Tradisi Bedulang Bangka Belitung, Makan Bersama dalam Nuansa Kearifan Lokal
Senin, 21 Juli 2025 - 20:40 WIB
loading...
Keindahan Bangka Belitung tak hanya terletak pada pantainya yang eksotis seperti Pulau Lengkuas dan Pulau Kelayang. Tetapi juga pada kekayaan budaya. Foto/Dimas Andhika Fikri
A
A
A
BANGKA BELITUNG - Keindahan Bangka Belitung tak hanya terletak pada pantainya yang eksotis seperti Pulau Lengkuas dan Pulau Kelayang. Tetapi juga pada kekayaan budaya yang masih dijaga hingga kini.
Salah satu tradisi unik yang mencerminkan kearifan lokal masyarakat Bangka Belitung adalah makan bedulang. Ini merupakan sebuah ritual makan bersama yang sarat nilai kebersamaan dan kesopanan.
Bedulang berasal dari kata dulang, yaitu nampan besar tempat menyajikan makanan. Tradisi ini dilakukan dengan cara makan bersama di atas satu dulang, biasanya oleh empat hingga enam orang yang duduk bersila mengelilinginya. Bedulang bukan hanya soal makan, tapi juga merupakan simbol persatuan, keakraban, dan penghormatan antarindividu dalam masyarakat.
Tradisi ini telah ada sejak masuknya budaya Melayu-Islam ke wilayah Bangka dan Belitung. Dahulu, makan bedulang merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat pesisir yang menjunjung tinggi semangat komunal. Namun, seiring perkembangan zaman, praktik ini lebih sering ditemui dalam acara-acara penting seperti syukuran, pernikahan, khitanan, Maulid Nabi, hingga perayaan hari besar keagamaan.
![Tradisi Bedulang Bangka Belitung, Makan Bersama dalam Nuansa Kearifan Lokal]()
Foto/Dimas Andhika Fikri
Baca Juga: 7 Kuliner Legendaris Malang yang Wajib Dicoba, Kelezatannya Melegenda
Dalam pelaksanaannya, tradisi ini sangat menjunjung tinggi adab dan struktur sosial. Biasanya, orang yang paling tua dalam kelompok akan diberikan kehormatan untuk membuka mentudong, yakni tudung saji khas yang menutupi makanan. Setelah itu, peserta termuda akan membagikan piring kepada seluruh anggota kelompok sebagai bentuk penghormatan kepada yang lebih tua.
Setiap hidangan yang disajikan dalam dulang memiliki makna dan filosofi tersendiri. Menu tradisional seperti lempah kuning, ikan bakar, sambal belacan, dan aneka sayur mayur turut memperkaya pengalaman kuliner dalam tradisi ini.
Meski dunia terus berkembang, masyarakat Bangka Belitung tetap menjaga keberlangsungan budaya ini. Bahkan, beberapa restoran dan destinasi wisata di wilayah tersebut kini turut menghidupkan kembali makan bedulang sebagai bagian dari atraksi budaya yang edukatif dan menggugah selera.
Tak hanya menyajikan kelezatan makanan khas, tradisi bedulang juga mengajarkan pentingnya nilai kesederhanaan, kebersamaan, dan rasa hormat terhadap sesama. Bagi wisatawan, ikut serta dalam makan bedulang adalah cara terbaik untuk menyatu dengan budaya lokal dan merasakan hangatnya kebersamaan ala masyarakat Bangka Belitung.
Lalu apa saja menu makanan yang disajikan? SindoNews berkesempatan langsung mencicipi kelezat set menu bedulang yang disajikan langsung di dalam rumah adat khas Bangka Belitung.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Kuliner Enak di Malang, Ada yang Legendaris sejak 1930
Menu utama dalam dulang adalah gangan, semacam sup berkuah kuning yang terbagi menjadi dua jenis yakni, gangan darat yang biasanya berisi daging ayam, sapi, atau ikan air tawar seperti lele dan gangan laut yang menggunakan ikan laut segar.
Keunikan gangan sendiri terletak pada sensasi rasanya yang gurih karena diolah dengan potongan singkong. Lalu diberi tambahan daun kedondong untuk memperkaya cita rasanya. Tekstur daging yang empuk terasa begitu nikmat saat disantap bersama nasi putih hangat.
Sesuai dengan namanya, hidangan ayam ini dimasak dengan bumbu ketumbar dan potongan nanas segar yang dimasukkan di akhir proses memasak agar teksturnya tetap crunchy. Kombinasi sensasi rasa gurih dan segarnya benar-benar menggoyang lidah.
"Selain ayam, versi lain hidangan ini juga bisa menggunakan cumi atau bebek yang sebelumnya dimarinasi dengan jahe untuk memudarkan aroma amisnya," tutur Nunik Febrianti, salah satu pengurus Rumah Adat Bangka Belitung.
Sajian selanjutnya cukup mencuri perhatian. Ikan pari segar dibakar menggunakan sabut kelapa agar aroma smokey-nya mencuat ketika diolah dengan bumbu lainnya. Setelah matang, daging ikan disuwir lalu dimasak dengan kucai, santan, dan rempah-rempah seperti bawang, kunyit, dan cabai untuk menghilangkan amis.
Rasanya gurih, lembut, dengan sedikit sensasi pedas yang menggugah selera.
Meski disebut sate ikan, bentuk hidangan ini lebih menyerupai rolade. Sri mengatakan, dulunya resep hidangan ini dibuat untuk anak-anak yang sulit makan ikan karena durinya.
Sate ikan sendiri dibuat dari daging ikan giling yang dicampur bengkuang dan lada, kemudian dikukus atau direbus. Kemudian diberi potongan daun bawang. Sekilas rasanya seperti otak-otak namun sedikit agak kompleks dan lebih mengenyangkan.
Pelengkap tak kalah penting adalah lalapan khas seperti jantung pisang, kecipir, terong telunjuk, hingga bunga kencur. Disajikan bersama sambal serai yang aromatik, membuat seluruh sajian dalam dulang menjadi semakin kaya rasa dan warna.
"Khusus di sini, sambal serainya dimodifikasi tidak terlalu pedas agar bisa diterima di lidah wisatawan. Sebetulnya tingkat kepedasan warga Belitong jauh lebih pedas," tutup Nunik.
Nah bagi Anda yang tertarik menjajal tradisi makan Bedulang khas Bangka Belitung sembari melihat langsung kemegahan rumah adatnya, Anda bisa menyambangi Rumah Adat Belitung di Jl. Gajah Mada, Lesung Batang, Tj. Pandan, Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung. Lokasinya persis di samping kantor Bupati Bangka Belitung.
Sementara untuk paket menu makan Bedulang sendiri dibanderol mulai Rp200 ribu, disesuaikan degan jenis lauk yang dipilih oleh wisatawan.
Baca Juga: 5 Bakmi Viral di Blok M, Surga Kuliner bagi Pecinta Mi
Salah satu tradisi unik yang mencerminkan kearifan lokal masyarakat Bangka Belitung adalah makan bedulang. Ini merupakan sebuah ritual makan bersama yang sarat nilai kebersamaan dan kesopanan.
Apa Itu Tradisi Bedulang?
Bedulang berasal dari kata dulang, yaitu nampan besar tempat menyajikan makanan. Tradisi ini dilakukan dengan cara makan bersama di atas satu dulang, biasanya oleh empat hingga enam orang yang duduk bersila mengelilinginya. Bedulang bukan hanya soal makan, tapi juga merupakan simbol persatuan, keakraban, dan penghormatan antarindividu dalam masyarakat.
Tradisi ini telah ada sejak masuknya budaya Melayu-Islam ke wilayah Bangka dan Belitung. Dahulu, makan bedulang merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat pesisir yang menjunjung tinggi semangat komunal. Namun, seiring perkembangan zaman, praktik ini lebih sering ditemui dalam acara-acara penting seperti syukuran, pernikahan, khitanan, Maulid Nabi, hingga perayaan hari besar keagamaan.

Foto/Dimas Andhika Fikri
Baca Juga: 7 Kuliner Legendaris Malang yang Wajib Dicoba, Kelezatannya Melegenda
Makna dan Tata Cara Makan Bedulang
Dalam pelaksanaannya, tradisi ini sangat menjunjung tinggi adab dan struktur sosial. Biasanya, orang yang paling tua dalam kelompok akan diberikan kehormatan untuk membuka mentudong, yakni tudung saji khas yang menutupi makanan. Setelah itu, peserta termuda akan membagikan piring kepada seluruh anggota kelompok sebagai bentuk penghormatan kepada yang lebih tua.
Setiap hidangan yang disajikan dalam dulang memiliki makna dan filosofi tersendiri. Menu tradisional seperti lempah kuning, ikan bakar, sambal belacan, dan aneka sayur mayur turut memperkaya pengalaman kuliner dalam tradisi ini.
Bedulang Tradisi Kuliner yang Tetap Hidup di Tengah Modernisasi
Meski dunia terus berkembang, masyarakat Bangka Belitung tetap menjaga keberlangsungan budaya ini. Bahkan, beberapa restoran dan destinasi wisata di wilayah tersebut kini turut menghidupkan kembali makan bedulang sebagai bagian dari atraksi budaya yang edukatif dan menggugah selera.
Tak hanya menyajikan kelezatan makanan khas, tradisi bedulang juga mengajarkan pentingnya nilai kesederhanaan, kebersamaan, dan rasa hormat terhadap sesama. Bagi wisatawan, ikut serta dalam makan bedulang adalah cara terbaik untuk menyatu dengan budaya lokal dan merasakan hangatnya kebersamaan ala masyarakat Bangka Belitung.
Lalu apa saja menu makanan yang disajikan? SindoNews berkesempatan langsung mencicipi kelezat set menu bedulang yang disajikan langsung di dalam rumah adat khas Bangka Belitung.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Kuliner Enak di Malang, Ada yang Legendaris sejak 1930
1. Gangan: Sup Kaya Rasa Khas Bangka Belitung
Menu utama dalam dulang adalah gangan, semacam sup berkuah kuning yang terbagi menjadi dua jenis yakni, gangan darat yang biasanya berisi daging ayam, sapi, atau ikan air tawar seperti lele dan gangan laut yang menggunakan ikan laut segar.
Keunikan gangan sendiri terletak pada sensasi rasanya yang gurih karena diolah dengan potongan singkong. Lalu diberi tambahan daun kedondong untuk memperkaya cita rasanya. Tekstur daging yang empuk terasa begitu nikmat saat disantap bersama nasi putih hangat.
2. Ayam Ketumbar
Sesuai dengan namanya, hidangan ayam ini dimasak dengan bumbu ketumbar dan potongan nanas segar yang dimasukkan di akhir proses memasak agar teksturnya tetap crunchy. Kombinasi sensasi rasa gurih dan segarnya benar-benar menggoyang lidah.
"Selain ayam, versi lain hidangan ini juga bisa menggunakan cumi atau bebek yang sebelumnya dimarinasi dengan jahe untuk memudarkan aroma amisnya," tutur Nunik Febrianti, salah satu pengurus Rumah Adat Bangka Belitung.
3. Ikan Pari Masak Kucai
Sajian selanjutnya cukup mencuri perhatian. Ikan pari segar dibakar menggunakan sabut kelapa agar aroma smokey-nya mencuat ketika diolah dengan bumbu lainnya. Setelah matang, daging ikan disuwir lalu dimasak dengan kucai, santan, dan rempah-rempah seperti bawang, kunyit, dan cabai untuk menghilangkan amis.
Rasanya gurih, lembut, dengan sedikit sensasi pedas yang menggugah selera.
4. Sate Ikan
Meski disebut sate ikan, bentuk hidangan ini lebih menyerupai rolade. Sri mengatakan, dulunya resep hidangan ini dibuat untuk anak-anak yang sulit makan ikan karena durinya.
Sate ikan sendiri dibuat dari daging ikan giling yang dicampur bengkuang dan lada, kemudian dikukus atau direbus. Kemudian diberi potongan daun bawang. Sekilas rasanya seperti otak-otak namun sedikit agak kompleks dan lebih mengenyangkan.
5. Aneka Lalapan dan Sambal Serai
Pelengkap tak kalah penting adalah lalapan khas seperti jantung pisang, kecipir, terong telunjuk, hingga bunga kencur. Disajikan bersama sambal serai yang aromatik, membuat seluruh sajian dalam dulang menjadi semakin kaya rasa dan warna.
"Khusus di sini, sambal serainya dimodifikasi tidak terlalu pedas agar bisa diterima di lidah wisatawan. Sebetulnya tingkat kepedasan warga Belitong jauh lebih pedas," tutup Nunik.
Nah bagi Anda yang tertarik menjajal tradisi makan Bedulang khas Bangka Belitung sembari melihat langsung kemegahan rumah adatnya, Anda bisa menyambangi Rumah Adat Belitung di Jl. Gajah Mada, Lesung Batang, Tj. Pandan, Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung. Lokasinya persis di samping kantor Bupati Bangka Belitung.
Sementara untuk paket menu makan Bedulang sendiri dibanderol mulai Rp200 ribu, disesuaikan degan jenis lauk yang dipilih oleh wisatawan.
Baca Juga: 5 Bakmi Viral di Blok M, Surga Kuliner bagi Pecinta Mi
(dra)
Lihat Juga :