Festival Budaya Lembah Baliem 2025 bakal Masuk MURI, Tampilkan 1.500 Pemain Pikon
Rabu, 06 Agustus 2025 - 20:00 WIB
loading...
Festival Budaya Lembah Baliem merupakan agenda tourist destination dan menjadi tanda perayaan 100 Hari Kerja Bupati Kabupaten Jayawijaya serta HUT ke-80 RI. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) merupakan agenda tourist destination dan menjadi tanda perayaan 100 Hari Kerja Bupati Kabupaten Jayawijaya serta HUT ke-80 RI.
Pasalnya, sejak perayaan ini dimulai pada 1989, FBLB ditujukan sebagai wahana untuk melestarikan dan memperkenalkan budaya Lembah Baliem dari generasi tua kepada anak muda maupun sebagai ajang pertunjukan bagi wisatawan. Geographically, Lembah Baliem is the heart of Tanah Papua yang sering menjadi pusat kebudayaan dan keberagaman.
Tahun ini, acara yang berlangsung di Distrik Usilimo, sekira 30 menit berkendaraan ke arah barat dari Kota Wamena, akan mengangkat tema “Budaya Saya, Warisan Saya, Dari Jayawijaya Untuk Dunia”.
"Festival Budaya Lembah Baliem menjadi ikonik bagi turis domestik maupun mancanegara karena memiliki karakteristik yang unik, mengesankan, mengharukan, dan juga mendebarkan hati karena ada penampilan perang-perangan (perang tiruan). Hal ini, peragaan budaya yang unik dan antik pada abad milenial ketika banyak orang terkosentrasi pada modernitas, membuat FBLB selalu memiliki kesan dan daya tarik tersendiri bagi setiap pengunjuk sekaligus memperkaya khasanah budaya bangsa Indonesia di kanca internasional," tutur Bupati Kabupaten Jayawijaya Atenius Murip.
Bahkan, FBLB menjadi salah satu event festival tertua di Indonesia dan masuk TOP 10 Karisma Event Nusantara (KEN), seperti Cap Go Meh Singkawang (Kalimantan Barat), Pesta Kesenian Bali (Bali) dan Semasa Piknik (DKI Jakarta).
FBLB merupakan momentum yang sangat dinantikan oleh semua pegiat dan pemikat karena selain penunjukan kebudayaan seperti tarian, anyaman noken, ukiran, makanan tradisional ada juga objek wisatanya misalnya mumi (usia puluhan tahun yang jarang ditemukan di tempat lain), gua, danau habema (berada di atas gunung), pasir putih, hutan pinus, batas batu dan lainnya. Dengan demikian, FBLB secara langsung memberikan dampak positif bagi peningkatan UMKM terutama orang lokal, maupun pemilik akomodasi, restoran, dan transportasi.
"Festival Budaya Lembah Baliem, akan berlangsung pada 7-9 Agustus 2025 di Distrik Usilimo dari pukul 10.00 – 15.30 WIT.
Day 1, 7 Agustus 2025: Pembukaan, Rekor Muri (Pikon dan Etao), Atraksi Perang-Perangan, Atraksi Tarian Budaya, Hiburan dan Pameran UMKM," tutur Atenius Murip.
Pada hari kedua, 8 Agustus 2025, acara dihiasi Pameran UMKM, Workshop Budaya dan Warisanku, Atraksi PerangPerangan, Atraksi Tarian Budaya, Nyanyian Rakyat, Perlombaan (Sikoko, Karapan Babi, Anyaman Noken, Puradan). Ada juga Atraksi Perang-Perangan pada hari ketiga. Selain itu, Atraksi Tarian Budaya, Nyanyian Rakyat, Perlombaan Rakyat, Atraksi Bakar Batu.
Yang tidak kalah menarik, acara baru yang belum pernah ditampilkan sebelumnya, yang akan masuk Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk 1.500 pemain pikon (alat musik tradisional). Dengan demikian, FBLB akan menorehkan 2 Rekor MURI, yang pertama 2019 untuk pembuat Noken (tas tradisional yang telah terdaftar di Unesco sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia tahun, 2012) dengan panjang, 30 meter.
Pasalnya, sejak perayaan ini dimulai pada 1989, FBLB ditujukan sebagai wahana untuk melestarikan dan memperkenalkan budaya Lembah Baliem dari generasi tua kepada anak muda maupun sebagai ajang pertunjukan bagi wisatawan. Geographically, Lembah Baliem is the heart of Tanah Papua yang sering menjadi pusat kebudayaan dan keberagaman.
Tahun ini, acara yang berlangsung di Distrik Usilimo, sekira 30 menit berkendaraan ke arah barat dari Kota Wamena, akan mengangkat tema “Budaya Saya, Warisan Saya, Dari Jayawijaya Untuk Dunia”.
"Festival Budaya Lembah Baliem menjadi ikonik bagi turis domestik maupun mancanegara karena memiliki karakteristik yang unik, mengesankan, mengharukan, dan juga mendebarkan hati karena ada penampilan perang-perangan (perang tiruan). Hal ini, peragaan budaya yang unik dan antik pada abad milenial ketika banyak orang terkosentrasi pada modernitas, membuat FBLB selalu memiliki kesan dan daya tarik tersendiri bagi setiap pengunjuk sekaligus memperkaya khasanah budaya bangsa Indonesia di kanca internasional," tutur Bupati Kabupaten Jayawijaya Atenius Murip.
Bahkan, FBLB menjadi salah satu event festival tertua di Indonesia dan masuk TOP 10 Karisma Event Nusantara (KEN), seperti Cap Go Meh Singkawang (Kalimantan Barat), Pesta Kesenian Bali (Bali) dan Semasa Piknik (DKI Jakarta).
FBLB merupakan momentum yang sangat dinantikan oleh semua pegiat dan pemikat karena selain penunjukan kebudayaan seperti tarian, anyaman noken, ukiran, makanan tradisional ada juga objek wisatanya misalnya mumi (usia puluhan tahun yang jarang ditemukan di tempat lain), gua, danau habema (berada di atas gunung), pasir putih, hutan pinus, batas batu dan lainnya. Dengan demikian, FBLB secara langsung memberikan dampak positif bagi peningkatan UMKM terutama orang lokal, maupun pemilik akomodasi, restoran, dan transportasi.
"Festival Budaya Lembah Baliem, akan berlangsung pada 7-9 Agustus 2025 di Distrik Usilimo dari pukul 10.00 – 15.30 WIT.
Day 1, 7 Agustus 2025: Pembukaan, Rekor Muri (Pikon dan Etao), Atraksi Perang-Perangan, Atraksi Tarian Budaya, Hiburan dan Pameran UMKM," tutur Atenius Murip.
Pada hari kedua, 8 Agustus 2025, acara dihiasi Pameran UMKM, Workshop Budaya dan Warisanku, Atraksi PerangPerangan, Atraksi Tarian Budaya, Nyanyian Rakyat, Perlombaan (Sikoko, Karapan Babi, Anyaman Noken, Puradan). Ada juga Atraksi Perang-Perangan pada hari ketiga. Selain itu, Atraksi Tarian Budaya, Nyanyian Rakyat, Perlombaan Rakyat, Atraksi Bakar Batu.
Yang tidak kalah menarik, acara baru yang belum pernah ditampilkan sebelumnya, yang akan masuk Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk 1.500 pemain pikon (alat musik tradisional). Dengan demikian, FBLB akan menorehkan 2 Rekor MURI, yang pertama 2019 untuk pembuat Noken (tas tradisional yang telah terdaftar di Unesco sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia tahun, 2012) dengan panjang, 30 meter.
(dra)
Lihat Juga :