Angela Gilsha Suarakan Tagar #SaveRajaAmpat, Soroti Dampak Tambang Nikel yang Lukai Alam Papua
Minggu, 08 Juni 2025 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
"Dan anak anak ini masih bisa tertawa, belum tahu bahwa dunia diam-diam mengkhianati mereka. Yang terancam bukan hanya karang, tapi masa depan mereka," tambahnya.
Ia menekankan bahwa anak-anak tersebut tidak perlu dijadikan simbol atau contoh inspiratif, karena pada dasarnya, mereka adalah cermin dari manusia yang masih alami, belum dirusak oleh sistem dan kerakusan.
Dengan tagar #SaveRajaAmpat, Angela mengajak masyarakat luas untuk kembali melihat ke dalam diri dan mempertanyakan sejauh mana kita turut andil dalam menjaga atau merusak warisan alam Indonesia.
"Anak-anak manis Raja Ampat tidak perlu dijadikan contoh, karena mereka adalah cermin dari manusia yang belum dirusak sistem #saverajaampat," ungkapnya.
Baca Juga: Sindiran Tajam Ernest Prakasa soal Tambang Nikel di Raja Ampat: Iya, Iya, Pasti Ulah Asing Kan?
Tak hanya menyampaikan pesan lewat kata-kata, Angela juga membagikan pengalaman pribadinya ketika berlibur ke Raja Ampat, tepatnya di Pulau Kawe, salah satu pulau favoritnya. Ia menampilkan momen berenang di air laut sebening kristal, melihat ikan-ikan dan karang berwarna-warni dari permukaan pantai.
Namun kebahagiaan itu dibarengi dengan rasa miris. "Ini Pulau Kawe. Salah satu pulau favorit aku waktu liburan ke Raja Ampat bulan lalu. Ada yang aneh rasanya," bebernya.
"Melihat laut sebening kristal, ikan-ikan dan karang warna-warni terlihat jelas dari tepi pantai. Lalu tau bahwa nggak jauh dari sini bahkan masih di pulau yang sama, ada tanah yang dilukai," lanjutnya.
Angela menyebut, ia melihat sendiri ada bagian pantai yang mulai mengalami sedimentasi dan keruh akibat dampak pertambangan.
"Bahkan sudah ada bagian pantai yang terkena dampak sedimentasi sehingga airnya menjadi keruh," lanjutnya.
"Ini benar-benar terjadi dan saya melihat semuanya dengan mata kepala saya sendiri. Sungguh memilukan melihatnya," sambungnya.
Ia menekankan bahwa anak-anak tersebut tidak perlu dijadikan simbol atau contoh inspiratif, karena pada dasarnya, mereka adalah cermin dari manusia yang masih alami, belum dirusak oleh sistem dan kerakusan.
Dengan tagar #SaveRajaAmpat, Angela mengajak masyarakat luas untuk kembali melihat ke dalam diri dan mempertanyakan sejauh mana kita turut andil dalam menjaga atau merusak warisan alam Indonesia.
"Anak-anak manis Raja Ampat tidak perlu dijadikan contoh, karena mereka adalah cermin dari manusia yang belum dirusak sistem #saverajaampat," ungkapnya.
Baca Juga: Sindiran Tajam Ernest Prakasa soal Tambang Nikel di Raja Ampat: Iya, Iya, Pasti Ulah Asing Kan?
Tak hanya menyampaikan pesan lewat kata-kata, Angela juga membagikan pengalaman pribadinya ketika berlibur ke Raja Ampat, tepatnya di Pulau Kawe, salah satu pulau favoritnya. Ia menampilkan momen berenang di air laut sebening kristal, melihat ikan-ikan dan karang berwarna-warni dari permukaan pantai.
Namun kebahagiaan itu dibarengi dengan rasa miris. "Ini Pulau Kawe. Salah satu pulau favorit aku waktu liburan ke Raja Ampat bulan lalu. Ada yang aneh rasanya," bebernya.
"Melihat laut sebening kristal, ikan-ikan dan karang warna-warni terlihat jelas dari tepi pantai. Lalu tau bahwa nggak jauh dari sini bahkan masih di pulau yang sama, ada tanah yang dilukai," lanjutnya.
Angela menyebut, ia melihat sendiri ada bagian pantai yang mulai mengalami sedimentasi dan keruh akibat dampak pertambangan.
"Bahkan sudah ada bagian pantai yang terkena dampak sedimentasi sehingga airnya menjadi keruh," lanjutnya.
"Ini benar-benar terjadi dan saya melihat semuanya dengan mata kepala saya sendiri. Sungguh memilukan melihatnya," sambungnya.
Lihat Juga :