Mata Minus Bisa Direm: Fakta Ortho-K untuk Anak dan Remaja

Rabu, 18 Juni 2025 - 21:31 WIB
loading...
Mata Minus Bisa Direm:...
DR. Dr. Tri Rahayu menerangkan terapi Ortho-K, terapi non-bedah yang menggunakan lensa kontak khusus saat tidur untuk mengoreksi bentuk kornea, sehingga penglihatan di siang hari menjadi jelas tanpa perlu kacamata. Foto/Dok. SindoNews
A A A
JAKARTA - Menurut data dari International Myopia Institute (IMI) Facts and Findings 2023, pada tahun 2020, sekitar 30% penduduk dunia mengalami miopia dan angka ini diperkirakan melonjak menjadi 50% pada tahun 2050. Bahkan, 1 dari 10 orang diprediksi akan mengalami miopia tinggi, yaitu kondisi rabun jauh yang lebih berat.

Miopia bukan hanya soal penglihatan kabur. Pada anak-anak, gangguan penglihatan bisa memengaruhi prestasi belajar dan kesehatan mental. Secara umum, miopia juga bisa menurunkan kualitas hidup dan menimbulkan beban ekonomi karena biaya pemeriksaan, pengobatan, serta hilangnya produktivitas.

Baca juga: 5 Sekolah Kedinasan yang Boleh Mata Minus, Lengkap dengan Persyaratannya

Faktor risiko utama miopia adalah terlalu banyak aktivitas jarak dekat seperti membaca atau bermain gawai, kurangnya waktu di luar ruangan, serta riwayat keluarga. Anak-anak dari Asia Timur dan perempuan juga dilaporkan lebih rentan menurut beberapa penelitian.

Data dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 juga menunjukkan bahwa prevalensi disabilitas penglihatan pada penduduk Indonesia berusia di atas 1 tahun mencapai 0,4%, sementara proporsi penggunaan alat bantu lihat seperti kacamata masih tergolong rendah, yakni hanya 11,9%. Rendahnya tingkat koreksi penglihatan ini menjadi sinyal bahwa masih banyak masyarakat, khususnya anak-anak, yang belum mendapatkan akses layanan mata secara memadai.

Jika dilihat dari perspektif global, laporan World Report on Vision 2019 mengungkapkan bahwa terdapat lebih dari 2,2 miliar orang di dunia yang mengalami gangguan penglihatan—dan sekitar satu miliar di antaranya sebetulnya dapat dicegah atau diobati.

Baca juga: Mata Silinder dan Minus, Nikita Willy Pilih Lakukan Operasi Lasik dengan Proses Pengerjaan 10 Detik

Miopia menjadi salah satu gangguan penglihatan yang paling banyak ditemukan, dengan sekitar 65 juta anak di seluruh dunia menderita miopia pada tahun 2023. Angka ini diperkirakan melonjak menjadi 275 juta anak pada tahun 2050 jika tidak ada upaya pencegahan dan pengendalian yang intensif dan menyeluruh.

Penelitian terbaru di Jakarta yang diterbitkan oleh The Open Public Health Journal 2023 mengungkap bahwa setelah pandemi, prevalensi gangguan refraksi pada anak sekolah dasar melonjak drastis menjadi 40%, dengan mayoritas belum pernah mendapatkan koreksi penglihatan.

Studi ini juga mencatat bahwa hanya 4% dari anak yang mengalami gangguan refraksi telah memakai kacamata sebelum pemeriksaan dilakukan, menunjukkan keterbatasan akses terhadap layanan mata yang memadai. Fenomena ini dikaitkan langsung dengan perubahan pola aktivitas selama pandemi—terutama pembelajaran daring dan penggunaan gawai secara intensif, yang berdampak pada percepatan progresi miopia.

Miopia yang tidak ditangani sejak dini dapat berkembang menjadi high myopia (lebih dari -6.00 dioptri), yang berisiko menyebabkan komplikasi serius seperti glaukoma, ablasi retina, dan katarak dini. Tak hanya berimbas pada kesehatan mata, kondisi ini juga berdampak pada prestasi akademik dan kualitas hidup anak secara keseluruhan.

Kesehatan mata yang baik terbukti berperan penting dalam pencapaian belajar; pemberian kacamata yang sesuai bahkan dapat menurunkan risiko kegagalan belajar hingga 44%. Gangguan refraksi yang tidak dikoreksi juga berkontribusi terhadap beban ekonomi, baik bagi keluarga maupun negara.

Beberapa studi menunjukkan bahwa gangguan penglihatan berkontribusi terhadap kerugian ekonomi akibat penurunan produktivitas, serta meningkatnya beban biaya kesehatan. Oleh karena itu, strategi promotif dan preventif seperti skrining dini dan peningkatan akses terhadap layanan mata menjadi sangat krusial.

Menanggapi tantangan ini, JEC Eye Hospitals and Clinics menghadirkan solusi komprehensif yang tidak hanya memperbaiki penglihatan, tetapi juga mencegah progresi miopia secara efektif. Salah satunya adalah terapi Orthokeratology (Ortho-K)—terapi non-bedah yang menggunakan lensa kontak khusus saat tidur untuk mengoreksi bentuk kornea, sehingga penglihatan di siang hari menjadi jelas tanpa perlu kacamata.

“Miopia bukan sekadar kondisi mata yang memerlukan kacamata. Ini adalah kondisi progresif yang harus ditangani sejak awal agar tidak berkembang menjadi miopia tinggi dengan risiko komplikasi serius,” ujar DR. Dr. Tri Rahayu, SpM(K), FIACLE, Ketua Contact Lens Service di JEC Eye Hospitals and Clinics.

Menurutnya, kecepatan pertambahan minus sangat dipengaruhi oleh gaya hidup dan factor genetik. Kurangnya paparan sinar matahari alami, terlalu banyak waktu di dalam ruangan, serta riwayat keluarga dengan miopia menjadi faktor risiko utama. “Dalam situasi pascapandemi, kami melihat peningkatan tajam jumlah anak dengan miopia, terutama karena perubahan pola aktivitas harian yang lebih sedentari dan didominasi layar digital,” jelasnya.

Ortho-K menjadi alternatif yang aman, reversibel, dan tidak invasif bagi anak-anak. Di JEC, telah hadir lensa dan teknologi terbaru dari Jepang—yang memungkinkan koreksi hingga -8.00 dioptri dan silinder hingga -3.00 dioptri.

Teknologi ini memberikan pilihan yang lebih luas bagi anak-anak dengan derajat minus yang tinggi. Fokus utama terapi ini bukan sekadar memperbaiki penglihatan, tapi juga menghambat progres atau kenaikan minus, terutama pada anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan.

Semua layanan ini ditangani oleh dokter dan optometris berpengalaman dengan pendekatan yang aman
dan terstandar di JEC Eye Hospitals and Clinics. JEC mendorong para orang tua untuk segera melakukan skrining penglihatan, terutama pada anak usia sekolah dasar. Deteksi dini membuka peluang lebih besar untuk menghambat progresi miopia dan mencegah komplikasi di masa depan.

Tingkat keberhasilan terapi dengan Ortho-K sangat ditentukan oleh kepatuhan penggunaan dan dukungan dari orang tua. “Anak-anak harus rutin memakai lensa setiap malam dan melakukan kontrol berkala. Peran orang tua dalam mendampingi dan memastikan kebersihan serta jadwal kontrol sangat penting untuk menjamin keberhasilan terapi,” tambah Dr. Tri.

JEC Eye Hospitals and Clinics telah berpengalaman selama puluhan tahun dalam menangani kasus miopia progresif pada anak, dengan pendekatan multidisiplin, teknologi diagnostic canggih, serta tim dokter subspesialis yang berdedikasi. Dalam kasus nyata, seorang anak usia 9 tahun dengan minus -3.50 di kedua mata menunjukkan peningkatan signifikan setelah satu tahun terapi Ortho-K, dengan progresi minus hanya -0.25—jauh di bawah rata-rata pertambahan minus tahunan pada anak seusianya.
(nnz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mengenal Ptosis, Kondisi...
Mengenal Ptosis, Kondisi Kelopak Mata yang Disindir Dokter Tompi
Apakah Mata Minus Bisa...
Apakah Mata Minus Bisa Berkurang? Cek Jawaban dan Solusinya
SiLK, Teknologi Lasik...
SiLK, Teknologi Lasik Terbaru yang Nyaman dengan Pemulihan Cepat
Alami Kebutaan, Dewi...
Alami Kebutaan, Dewi Yull Belajar Ikhlas dari Anaknya yang Tuna Rungu
Elton John Terjangkit...
Elton John Terjangkit Infeksi Mata, Sudah Sulit untuk Melihat
Mata Bisa Deteksi Dini...
Mata Bisa Deteksi Dini Diabetes hingga Kanker, Perhatikan Tanda-tandanya
Kampanye Bebas Mata...
Kampanye Bebas Mata SePeLe Ajak Masyarakat Peduli Gejala Mata Kering
Kamera Tercanggih di...
Kamera Tercanggih di Dunia Ternyata Ada di Wajah Anda: Misteri Berapa Megapiksel Mata Manusia Terungkap
5 Sekolah Kedinasan...
5 Sekolah Kedinasan yang Boleh Mata Minus, Lengkap dengan Persyaratannya
Rekomendasi
Dewan Etik Partai Golkar...
Dewan Etik Partai Golkar Jatuhkan Sanksi kepada 3 Kader dari Sumsel
Licin! Markas Judi Online...
Licin! Markas Judi Online di Hayam Wuruk Kelola 145 Website untuk Hindari Pemblokiran
Pengadilan Inggris Butuh...
Pengadilan Inggris Butuh 300 Tahun untuk Selesaikan Tumpukan Kasus
Berita Terkini
Amanda Manopo Resmi...
Amanda Manopo Resmi Laporkan Pencemaran Nama Baik Demi Sang Buah Hati
Benarkah Fruktosa dalam...
Benarkah Fruktosa dalam Buah Bisa Memicu Asam Urat? Ini Penjelasan Guru Besar IPB
Raffi Ahmad Donasi Rp250...
Raffi Ahmad Donasi Rp250 Juta untuk Wanita Korban Penyiksaan Taufik Hidayat
Davina Karamoy Curi...
Davina Karamoy Curi Perhatian saat Nonton Ardhito Pramono Manggung di Musiczone Okezone
Gandeng Fuji, Bella...
Gandeng Fuji, Bella Shofie Ajak Emak-Emak Melek Digital dan Mandiri Secara Finansial
Sukses Lewat Cerita...
Sukses Lewat 'Cerita Lila', SHOW Bersiap Dukung Deretan Film Indonesia Go International
Infografis
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved