bijak lagi gunain uangnya, kurangin beli2 yang ga penting alias belajar prioritasin kebutuhan daripada keinginan. PPN naik kalo ga dibarengi sama kenaikan gaji mah sama aja nyekek middle class," kata @onlystar99.

Baca Juga: Frugal Living, Konsep Hidup Hemat Pangkal Kaya
(dra)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Gerakan Plogging Dorong...
Gerakan Plogging Dorong Gaya Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan di Bali
Layanan Laundry Kian...
Layanan Laundry Kian Menjadi Bagian Gaya Hidup Modern
Rahasia Bebas Bergerak:...
Rahasia Bebas Bergerak: Mengapa Kesehatan Sendi Kunci Utama Gaya Hidup Aktif
Tren Lifestyle Indonesia...
Tren Lifestyle Indonesia Makin Kompetitif, Simbol Gaya Hidup Baru Masyarakat Urban
Dari Belanja Harian...
Dari Belanja Harian ke Tren Fashion, Gaya Hidup Urban Kian Berkembang
Tunjang Gaya Hidup Sehat,...
Tunjang Gaya Hidup Sehat, G ONE Seaweed Resmi Diluncurkan
Ranch Market KMALL Hadirkan...
Ranch Market KMALL Hadirkan Supermarket Gaya Hidup Modern di Utara Jakarta
Gaya Hidup Miliarder,...
Gaya Hidup Miliarder, Begini Cara Keluarga Trump Membelanjakan Hartanya
Smartwatch di Pergelangan...
Smartwatch di Pergelangan Bangsa: Membaca Indonesia Melalui Heidegger, Merleau-Ponty, dan Simondon
Rekomendasi
Keuskupan Agung Katolik...
Keuskupan Agung Katolik AS akan Bayar Rp7 Triliun pada Para Korban Pelecehan Seksual Anak
Belanja Puas, Dompet...
Belanja Puas, Dompet Aman dengan Promo Spesial Blibli BRIDAY
YHK Junior Padel Championship...
YHK Junior Padel Championship 2026 Jadi Ajang Lahirnya Atlet Muda Indonesia
Berita Terkini
Sunscreen Ringan Jadi...
Sunscreen Ringan Jadi Pilihan Perlindungan Kulit Harian di Iklim Tropis
Mencicipi Lima Abad...
Mencicipi Lima Abad Jakarta dari Meja Makan, Warisan Kuliner Peranakan di Kota Tua
GSDC 2026 di ICE BSD...
GSDC 2026 di ICE BSD Perkuat Posisi Indonesia dalam Industri MICE Berkelanjutan
Usia 30-an Lutut Mulai...
Usia 30-an Lutut Mulai Rewel? Mengapa Welmove Bukan Hanya Suplemen untuk Orang Tua
My Devil President:...
My Devil President: Microdrama CEO yang Penuh Plot Twist
Sinopsis Microdrama...
Sinopsis Microdrama Swift Vows Love Story Unfolds di V+Short, Kisah Cinta CEO
Infografis
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved