Sinopsis When Life Gives You Tangerines, Kisah Cinta Romantis Berlatar Pulau Jeju
Minggu, 09 Maret 2025 - 22:00 WIB
loading...
Drama Korea terbaru When Life Gives You Tangerines menawarkan kisah cinta romantis yang emosional, berlatar belakang Pulau Jeju pada era 1950-an hingga 1970-an. Foto/Soompi
A
A
A
JAKARTA - Drama Korea terbaru When Life Gives You Tangerines menawarkan kisah cinta romantis yang penuh emosional, berlatar belakang Pulau Jeju pada era 1950-an hingga 1970-an. Drama ini dibintangi oleh IU dan Park Bo Gum.
When Life Gives You Tangerines menggambarkan perjalanan hidup dua insan dengan kepribadian bertolak belakang yang bertahan melawan tekanan sosial, kemiskinan, dan waktu.
Tayang perdana di Netflix pada 7 Maret 2025, drama 12 episode ini tidak hanya menyajikan kisah cinta klasik tetapi juga potret manusiawi tentang ketahanan, ambisi, dan harga diri di tengah keterbatasan.
Baca Juga: When Life Gives You Tangerines, Drama Korea Baru IU dan Park Bo Gum Tayang 7 Maret
![Sinopsis When Life Gives You Tangerines, Kisah Cinta Romantis Berlatar Pulau Jeju]()
Foto/Soompi
Dilansir dari Soompi, Minggu (9/3/2025), drama ini mengambil latar Pulau Jeju, lokasi yang jarang dieksplorasi dalam drama Korea modern. Jeju tahun 1950-an digambarkan sebagai wilayah yang terisolasi secara geografis dan sosial, di mana masyarakatnya bergantung pada pertanian tangerine dan pekerjaan tradisional seperti haenyeo (penyelam perempuan).
Ae Sun (IU) tumbuh dalam lingkungan ini. Di mana akses pendidikan terbatas dan harapan untuk meraih mimpi seringkali terhambat oleh realitas ekonomi. Latar waktu ini dipilih untuk menyoroti transformasi sosial-politik Korea Selatan pasca-Perang Korea.
Adegan radio yang menyiarkan berita tentang revolusi budaya di daratan utama menjadi metafora atas keterputusan Jeju dari kemajuan zaman. Konflik antara tradisi dan modernitas tercermin dalam keinginan Ae Sun untuk menjadi penyair, sebuah profesi yang dianggap tidak praktis oleh masyarakat agraris.
IU memerankan Ae Sun dengan kedalaman psikologis yang mengesankan. Sebagai gadis yatim yang dibesarkan oleh ibu haenyeo, Ae Sun memiliki ambisi besar untuk melampaui batasan kelas sosial.
Baca Juga: Sinopsis Friendly Rivalry, Ketika Rival dan Sahabat Berada di Garis yang Sama
Meski tidak bisa bersekolah formal, ia mengembangkan kecintaan pada sastra melalui buku-buku bekas. Karakter ini menghindari stereotip wanita kuat dengan menunjukkan kerentanan, seperti menolak perjodohan.
Konflik internal Ae Sun mencapai puncaknya ketika ia harus memilih antara mengikuti jejak ibu sebagai haenyeo atau mengejar mimpinya ke Seoul. Adegan di mana ia membakar puisi pertamanya menjadi momen simbolis pelepasan identitas, sekaligus penegasan bahwa seni tidak bisa tumbuh dalam tekanan kemiskinan.
Sedangkan Park Bo Gum menghidupkan karakter Gwan Sik sebagai pria pendiam yang mengungkapkan cinta melalui tindakan ketimbang kata-kata. Dijuluki Steelheart karena ekspresi wajahnya yang datar, Gwan Sik sebenarnya menyimpan emosi yang dalam.
Latar belakangnya sebagai anak keluarga miskin yang harus bekerja sejak kecil membentuknya menjadi pragmatis, namun tidak mengurangi romantisme diam-diamnya. Dinamika hubungan mereka berkembang secara alami dari persahabatan masa kecil, kemitraan kerja di pasar ikan, hingga percintaan dewasa yang dipenuhi ketegangan.
Baca Juga: Sinopsis The First Frost: Antara Romantisme, Kenangan dan Harapan Baru
Adegan klimaks di ladang kanola Jeju, di mana Gwan Sik akhirnya mencium Ae Sun setelah 18 tahun menunggu, direkam dengan sinematografi yang memadukan keindahan alam dengan kekakuan emosional.
When Life Gives You Tangerines menggambarkan perjalanan hidup dua insan dengan kepribadian bertolak belakang yang bertahan melawan tekanan sosial, kemiskinan, dan waktu.
Tayang perdana di Netflix pada 7 Maret 2025, drama 12 episode ini tidak hanya menyajikan kisah cinta klasik tetapi juga potret manusiawi tentang ketahanan, ambisi, dan harga diri di tengah keterbatasan.
Sinopsis When Life Gives You Tangerines
Baca Juga: When Life Gives You Tangerines, Drama Korea Baru IU dan Park Bo Gum Tayang 7 Maret

Foto/Soompi
Dilansir dari Soompi, Minggu (9/3/2025), drama ini mengambil latar Pulau Jeju, lokasi yang jarang dieksplorasi dalam drama Korea modern. Jeju tahun 1950-an digambarkan sebagai wilayah yang terisolasi secara geografis dan sosial, di mana masyarakatnya bergantung pada pertanian tangerine dan pekerjaan tradisional seperti haenyeo (penyelam perempuan).
Ae Sun (IU) tumbuh dalam lingkungan ini. Di mana akses pendidikan terbatas dan harapan untuk meraih mimpi seringkali terhambat oleh realitas ekonomi. Latar waktu ini dipilih untuk menyoroti transformasi sosial-politik Korea Selatan pasca-Perang Korea.
Adegan radio yang menyiarkan berita tentang revolusi budaya di daratan utama menjadi metafora atas keterputusan Jeju dari kemajuan zaman. Konflik antara tradisi dan modernitas tercermin dalam keinginan Ae Sun untuk menjadi penyair, sebuah profesi yang dianggap tidak praktis oleh masyarakat agraris.
IU memerankan Ae Sun dengan kedalaman psikologis yang mengesankan. Sebagai gadis yatim yang dibesarkan oleh ibu haenyeo, Ae Sun memiliki ambisi besar untuk melampaui batasan kelas sosial.
Baca Juga: Sinopsis Friendly Rivalry, Ketika Rival dan Sahabat Berada di Garis yang Sama
Meski tidak bisa bersekolah formal, ia mengembangkan kecintaan pada sastra melalui buku-buku bekas. Karakter ini menghindari stereotip wanita kuat dengan menunjukkan kerentanan, seperti menolak perjodohan.
Konflik internal Ae Sun mencapai puncaknya ketika ia harus memilih antara mengikuti jejak ibu sebagai haenyeo atau mengejar mimpinya ke Seoul. Adegan di mana ia membakar puisi pertamanya menjadi momen simbolis pelepasan identitas, sekaligus penegasan bahwa seni tidak bisa tumbuh dalam tekanan kemiskinan.
Sedangkan Park Bo Gum menghidupkan karakter Gwan Sik sebagai pria pendiam yang mengungkapkan cinta melalui tindakan ketimbang kata-kata. Dijuluki Steelheart karena ekspresi wajahnya yang datar, Gwan Sik sebenarnya menyimpan emosi yang dalam.
Latar belakangnya sebagai anak keluarga miskin yang harus bekerja sejak kecil membentuknya menjadi pragmatis, namun tidak mengurangi romantisme diam-diamnya. Dinamika hubungan mereka berkembang secara alami dari persahabatan masa kecil, kemitraan kerja di pasar ikan, hingga percintaan dewasa yang dipenuhi ketegangan.
Baca Juga: Sinopsis The First Frost: Antara Romantisme, Kenangan dan Harapan Baru
Adegan klimaks di ladang kanola Jeju, di mana Gwan Sik akhirnya mencium Ae Sun setelah 18 tahun menunggu, direkam dengan sinematografi yang memadukan keindahan alam dengan kekakuan emosional.
(dra)
Lihat Juga :