Nasi Goreng Mbak Yati, Lezatnya Bikin Ketagihan
Sabtu, 05 September 2020 - 11:11 WIB
loading...
A
A
A
Karena rasanya jelas beda, dengan pengawet dan tanpa pengawet. Harganya pun tidak mahal dan pas di kantong. Setiap porsinya rata-rata Rp12.000. Sebelum berjualan nasi goreng, Sumaryati pernah berjualan pakaian. Namun usaha yang dirintisnya itu tidak bertahan lama. Gagal di bisnis pakaian, Sumaryati banting haluan dengan ternak ayam potong. Namun usaha ini juga gagal.
Di saat gundah mencari usaha apa yang cocok, Sumaryati sadar bahwa ia punya hobi dan bakat memasak. Ia lantas memutuskan untuk membuka usaha warung nasi goreng. "Saat saya buka pertama kali tahun 1989, warung nasi goreng dan bakmi belum sebanyak ini,” kata ibu empat anak ini. (Baca juga: Memanas, Rusia Bakal Gelar Latihan di Laut Mediterania)
Merintis warung nasi goreng hingga terkenal seperti sekarang ini, diakui Sumaryati penuh perjuangan yang panjang. Dirintis sejak tahun 1989, banyak suka duka yang dialaminya. “ Dulu di awal-awal jualan, sering merugi. Namun saya tetap sabar, dan Tuhan akhirnya memberi jalan,” kata istri dari Lukito ( Alm) ini.
Diceritakan Mbak Yati, awal berjualan di tahun 1989, harga nasi goreng/bakmi goreng setiap porsinya Rp 400, dan Rp 500 untuk menu spesial.Seiring perjalanan waktu, karena bisa mempertahankan rasanya, warung nasi goreng ini banyak pelanggan setianya. Para pelanggan dari berbagai kalangan di Salatiga, mulai pelajar, mahasiswa, pegawai dan sebagainya. “ Dari dulu kami berjualannya yang di tempat ini,” katanya.
Buka mulai pukul 15.00 WIB, warung ini sudah diserbu para pembeli, terutama pas sore atau jam makan malam. Biasanya warung tutup pukul 22.00 WIB. “Kami juga menerima pesanan. Dan biasanya pesanan itu untuk acara-acara rapat,” kata Mbak Yati. (Baca juga: Pengusaha Wisata Bandung Tolak Rencana Bandara Husein jadi Domestik)
Karena pelanggannya banyak, saban harinya ia menghabiskan 20 Kg beras untuk nasi goreng. Mengimbangi banyaknya pembeli, Sumaryati memperkerjakan 4 karyawati, ditambah dua anaknya yang setia membantunya.
Di saat gundah mencari usaha apa yang cocok, Sumaryati sadar bahwa ia punya hobi dan bakat memasak. Ia lantas memutuskan untuk membuka usaha warung nasi goreng. "Saat saya buka pertama kali tahun 1989, warung nasi goreng dan bakmi belum sebanyak ini,” kata ibu empat anak ini. (Baca juga: Memanas, Rusia Bakal Gelar Latihan di Laut Mediterania)
Merintis warung nasi goreng hingga terkenal seperti sekarang ini, diakui Sumaryati penuh perjuangan yang panjang. Dirintis sejak tahun 1989, banyak suka duka yang dialaminya. “ Dulu di awal-awal jualan, sering merugi. Namun saya tetap sabar, dan Tuhan akhirnya memberi jalan,” kata istri dari Lukito ( Alm) ini.
Diceritakan Mbak Yati, awal berjualan di tahun 1989, harga nasi goreng/bakmi goreng setiap porsinya Rp 400, dan Rp 500 untuk menu spesial.Seiring perjalanan waktu, karena bisa mempertahankan rasanya, warung nasi goreng ini banyak pelanggan setianya. Para pelanggan dari berbagai kalangan di Salatiga, mulai pelajar, mahasiswa, pegawai dan sebagainya. “ Dari dulu kami berjualannya yang di tempat ini,” katanya.
Buka mulai pukul 15.00 WIB, warung ini sudah diserbu para pembeli, terutama pas sore atau jam makan malam. Biasanya warung tutup pukul 22.00 WIB. “Kami juga menerima pesanan. Dan biasanya pesanan itu untuk acara-acara rapat,” kata Mbak Yati. (Baca juga: Pengusaha Wisata Bandung Tolak Rencana Bandara Husein jadi Domestik)
Karena pelanggannya banyak, saban harinya ia menghabiskan 20 Kg beras untuk nasi goreng. Mengimbangi banyaknya pembeli, Sumaryati memperkerjakan 4 karyawati, ditambah dua anaknya yang setia membantunya.
Lihat Juga :