Kerap Disepelekan, Psikolog Jennyfer Gencar Sebarkan Kepedulian Kesehatan Mental
Jum'at, 04 September 2020 - 15:54 WIB
loading...
A
A
A
Sadar akan pentingnya kesehatan mental, psikolog Jennyfer, M. Psi., gencar dalam menyebarkan kepedulian terhadap kesehatan mental . Kepedulian Jennyfer diawali dari lingkungan sekitarnya, yang mana kesehatan mental dianggap sebagai hal sepele. Bahkan kesehatan mental dinilai tabu karena adanya stigma negatif kepada mereka yang mencari pertolongan ke psikolog.
"Pada mulanya, alasan saya menjadi psikolog adalah untuk membantu orang di sekitar saya yang membutuhkan penanganan secara mental. Dahulu, di lingkungan sekitar saya, membahas mengenai kesehatan mental sering disepelekan dan dianggap tabu, karena adanya stigma negatif bahwa jika mencari pertolongan ke psikolog artinya gila," kata Jennyfer melalui pernyataan tertulisnya, Jumat (4/9).
"Pada saat itu, saya belum benar benar mengerti mengenai penanganan untuk orang membutuhkan bantuan dari segi mental. Hal itu membuat saya ingin belajar dan menjadi psikolog agar dapat membantu dalam segi kesehatan mental secara profesional dan tidak sembarangan," sambung psikolog yang biasa praktik di daerah Jalan Indraloka, Jakarta Barat.
Jennyfer sadar betul bahwa setiap orang memiliki risiko terkena gangguan kesehatan mental , tidak peduli usia, jenis kelamin, pendapatan, atau etnis mereka. Namun, adanya stigma negatif di masyarakat diakui Jennyfer menjadi hambatan besar bagi penyintas untuk mendapatkan pertolongan yang layak. Hal tersebut menjadi salah satu faktor mengapa banyak penyintas terlantarkan oleh keluarganya dan tidak memiliki tempat tinggal.
"Setelah menjalani dan mendalami bidang psikologi , saya mulai memahami, bahwa bukan hanya orang di sekitar saya yang memiliki pemikiran seperti itu, namun ternyata cukup banyak masyarakat yang masih memiliki stigma negatif ini. Hal ini membuat saya mulai memikirkan cara agar masyarakat lebih menyadari bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik," paparnya.
"Pada mulanya, alasan saya menjadi psikolog adalah untuk membantu orang di sekitar saya yang membutuhkan penanganan secara mental. Dahulu, di lingkungan sekitar saya, membahas mengenai kesehatan mental sering disepelekan dan dianggap tabu, karena adanya stigma negatif bahwa jika mencari pertolongan ke psikolog artinya gila," kata Jennyfer melalui pernyataan tertulisnya, Jumat (4/9).
"Pada saat itu, saya belum benar benar mengerti mengenai penanganan untuk orang membutuhkan bantuan dari segi mental. Hal itu membuat saya ingin belajar dan menjadi psikolog agar dapat membantu dalam segi kesehatan mental secara profesional dan tidak sembarangan," sambung psikolog yang biasa praktik di daerah Jalan Indraloka, Jakarta Barat.
Jennyfer sadar betul bahwa setiap orang memiliki risiko terkena gangguan kesehatan mental , tidak peduli usia, jenis kelamin, pendapatan, atau etnis mereka. Namun, adanya stigma negatif di masyarakat diakui Jennyfer menjadi hambatan besar bagi penyintas untuk mendapatkan pertolongan yang layak. Hal tersebut menjadi salah satu faktor mengapa banyak penyintas terlantarkan oleh keluarganya dan tidak memiliki tempat tinggal.
"Setelah menjalani dan mendalami bidang psikologi , saya mulai memahami, bahwa bukan hanya orang di sekitar saya yang memiliki pemikiran seperti itu, namun ternyata cukup banyak masyarakat yang masih memiliki stigma negatif ini. Hal ini membuat saya mulai memikirkan cara agar masyarakat lebih menyadari bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik," paparnya.
Lihat Juga :