Ciputra Hospital Surabaya Miliki Alat Canggih Skrining untuk Kanker Payudara
Sabtu, 21 Desember 2024 - 19:27 WIB
loading...
Data Globocan mencatat kasus kanker di Indonesia pada 2022 mencapai 408.661. Foto/ MPI
A
A
A
SURABAYA – Menurut data dari Global Cancer Observatory (Globocan), pada tahun 2022 lebih dari 408.661 kasus kanker baru terjadi di Indonesia. Salah satunya adalah kanker payudara. Meski lebih sering terjadi pada wanita, kanker payudara juga bisa menyerang pria.
Kanker payudara seringkali sulit terdeteksi pada tahap awal karena ukurannya yang kecil. Benjolan baru dapat teraba jika ukurannya cukup besar. Meski demikian, tidak semua benjolan di payudara berarti kanker. Oleh karena itu, pemeriksaan sejak dini penting dilakukan guna memastikan apakah benjolan tersebut kanker atau bukan.
Dokter spesialis bedah, Dr dr Desak Gede Agung Suprabawati SpB(K)Onk mengatakan, kesadaran masyarakat di Indonesia untuk melakukan deteksi dini terhadap suatu penyakit sangat kurang. Ini menjadi kendala dan perhatian serius dari semua pihak. Di luar negeri, orang datang memerikasakan kondisi tubuhnya ke rumah sakit atau dokter sejak awal atau ketika belum ada keluhan.
“Sebaliknya di Indonesia, sekitar 70-80 persen orang memeriksakan kondisi tubuhnya itu ketika sudah stadium lanjut," katanya di sela acara 'Sadari dan Kenali Kanker Payudara' yang digelar Ciputra Hospital Surabaya, Sabtu (21/12/2024).
Maka dari itu, dr Desak menyebut jika sadanis dan sadari menjadi elemen penting untuk mencegah risiko penyakit, termasuk kanker payudara. Sadari berarti mengenal kanker payudara, sementara sadanis berarti pemeriksaan kanker payudara secara klinis.“Pengenalan dini kanker payudara menjadi langkah penting, tetapi memang tidak semua benjolan di sekitar payudara adalah kanker,” ujarnya.
dr Desak mengungkapkan, hingga saat ini penyebab munculnya kanker payudara belum terdeteksi secara pasti. Hal ini berbeda dengan kanker lain yang penyebab utamanya telah terdeteksi secara pasti. Meski demikian, bukan berarti dokter tidak dapat menyiasatinya. “Mereka punya yang namanya faktor risiko, jadi ada pihak-pihak tertentu yang memiliki potensi lebih tinggi dari orang lainnya,” terangnya.
"Risiko pertema tentu karena kita perempuan. Semua perempuan mempunyai potensi. Kemudian ada faktor keturunan. Bukan berarti semua orang dalam link keluarga ada riwayat satu kanker saja sudah otomatis kita kaitkan dengan faktor keturunan. Hanya sekitar 5-10 persen memang keturunan," imbuh dr Desak.
Kanker payudara seringkali sulit terdeteksi pada tahap awal karena ukurannya yang kecil. Benjolan baru dapat teraba jika ukurannya cukup besar. Meski demikian, tidak semua benjolan di payudara berarti kanker. Oleh karena itu, pemeriksaan sejak dini penting dilakukan guna memastikan apakah benjolan tersebut kanker atau bukan.
Dokter spesialis bedah, Dr dr Desak Gede Agung Suprabawati SpB(K)Onk mengatakan, kesadaran masyarakat di Indonesia untuk melakukan deteksi dini terhadap suatu penyakit sangat kurang. Ini menjadi kendala dan perhatian serius dari semua pihak. Di luar negeri, orang datang memerikasakan kondisi tubuhnya ke rumah sakit atau dokter sejak awal atau ketika belum ada keluhan.
“Sebaliknya di Indonesia, sekitar 70-80 persen orang memeriksakan kondisi tubuhnya itu ketika sudah stadium lanjut," katanya di sela acara 'Sadari dan Kenali Kanker Payudara' yang digelar Ciputra Hospital Surabaya, Sabtu (21/12/2024).
Maka dari itu, dr Desak menyebut jika sadanis dan sadari menjadi elemen penting untuk mencegah risiko penyakit, termasuk kanker payudara. Sadari berarti mengenal kanker payudara, sementara sadanis berarti pemeriksaan kanker payudara secara klinis.“Pengenalan dini kanker payudara menjadi langkah penting, tetapi memang tidak semua benjolan di sekitar payudara adalah kanker,” ujarnya.
dr Desak mengungkapkan, hingga saat ini penyebab munculnya kanker payudara belum terdeteksi secara pasti. Hal ini berbeda dengan kanker lain yang penyebab utamanya telah terdeteksi secara pasti. Meski demikian, bukan berarti dokter tidak dapat menyiasatinya. “Mereka punya yang namanya faktor risiko, jadi ada pihak-pihak tertentu yang memiliki potensi lebih tinggi dari orang lainnya,” terangnya.
"Risiko pertema tentu karena kita perempuan. Semua perempuan mempunyai potensi. Kemudian ada faktor keturunan. Bukan berarti semua orang dalam link keluarga ada riwayat satu kanker saja sudah otomatis kita kaitkan dengan faktor keturunan. Hanya sekitar 5-10 persen memang keturunan," imbuh dr Desak.
Lihat Juga :