One Piece, Manga Terlaris yang Benderanya Ramai Dikibarkan Jelang HUT ke-80 RI
Jum'at, 01 Agustus 2025 - 12:20 WIB
loading...
A
A
A
Faktanya, hingga 2025, One Piece masih terus berlanjut dan saat ini memasuki Final Saga, dengan cerita terbaru berada dalam Elbaf Arc. Yakni sebuah wilayah para raksasa yang telah lama dinantikan penggemar. Estimasi terbaru dari tim kreatif menyebutkan serial ini kemungkinan baru akan selesai sekitar tahun 2030-2032.
Menjelang HUT ke-80 RI, media sosial diramaikan oleh fenomena pengibaran bendera Bajak Laut Topi Jerami berdampingan dengan bendera Merah Putih. Aksi ini tersebar luas di berbagai daerah, dari halaman rumah warga hingga kendaraan umum seperti truk dan mobil pribadi.
Meski sekilas terlihat sebagai bentuk kecintaan pada anime, pengibaran Jolly Roger justru dipahami banyak kalangan sebagai bentuk kritik sosial dan simbol perlawanan rakyat terhadap ketidakadilan.
Pengibaran bendera Bajak Laut Topi Jerami dari serial One Piece di berbagai wilayah Indonesia menjelang HUT ke-80 RI memunculkan beragam tafsir simbolik yang menarik perhatian publik. Dalam konteks cerita One Piece sendiri, bendera bajak laut dikenal sebagai Jolly Roger, melambangkan semangat perlawanan terhadap kekuasaan yang korup dan otoriter, khususnya Pemerintah Dunia yang menindas.
Oleh karena itu, banyak yang menilai pengibaran bendera ini di dunia nyata sebagai bentuk kritik sosial terhadap pemerintah. Terutama atas kebijakan yang dirasa tidak berpihak pada rakyat kecil.
Selain itu, tindakan ini juga dipahami sebagai ungkapan kekecewaan masyarakat, yang disampaikan secara simbolik dan kreatif melalui ikon budaya populer. Fenomena ini menunjukkan bagaimana karya fiksi seperti One Piece mampu menjadi medium perlawanan kultural yang kuat dan menyuarakan keresahan publik secara luas.
Fenomena ini memicu tanggapan dari berbagai pihak. Beberapa politisi menganggap pengibaran bendera anime sebagai upaya memecah belah bangsa, bahkan ada yang menyebutnya sebagai bentuk hasutan.
"Kita juga mendeteksi dan juga dapat masukan dari lembaga-lembaga pengamanan dan intelijen. Memang ada upaya-upaya yang namanya untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa," kata Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad.
Namun, banyak pengamat budaya justru melihatnya sebagai bentuk ekspresi budaya populer yang berkembang menjadi saluran kritik sosial. One Piece dinilai mampu mengartikulasikan keresahan masyarakat melalui narasi yang mudah diterima berbagai kalangan.
"Ini adalah simbol kebebasan dan perlawanan terhadap pemerintah yang zalim. Nggak apa-apa terusin, tapi tetap ingat kata Gus Dur boleh ngibarin bendara lain tapi nggak boleh lebih tinggi dari merah putih dan inget lagi kita cuma benci sistem pemerintahnya, bukan NKRI-nya," tulis warganet.
"Negara sudah kacau soalnya kurangnya keadilan. Malah makin susah negara ini akibat 10 tahun lalu utang dan pengelolaan kacau. Kita lebih percaya sistem One Piece," kata warganet.
"Di One Piece, yang ngaku pemerintah malah banyak yang korup, nutupin sejarah, dan ngejar orang jujur. Mirip? wajar kalau orang muak. Pasang bendera Luffy itu bentuk frustasi, bukan makar. Karena kadang, bajak laut lebih bisa dipercaya daripada pejabat," komentar warganet.
Fenomena Pengibaran Bendera One Piece di Indonesia
Menjelang HUT ke-80 RI, media sosial diramaikan oleh fenomena pengibaran bendera Bajak Laut Topi Jerami berdampingan dengan bendera Merah Putih. Aksi ini tersebar luas di berbagai daerah, dari halaman rumah warga hingga kendaraan umum seperti truk dan mobil pribadi.
Meski sekilas terlihat sebagai bentuk kecintaan pada anime, pengibaran Jolly Roger justru dipahami banyak kalangan sebagai bentuk kritik sosial dan simbol perlawanan rakyat terhadap ketidakadilan.
Pengibaran bendera Bajak Laut Topi Jerami dari serial One Piece di berbagai wilayah Indonesia menjelang HUT ke-80 RI memunculkan beragam tafsir simbolik yang menarik perhatian publik. Dalam konteks cerita One Piece sendiri, bendera bajak laut dikenal sebagai Jolly Roger, melambangkan semangat perlawanan terhadap kekuasaan yang korup dan otoriter, khususnya Pemerintah Dunia yang menindas.
Oleh karena itu, banyak yang menilai pengibaran bendera ini di dunia nyata sebagai bentuk kritik sosial terhadap pemerintah. Terutama atas kebijakan yang dirasa tidak berpihak pada rakyat kecil.
Selain itu, tindakan ini juga dipahami sebagai ungkapan kekecewaan masyarakat, yang disampaikan secara simbolik dan kreatif melalui ikon budaya populer. Fenomena ini menunjukkan bagaimana karya fiksi seperti One Piece mampu menjadi medium perlawanan kultural yang kuat dan menyuarakan keresahan publik secara luas.
Reaksi Publik
Fenomena ini memicu tanggapan dari berbagai pihak. Beberapa politisi menganggap pengibaran bendera anime sebagai upaya memecah belah bangsa, bahkan ada yang menyebutnya sebagai bentuk hasutan.
"Kita juga mendeteksi dan juga dapat masukan dari lembaga-lembaga pengamanan dan intelijen. Memang ada upaya-upaya yang namanya untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa," kata Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad.
Namun, banyak pengamat budaya justru melihatnya sebagai bentuk ekspresi budaya populer yang berkembang menjadi saluran kritik sosial. One Piece dinilai mampu mengartikulasikan keresahan masyarakat melalui narasi yang mudah diterima berbagai kalangan.
"Ini adalah simbol kebebasan dan perlawanan terhadap pemerintah yang zalim. Nggak apa-apa terusin, tapi tetap ingat kata Gus Dur boleh ngibarin bendara lain tapi nggak boleh lebih tinggi dari merah putih dan inget lagi kita cuma benci sistem pemerintahnya, bukan NKRI-nya," tulis warganet.
"Negara sudah kacau soalnya kurangnya keadilan. Malah makin susah negara ini akibat 10 tahun lalu utang dan pengelolaan kacau. Kita lebih percaya sistem One Piece," kata warganet.
"Di One Piece, yang ngaku pemerintah malah banyak yang korup, nutupin sejarah, dan ngejar orang jujur. Mirip? wajar kalau orang muak. Pasang bendera Luffy itu bentuk frustasi, bukan makar. Karena kadang, bajak laut lebih bisa dipercaya daripada pejabat," komentar warganet.
(dra)
Lihat Juga :