Paus Fransiskus Didiagnosis Pneumonia Bilateral, Kenali Gejala dan Penyebabnya
Kamis, 20 Februari 2025 - 15:20 WIB
loading...
A
A
A
1. Bakteri
2. Virus
3. Jamur
Selain itu, pneumonia juga dapat terjadi akibat aspirasi, yaitu ketika makanan, cairan, atau benda asing masuk ke paru-paru. Beberapa faktor yang meningkatkan risiko pneumonia bilateral meliputi:
1. Anak-anak di bawah 2 tahun atau lansia di atas 65 tahun
2. Malnutrisi atau gizi buruk
3. Merokok atau sering terpapar asap rokok
4. Penyakit kronis seperti diabetes, anemia sel sabit, dan penyakit jantung
5. Gangguan paru-paru seperti PPOK, fibrosis kistik, atau asma
6. Kesulitan menelan akibat stroke atau gangguan neurologis
7. Baru saja mengalami flu atau infeksi pernapasan lainnya
8. Penyalahgunaan alkohol atau narkoba
Saat memeriksa pasien yang diduga mengalami pneumonia, dokter akan menggunakan stetoskop untuk mendengarkan suara dari paru-paru, seperti klik, bunyi berdeguk, dan suara berderak
Selain itu, dokter juga akan menggunakan oksimeter denyut nadi yang ditempatkan di ujung jari untuk mengevaluasi kadar oksigen dalam darah. Pada kondisi normal, kadar oksigen berada di 98-99 persen, tetapi pada pasien pneumonia, kadar ini dapat turun di bawah 90 persen.
Jika dokter mencurigai adanya infeksi paru yang serius, mereka mungkin akan merekomendasikan rontgen dada untuk memastikan area paru yang terinfeksi, dan tes laboratorium untuk mengetahui jenis organisme penyebab infeksi dan menentukan pengobatan yang tepat.
Dengan diagnosis yang akurat dan penanganan yang cepat, pneumonia bisa diatasi sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih berbahaya. Jika gejala pneumonia tidak membaik atau justru semakin parah, segera cari perawatan medis darurat untuk menghindari komplikasi serius.
Baca Juga: Deretan Tokoh Ternama yang Hidup dengan Satu Paru-paru, Salah Satunya Paus Fransiskus
2. Virus
3. Jamur
Selain itu, pneumonia juga dapat terjadi akibat aspirasi, yaitu ketika makanan, cairan, atau benda asing masuk ke paru-paru. Beberapa faktor yang meningkatkan risiko pneumonia bilateral meliputi:
1. Anak-anak di bawah 2 tahun atau lansia di atas 65 tahun
2. Malnutrisi atau gizi buruk
3. Merokok atau sering terpapar asap rokok
4. Penyakit kronis seperti diabetes, anemia sel sabit, dan penyakit jantung
5. Gangguan paru-paru seperti PPOK, fibrosis kistik, atau asma
6. Kesulitan menelan akibat stroke atau gangguan neurologis
7. Baru saja mengalami flu atau infeksi pernapasan lainnya
8. Penyalahgunaan alkohol atau narkoba
Bagaimana Dokter Mendiagnosis Pneumonia?
Saat memeriksa pasien yang diduga mengalami pneumonia, dokter akan menggunakan stetoskop untuk mendengarkan suara dari paru-paru, seperti klik, bunyi berdeguk, dan suara berderak
Selain itu, dokter juga akan menggunakan oksimeter denyut nadi yang ditempatkan di ujung jari untuk mengevaluasi kadar oksigen dalam darah. Pada kondisi normal, kadar oksigen berada di 98-99 persen, tetapi pada pasien pneumonia, kadar ini dapat turun di bawah 90 persen.
Jika dokter mencurigai adanya infeksi paru yang serius, mereka mungkin akan merekomendasikan rontgen dada untuk memastikan area paru yang terinfeksi, dan tes laboratorium untuk mengetahui jenis organisme penyebab infeksi dan menentukan pengobatan yang tepat.
Dengan diagnosis yang akurat dan penanganan yang cepat, pneumonia bisa diatasi sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih berbahaya. Jika gejala pneumonia tidak membaik atau justru semakin parah, segera cari perawatan medis darurat untuk menghindari komplikasi serius.
Baca Juga: Deretan Tokoh Ternama yang Hidup dengan Satu Paru-paru, Salah Satunya Paus Fransiskus
(dra)
Lihat Juga :