Apakah Pangeran Harry Masih Bisa Menjadi Raja Inggris? Begini Peluangnya untuk Naik Takhta
Jum'at, 14 Februari 2025 - 21:00 WIB
loading...
Pangeran Harry masih bisa menjadi Raja Inggris, meskipun ada beberapa hal yang harus terjadi agar hal itu terwujud. Harry di urutan kelima pewaris takhta. Foto/Getty Images
A
A
A
JAKARTA - Pangeran Harry masih bisa menjadi Raja Inggris, meskipun ada beberapa hal yang harus terjadi agar hal itu terwujud. Saat ini, Harry berada di urutan kelima pewaris takhta setelah sang kakak, Pangeran William, dan ketiga anaknya.
Pangeran Harry pernah menjadi salah satu anggota Keluarga Kerajaan Inggris yang paling populer. Namun, sejak ia dan istrinya, Meghan Markle, memutuskan mundur dari tugas kerajaan pada 2020, banyak yang bertanya-tanya apakah ia masih memiliki peluang untuk naik takhta dan menjadi Raja Inggris.
Secara teori, Harry masih berada dalam garis suksesi Kerajaan Inggris, tetapi peluangnya untuk naik takhta sangat kecil. Pasalnya, ada faktor-faktor yang mempengaruhi peluangnya menjadi raja, serta kemungkinan skenario di mana ia bisa naik takhta.
Baca Juga: Staf Istana Ungkap Sisi Lain Pangeran Harry, Pemarah dan Sulit Bekerja Sama
![Apakah Pangeran Harry Masih Bisa Menjadi Raja Inggris? Begini Peluangnya untuk Naik Takhta]()
Foto/Getty Images
Pangeran Harry masih berada dalam urutan suksesi takhta Kerajaan Inggris, tetapi posisinya cukup jauh. Dilansir dari Express, Jumat (14/2/2025), berikut adalah urutan terbaru suksesi Kerajaan Inggris setelah meninggalnya Ratu Elizabeth II dan naiknya Raja Charles III ke takhta:
1. Pangeran William – Putra sulung Raja Charles III
2. Pangeran George – Putra pertama Pangeran William
3. Putri Charlotte – Putri kedua Pangeran William
4. Pangeran Louis – Putra ketiga Pangeran William
5. Pangeran Harry – Putra kedua Raja Charles III
Dengan empat orang di atasnya, Harry hanya bisa menjadi raja jika semua yang berada di depannya dalam garis suksesi menolak takhta, mengundurkan diri, atau kehilangan hak suksesi karena suatu alasan tertentu.
Dalam sejarah Inggris, memang ada beberapa kasus di mana seorang raja turun takhta atau digantikan. Seperti Raja Edward VIII yang mengundurkan diri pada 1936 untuk menikahi Wallis Simpson. Selain itu, Henry VIII yang menyingkirkan keponakannya, Lady Jane Grey, setelah sembilan hari berkuasa.
Baca Juga: Pangeran Harry Membuat Keputusan Bodoh untuk Menyakiti Raja Charles III
Namun, dalam kondisi saat ini, William dan ketiga anaknya berada dalam posisi kuat, sehingga kemungkinan putra sulung Charles dan mendiang Putri Diana itu menjadi raja tetap kecil.
Pada 2020, Pangeran Harry dan Meghan Markle mengumumkan bahwa mereka mundur sebagai anggota senior Keluarga Kerajaan. Keputusan ini membawa dampak besar, di antaranya Harry tidak lagi menjalankan tugas kerajaan secara resmi. Ia juga tidak menerima dana dari kerajaan dan memilih hidup mandiri di Amerika Serikat.
Hubungannya dengan anggota Keluarga Kerajaan, terutama Pangeran William dan Raja Charles III, juga menjadi lebih renggang. Meskipun demikian, ayah dua anak itu tetap mempertahankan gelar Pangeran dan posisi dalam garis suksesi, tetapi ia sudah tidak dianggap sebagai bagian dari pilar utama kerajaan.
Keputusan Harry untuk meninggalkan kehidupan kerajaan membuatnya tidak lagi menjadi pilihan utama sebagai penerus takhta. Terutama karena raja diharapkan untuk menjalankan tugas kenegaraan dan menjaga hubungan erat dengan pemerintahan Inggris.
Baca Juga: 3 Masalah yang Dihadapi Pangeran Harry saat Kembali ke Inggris, Salah Satunya Ratu Camilla
Jika dalam situasi yang tidak terduga semua orang di atas Harry dalam garis suksesi tidak bisa menjadi raja, secara teori ia akan naik takhta. Namun, Parlemen Inggris memiliki kekuatan hukum untuk mencegah hal tersebut.
Berdasarkan Bill of Rights 1689 dan Act of Settlement 1701, Parlemen Inggris memiliki hak untuk mengubah garis suksesi takhta dengan mengeluarkan seseorang dari daftar pewaris, menentukan siapa yang layak menjadi raja jika situasi darurat terjadi.
Parlemen pernah melakukan hal ini di masa lalu, seperti saat mereka menyingkirkan Raja James II dan menggantinya dengan putrinya, Mary II, serta suaminya, William III. Jika Harry suatu saat berada dalam posisi untuk naik takhta, tetapi tidak mendapat dukungan dari parlemen dan rakyat, kemungkinan besar parlemen akan mengubah aturan untuk menghindari kepemimpinannya.
Meskipun sangat tidak mungkin, ada beberapa skenario ekstrem di mana Harry bisa menjadi Raja Inggris. Di mana jika William, Pangeran George, Putri Charlotte, dan Pangeran Louis semuanya mengundurkan diri atau tidak bisa naik takhta karena alasan tertentu, maka garis suksesi akan berpindah ke Harry.
Namun, skenario ini sangat kecil kemungkinannya karena William sangat berkomitmen kepada tugas kerajaannya, dan anak-anak William akan dibesarkan dengan tanggung jawab untuk meneruskan takhta.
Sementara itu, jika suatu hari Harry memutuskan kembali ke kehidupan kerajaan, kemungkinan besar ia akan mendapatkan kembali dukungan publik. Namun, mengingat ia telah menjalani kehidupan independen di Amerika Serikat, kembalinya ke kerajaan tampak tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat.
Pangeran Harry pernah menjadi salah satu anggota Keluarga Kerajaan Inggris yang paling populer. Namun, sejak ia dan istrinya, Meghan Markle, memutuskan mundur dari tugas kerajaan pada 2020, banyak yang bertanya-tanya apakah ia masih memiliki peluang untuk naik takhta dan menjadi Raja Inggris.
Secara teori, Harry masih berada dalam garis suksesi Kerajaan Inggris, tetapi peluangnya untuk naik takhta sangat kecil. Pasalnya, ada faktor-faktor yang mempengaruhi peluangnya menjadi raja, serta kemungkinan skenario di mana ia bisa naik takhta.
Garis Suksesi Kerajaan Inggris
Baca Juga: Staf Istana Ungkap Sisi Lain Pangeran Harry, Pemarah dan Sulit Bekerja Sama

Foto/Getty Images
Pangeran Harry masih berada dalam urutan suksesi takhta Kerajaan Inggris, tetapi posisinya cukup jauh. Dilansir dari Express, Jumat (14/2/2025), berikut adalah urutan terbaru suksesi Kerajaan Inggris setelah meninggalnya Ratu Elizabeth II dan naiknya Raja Charles III ke takhta:
1. Pangeran William – Putra sulung Raja Charles III
2. Pangeran George – Putra pertama Pangeran William
3. Putri Charlotte – Putri kedua Pangeran William
4. Pangeran Louis – Putra ketiga Pangeran William
5. Pangeran Harry – Putra kedua Raja Charles III
Dengan empat orang di atasnya, Harry hanya bisa menjadi raja jika semua yang berada di depannya dalam garis suksesi menolak takhta, mengundurkan diri, atau kehilangan hak suksesi karena suatu alasan tertentu.
Dalam sejarah Inggris, memang ada beberapa kasus di mana seorang raja turun takhta atau digantikan. Seperti Raja Edward VIII yang mengundurkan diri pada 1936 untuk menikahi Wallis Simpson. Selain itu, Henry VIII yang menyingkirkan keponakannya, Lady Jane Grey, setelah sembilan hari berkuasa.
Baca Juga: Pangeran Harry Membuat Keputusan Bodoh untuk Menyakiti Raja Charles III
Namun, dalam kondisi saat ini, William dan ketiga anaknya berada dalam posisi kuat, sehingga kemungkinan putra sulung Charles dan mendiang Putri Diana itu menjadi raja tetap kecil.
Pada 2020, Pangeran Harry dan Meghan Markle mengumumkan bahwa mereka mundur sebagai anggota senior Keluarga Kerajaan. Keputusan ini membawa dampak besar, di antaranya Harry tidak lagi menjalankan tugas kerajaan secara resmi. Ia juga tidak menerima dana dari kerajaan dan memilih hidup mandiri di Amerika Serikat.
Hubungannya dengan anggota Keluarga Kerajaan, terutama Pangeran William dan Raja Charles III, juga menjadi lebih renggang. Meskipun demikian, ayah dua anak itu tetap mempertahankan gelar Pangeran dan posisi dalam garis suksesi, tetapi ia sudah tidak dianggap sebagai bagian dari pilar utama kerajaan.
Keputusan Harry untuk meninggalkan kehidupan kerajaan membuatnya tidak lagi menjadi pilihan utama sebagai penerus takhta. Terutama karena raja diharapkan untuk menjalankan tugas kenegaraan dan menjaga hubungan erat dengan pemerintahan Inggris.
Baca Juga: 3 Masalah yang Dihadapi Pangeran Harry saat Kembali ke Inggris, Salah Satunya Ratu Camilla
Jika dalam situasi yang tidak terduga semua orang di atas Harry dalam garis suksesi tidak bisa menjadi raja, secara teori ia akan naik takhta. Namun, Parlemen Inggris memiliki kekuatan hukum untuk mencegah hal tersebut.
Berdasarkan Bill of Rights 1689 dan Act of Settlement 1701, Parlemen Inggris memiliki hak untuk mengubah garis suksesi takhta dengan mengeluarkan seseorang dari daftar pewaris, menentukan siapa yang layak menjadi raja jika situasi darurat terjadi.
Parlemen pernah melakukan hal ini di masa lalu, seperti saat mereka menyingkirkan Raja James II dan menggantinya dengan putrinya, Mary II, serta suaminya, William III. Jika Harry suatu saat berada dalam posisi untuk naik takhta, tetapi tidak mendapat dukungan dari parlemen dan rakyat, kemungkinan besar parlemen akan mengubah aturan untuk menghindari kepemimpinannya.
Meskipun sangat tidak mungkin, ada beberapa skenario ekstrem di mana Harry bisa menjadi Raja Inggris. Di mana jika William, Pangeran George, Putri Charlotte, dan Pangeran Louis semuanya mengundurkan diri atau tidak bisa naik takhta karena alasan tertentu, maka garis suksesi akan berpindah ke Harry.
Namun, skenario ini sangat kecil kemungkinannya karena William sangat berkomitmen kepada tugas kerajaannya, dan anak-anak William akan dibesarkan dengan tanggung jawab untuk meneruskan takhta.
Sementara itu, jika suatu hari Harry memutuskan kembali ke kehidupan kerajaan, kemungkinan besar ia akan mendapatkan kembali dukungan publik. Namun, mengingat ia telah menjalani kehidupan independen di Amerika Serikat, kembalinya ke kerajaan tampak tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat.
(dra)
Lihat Juga :