Bahaya Filter Berlebihan di TikTok, Remaja Terancam Krisis Percaya Diri
Senin, 14 Juli 2025 - 15:20 WIB
loading...
Tren penggunaan filter berlebihan di TikTok kian mencemaskan, terutama bagi remaja yang masih membangun rasa percaya diri. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Tren penggunaan filter berlebihan di TikTok kian mencemaskan, terutama bagi remaja yang masih membangun rasa percaya diri. Data menunjukkan 8 dari 10 remaja perempuan membandingkan penampilan mereka dengan orang lain di media sosial, sementara setengahnya merasa standar kecantikan palsu yang tersebar lewat filter merusak harga diri mereka.
Fenomena ini memicu tekanan psikologis yang tidak kecil, di mana remaja kerap merasa gagal memenuhi standar kecantikan digital yang jauh dari realita.
Di balik maraknya tren filter, muncul konsekuensi serius berupa meningkatnya rasa cemas dan depresi. Remaja menjadi terlalu fokus pada citra palsu, hingga kehilangan perspektif tentang nilai diri yang sebenarnya.
Survei Dove Self-Esteem Project mencatat bahwa 20% remaja perempuan mengalami perundungan siber terkait penampilan, dan hampir separuhnya tidak pernah melaporkan kejadian tersebut kepada orang dewasa. Situasi ini menunjukkan kerentanan generasi muda yang terus terpaku pada standar estetika media sosial.
Kondisi ini makin diperparah karena tidak semua remaja mendapat edukasi tentang cara menilai konten digital secara kritis. Banyak dari mereka menganggap apa yang dilihat di TikTok adalah cerminan kehidupan nyata, padahal mayoritas unggahan sudah dipoles dengan filter dan teknik editing. Tanpa pendampingan orang tua atau wali, risiko gangguan citra tubuh dan gangguan mental pun semakin mengancam.
Fenomena ini memicu tekanan psikologis yang tidak kecil, di mana remaja kerap merasa gagal memenuhi standar kecantikan digital yang jauh dari realita.
Di balik maraknya tren filter, muncul konsekuensi serius berupa meningkatnya rasa cemas dan depresi. Remaja menjadi terlalu fokus pada citra palsu, hingga kehilangan perspektif tentang nilai diri yang sebenarnya.
Survei Dove Self-Esteem Project mencatat bahwa 20% remaja perempuan mengalami perundungan siber terkait penampilan, dan hampir separuhnya tidak pernah melaporkan kejadian tersebut kepada orang dewasa. Situasi ini menunjukkan kerentanan generasi muda yang terus terpaku pada standar estetika media sosial.
Kondisi ini makin diperparah karena tidak semua remaja mendapat edukasi tentang cara menilai konten digital secara kritis. Banyak dari mereka menganggap apa yang dilihat di TikTok adalah cerminan kehidupan nyata, padahal mayoritas unggahan sudah dipoles dengan filter dan teknik editing. Tanpa pendampingan orang tua atau wali, risiko gangguan citra tubuh dan gangguan mental pun semakin mengancam.
Lihat Juga :