Brasil Rilis Hasil Autopsi Juliana Marins, Konsisten dengan Temuan di Indonesia
Jum'at, 11 Juli 2025 - 19:20 WIB
loading...
Brasil merilis hasil autopsi terbaru Juliana Marins yang meninggal dunia usai terjatuh mendaki Gunung Rinjani. Laporan ini mengonfirmasi forensik di Indonesia. Foto/Oglobo
A
A
A
JAKARTA - Brasil akhirnya merilis hasil autopsi terbaru Juliana Marins yang meninggal dunia usai terjatuh saat mendaki Gunung Rinjani, Lombok. Laporan ini mengonfirmasi kesimpulan yang sebelumnya telah diungkap dalam pemeriksaan forensik di Indonesia.
Autopsi jenazah Juliana Marins dilakukan di Institut Medis Forensik yang berlokasi di pusat kota Rio de Janeiro. Proses ini melibatkan dua dokter forensik dari Kepolisian Sipil, disaksikan langsung oleh seorang petugas medis dari Kepolisian Federal, serta seorang ahli independen yang ditunjuk secara khusus oleh pihak keluarga untuk memastikan transparansi dan objektivitas hasil.
Menurut laporan stasiun TV Globo, hasil autopsi kedua tersebut tidak memberikan waktu pasti kapan Juliana menghembuskan napas terakhirnya. Namun, para ahli forensik Brasil menyimpulkan bahwa korban kemungkinan sempat hidup selama 10 hingga 15 menit setelah mengalami benturan hebat akibat jatuh.
Baca Juga: Agam Rinjani Ungkap Kondisi Tragis Jenazah Juliana Marins: Kepala Retak, Kaki Patah
![Brasil Rilis Hasil Autopsi Juliana Marins, Konsisten dengan Temuan di Indonesia]()
Foto/Instagram Juliana Marins
Dalam periode tersebut, tubuh Juliana diduga memasuki fase “agonal”, yakni kondisi kritis antara trauma parah dan kematian, yang ditandai dengan rasa sakit hebat dan penurunan fungsi organ vital secara cepat. Pada saat itu, korban tidak dalam kondisi untuk bisa bergerak atau merespons dengan sadar.
Dilansir dari Oglobo, Jumat (11/7/2025), sama seperti laporan medis yang dilakukan sebelumnya oleh tim forensik di Indonesia, pemeriksaan lanjutan ini juga tidak mampu menentukan secara pasti tanggal maupun waktu kematian Juliana.
Keluarga wanita 26 tahun tersebut pun kembali menyuarakan kekecewaannya terhadap penanganan di lapangan. Terutama keterlambatan proses evakuasi yang dinilai terlalu lama.
Baca Juga: Dokter Pastikan Juliana Marins Meninggal Bukan karena Kelaparan
Juliana Marins dilaporkan terjatuh dari tebing saat mendaki Gunung Rinjani pada 21 Juni 2025. Meski sempat bertahan hidup setelah insiden tersebut, bantuan medis baru datang hampir empat hari kemudian.
Jenazahnya akhirnya berhasil dievakuasi pada 25 Juni 2025 dengan dukungan relawan dan tim penyelamat lokal. Sementara itu, sebagai bentuk penghormatan atas tragedi ini, Pemerintah Kota Niterói di Brasil telah meresmikan plakat memorial yang ditempatkan di kawasan Camboinhas.
Nama Juliana kini juga diabadikan sebagai nama baru dari titik pengamatan dan pantai Praia do Sossego, untuk mengenang semangat petualangan dan kecintaannya terhadap alam.
Baca Juga: Hasil Autopsi Ungkap Juliana Marins Meninggal 20 Menit setelah Jatuh di Gunung Rinjani
Autopsi jenazah Juliana Marins dilakukan di Institut Medis Forensik yang berlokasi di pusat kota Rio de Janeiro. Proses ini melibatkan dua dokter forensik dari Kepolisian Sipil, disaksikan langsung oleh seorang petugas medis dari Kepolisian Federal, serta seorang ahli independen yang ditunjuk secara khusus oleh pihak keluarga untuk memastikan transparansi dan objektivitas hasil.
Menurut laporan stasiun TV Globo, hasil autopsi kedua tersebut tidak memberikan waktu pasti kapan Juliana menghembuskan napas terakhirnya. Namun, para ahli forensik Brasil menyimpulkan bahwa korban kemungkinan sempat hidup selama 10 hingga 15 menit setelah mengalami benturan hebat akibat jatuh.
Baca Juga: Agam Rinjani Ungkap Kondisi Tragis Jenazah Juliana Marins: Kepala Retak, Kaki Patah

Foto/Instagram Juliana Marins
Dalam periode tersebut, tubuh Juliana diduga memasuki fase “agonal”, yakni kondisi kritis antara trauma parah dan kematian, yang ditandai dengan rasa sakit hebat dan penurunan fungsi organ vital secara cepat. Pada saat itu, korban tidak dalam kondisi untuk bisa bergerak atau merespons dengan sadar.
Dilansir dari Oglobo, Jumat (11/7/2025), sama seperti laporan medis yang dilakukan sebelumnya oleh tim forensik di Indonesia, pemeriksaan lanjutan ini juga tidak mampu menentukan secara pasti tanggal maupun waktu kematian Juliana.
Keluarga wanita 26 tahun tersebut pun kembali menyuarakan kekecewaannya terhadap penanganan di lapangan. Terutama keterlambatan proses evakuasi yang dinilai terlalu lama.
Baca Juga: Dokter Pastikan Juliana Marins Meninggal Bukan karena Kelaparan
Juliana Marins dilaporkan terjatuh dari tebing saat mendaki Gunung Rinjani pada 21 Juni 2025. Meski sempat bertahan hidup setelah insiden tersebut, bantuan medis baru datang hampir empat hari kemudian.
Jenazahnya akhirnya berhasil dievakuasi pada 25 Juni 2025 dengan dukungan relawan dan tim penyelamat lokal. Sementara itu, sebagai bentuk penghormatan atas tragedi ini, Pemerintah Kota Niterói di Brasil telah meresmikan plakat memorial yang ditempatkan di kawasan Camboinhas.
Nama Juliana kini juga diabadikan sebagai nama baru dari titik pengamatan dan pantai Praia do Sossego, untuk mengenang semangat petualangan dan kecintaannya terhadap alam.
Baca Juga: Hasil Autopsi Ungkap Juliana Marins Meninggal 20 Menit setelah Jatuh di Gunung Rinjani
(dra)
Lihat Juga :