Kisah Rosna, Penenun Songket dari Solok yang Menembus Pasar Global
Rabu, 09 April 2025 - 15:03 WIB
loading...
Di usia senjam Rosna semakin produktif menenun kisah sukses dari helai-helai songket Melayu hingga tembus ke pasar mancanegara. Foto/Dok. SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Namanya Rosna, seorang perempuan tangguh yang di usia senja justru semakin produktif menenun kisah sukses dari helai-helai kain songket Melayu hingga ke pasar mancanegara. Pepatah Minang tiado rotan akar pun jadi, tiado kayujanjang dikapiang (tidak ada kayu, tangga pun dibelah), tampaknya tepat menggambarkan semangat perempuan pelosok Solok, Sumatera Barat ini.
Kisan ini dimulai saat Rosna berusia 29 tahun. Dengan tujuh anak yang harus diberi makan dan suami yang bekerja sebagai montir truk, Rosna merantau ke Pekanbaru dengan bekal tekad dan semangat pantang menyerah.
Awalnya, hidupnya penuh dengan pekerjaan serabutan—apa saja yang penting halal. Namun, titik balik datang di usia 41 tahun ketika ia mengikuti pelatihan menenun kain songket dari Dinas Ketenagakerjaan Pekanbaru. Ia sempat ragu. Tangan sudah tak secepat dulu, usia tak muda lagi, tapi tekadnya berbicara lain. "Kalau orang lain bisa, kok saya tidak?" kata Rosna, Rabu (9/4/2025). Baca juga: Tips Padu Padan Batik dan Tenun Agar Tidak Tampil Monoton
Tiga bulan pertama, ia tekun belajar merapikan benang, menyambung motif, dan menguasai teknik dasar. Pelan tapi pasti, ia berhasil membuat kain tenun pertamanya. Sejak itu, pesanan mulai berdatangan, meski tak selalu stabil. Namun bagi Rosna, setiap helai kain adalah langkah menuju kehidupan yang lebih baik.
Tahun-tahun berlalu, hingga akhirnya pintu rezeki terbuka lebih lebar. Anak pertamanya, Dhea, yang bekerja di rumah tenun songket dan manufaktur, memperkenalkan hasil tenun Rosna ke jaringan ekspor. Kini, songket Melayu buatannya telah sampai ke Malaysia, Turki, hingga Dubai.
Tak hanya itu, ia juga mendapatkan alat tenun dari pemerintah daerah dan memulai produksi mandiri di rumah. Dalam sebulan, Rosna bisa menghasilkan 5 hingga 6 set kain tenun dengan omzet hingga Rp9 juta—semuanya tergantung tingkat kerumitan motif yang dikerjakan.
Perjalanan Rosna tak selalu mulus. Di tengah pesanan yang menggunung, ia sempat hampir menolak order karena kekurangan modal untuk membeli benang. Di titik inilah, tetangga menjadi penyelamat. Dari obrolan ringan di beranda rumah, ia tahu soal Amartha—platform pembiayaan mikro berbasis komunitas.
"Awalnya ibuk sempat ragu, tapi pas petugas Amartha datang dan bantu urus pengajuan. Alhamdulillah cair juga modal usaha," ujarnya.
Sejak 2021, ia menjadi mitra binaan Amartha. Selain pendanaan, Rosna juga mendapat pendampingan usaha, termasuk cara memasarkan kainnya lewat marketplace.
Kini, ia kembali tinggal di kampung halamannya di Solok. Rumah sudah direnovasi, suami mengelola ladang bawang, dan anak-anak turut membantu produksi maupun pemasaran. Di tengah rumah mungilnya, terdengar denting alat tenun, seolah jadi lagu pengiring harapan yang tak pernah padam.
Bagi Rosna, songket bukan sekadar kain. Ia adalah warisan budaya, identitas, dan bukti bahwa semangat bisa menembus batas usia. Ia berharap pemerintah tak hanya memberi pelatihan, tapi juga menyediakan alat tenun bagi setiap peserta. “Menenun itu harus langsung praktik. Tanpa alat, tak akan jadi,” jelasnya.
Motif favoritnya adalah Siku Keluang. Simbol tanggung jawab dan keteguhan hati, yang merepresentasikan perjuangan hidup seorang ibu, istri, dan pengusaha lokal yang kini mendunia. Baca juga: Misteri Keris Taming Sari, Pusaka Sakti Milik Hang Tuah
Rosna juga ingin generasi muda tak alergi pada warisan tradisi. "Siapapun yang punyo tekad, pasti akan basobok jalannyo,” tuturnya sembari tersenyum, tangan tak henti mengayun alat tenun.
Kisah Ibu Rosna menjadi refleksi nyata tentang tantangan dan peluang yang akan diangkat dalam The 2025 Asia Grassroots Forum oleh Amartha. Seperti ribuan perempuan pengusaha ultra mikro lainnya, ia telah membuktikan: ketika akses terhadap modal dibuka, dan semangat tetap menyala—batas tak lagi menjadi penghalang, melainkan tantangan untuk ditaklukkan.
Kisan ini dimulai saat Rosna berusia 29 tahun. Dengan tujuh anak yang harus diberi makan dan suami yang bekerja sebagai montir truk, Rosna merantau ke Pekanbaru dengan bekal tekad dan semangat pantang menyerah.
Awalnya, hidupnya penuh dengan pekerjaan serabutan—apa saja yang penting halal. Namun, titik balik datang di usia 41 tahun ketika ia mengikuti pelatihan menenun kain songket dari Dinas Ketenagakerjaan Pekanbaru. Ia sempat ragu. Tangan sudah tak secepat dulu, usia tak muda lagi, tapi tekadnya berbicara lain. "Kalau orang lain bisa, kok saya tidak?" kata Rosna, Rabu (9/4/2025). Baca juga: Tips Padu Padan Batik dan Tenun Agar Tidak Tampil Monoton
Tiga bulan pertama, ia tekun belajar merapikan benang, menyambung motif, dan menguasai teknik dasar. Pelan tapi pasti, ia berhasil membuat kain tenun pertamanya. Sejak itu, pesanan mulai berdatangan, meski tak selalu stabil. Namun bagi Rosna, setiap helai kain adalah langkah menuju kehidupan yang lebih baik.
Tahun-tahun berlalu, hingga akhirnya pintu rezeki terbuka lebih lebar. Anak pertamanya, Dhea, yang bekerja di rumah tenun songket dan manufaktur, memperkenalkan hasil tenun Rosna ke jaringan ekspor. Kini, songket Melayu buatannya telah sampai ke Malaysia, Turki, hingga Dubai.
Tak hanya itu, ia juga mendapatkan alat tenun dari pemerintah daerah dan memulai produksi mandiri di rumah. Dalam sebulan, Rosna bisa menghasilkan 5 hingga 6 set kain tenun dengan omzet hingga Rp9 juta—semuanya tergantung tingkat kerumitan motif yang dikerjakan.
Perjalanan Rosna tak selalu mulus. Di tengah pesanan yang menggunung, ia sempat hampir menolak order karena kekurangan modal untuk membeli benang. Di titik inilah, tetangga menjadi penyelamat. Dari obrolan ringan di beranda rumah, ia tahu soal Amartha—platform pembiayaan mikro berbasis komunitas.
"Awalnya ibuk sempat ragu, tapi pas petugas Amartha datang dan bantu urus pengajuan. Alhamdulillah cair juga modal usaha," ujarnya.
Sejak 2021, ia menjadi mitra binaan Amartha. Selain pendanaan, Rosna juga mendapat pendampingan usaha, termasuk cara memasarkan kainnya lewat marketplace.
Kini, ia kembali tinggal di kampung halamannya di Solok. Rumah sudah direnovasi, suami mengelola ladang bawang, dan anak-anak turut membantu produksi maupun pemasaran. Di tengah rumah mungilnya, terdengar denting alat tenun, seolah jadi lagu pengiring harapan yang tak pernah padam.
Bagi Rosna, songket bukan sekadar kain. Ia adalah warisan budaya, identitas, dan bukti bahwa semangat bisa menembus batas usia. Ia berharap pemerintah tak hanya memberi pelatihan, tapi juga menyediakan alat tenun bagi setiap peserta. “Menenun itu harus langsung praktik. Tanpa alat, tak akan jadi,” jelasnya.
Motif favoritnya adalah Siku Keluang. Simbol tanggung jawab dan keteguhan hati, yang merepresentasikan perjuangan hidup seorang ibu, istri, dan pengusaha lokal yang kini mendunia. Baca juga: Misteri Keris Taming Sari, Pusaka Sakti Milik Hang Tuah
Rosna juga ingin generasi muda tak alergi pada warisan tradisi. "Siapapun yang punyo tekad, pasti akan basobok jalannyo,” tuturnya sembari tersenyum, tangan tak henti mengayun alat tenun.
Kisah Ibu Rosna menjadi refleksi nyata tentang tantangan dan peluang yang akan diangkat dalam The 2025 Asia Grassroots Forum oleh Amartha. Seperti ribuan perempuan pengusaha ultra mikro lainnya, ia telah membuktikan: ketika akses terhadap modal dibuka, dan semangat tetap menyala—batas tak lagi menjadi penghalang, melainkan tantangan untuk ditaklukkan.
(poe)
Lihat Juga :