Putri Alice, Nenek Raja Charles III yang Idap Skizofrenia dan Jadi Subjek Eksperimen
Senin, 03 Maret 2025 - 06:00 WIB
loading...
A
A
A

Foto/South China Morning Post
Gestapo beberapa kali mencurigai Alice dan menginterogasinya, tetapi ia menggunakan ketuliannya untuk berpura-pura tidak memahami pertanyaan mereka. Karena keberaniannya, Museum Holocaust Yad Vashem di Israel mengakui Alice sebagai Righteous Among the Nations, sebuah penghormatan bagi non-Yahudi yang menyelamatkan orang Yahudi selama Holocaust.
Ia bahkan meminta agar jasadnya dimakamkan di Gunung Zaitun, Yerusalem. Pada 2018, anak Charles, Pangeran William bertemu dengan keturunan keluarga Yahudi yang diselamatkan oleh Alice sebagai bentuk penghormatan atas jasanya.
Setelah Perang Dunia II, Alice semakin mendalami agama dan mendirikan ordo biarawati bernama Persaudaraan Kristen Martha dan Maria pada 1949. Ia menjalani hidup sederhana dan bahkan menjual perhiasan kerajaannya untuk mendanai kegiatan amalnya.
Saat penobatan Ratu Elizabeth II pada 1953, Alice menarik perhatian publik karena hadir mengenakan jubah biarawati. Meskipun anaknya, Philip, dan menantunya, Elizabeth, menawarkan kehidupan mewah di kerajaan, Alice lebih memilih mengabdikan hidupnya untuk amal.
Pada 1967, terjadi kudeta militer di Yunani yang memaksa Alice meninggalkan negara itu. Dengan desakan Elizabeth dan Philip, ia akhirnya pindah ke Istana Buckingham, di mana ia tinggal di sebuah kamar sederhana di dalam kompleks istana.
Alice menghabiskan sisa hidupnya dalam kesederhanaan dan meninggal dunia pada 1969. Real Royalty melaporkan bahwa saat wafat, satu-satunya barang pribadinya adalah tiga jubah biarawati.
(dra)
Lihat Juga :