Tompi Bongkar Alasan Keluar dari WAMI, Soroti Kisruh Royalti Musik di Indonesia
Rabu, 13 Agustus 2025 - 11:40 WIB
loading...
Musisi sekaligus dokter ternama Tompi, mengungkap alasannya keluar dari Wahana Musik Indonesia (WAMI) di tengah memanasnya polemik royalti di industri musik. Foto/Instagram @dr_tompi
A
A
A
JAKARTA - Musisi sekaligus dokter ternama Tompi , mengungkap alasannya keluar dari Wahana Musik Indonesia (WAMI) di tengah memanasnya polemik royalti di industri musik Tanah Air. Ia telah meminta manajernya untuk secara resmi mengurus proses keluar dari organisasi pengelola royalti tersebut.
Keputusan Tompi ini diambil setelah ia merasa tidak pernah mendapatkan kejelasan memadai dari WAMI mengenai sistem perhitungan dan pembagian royalti, yang selama ini menjadi salah satu isu sensitif di industri musik Indonesia. Langkah pelantun Menghujam Jantungku itu pun sontak memicu perbincangan hangat di kalangan musisi dan warganet.
"Jadi per kemarin saya suda minta manager saya @natalia_281 untuk keluar keanggotaan dari @wami.id," tulis Tompi dikutip dari Instagram @dr_tompi, Rabu (13/8/2025).
"Belum pernah puas dan jelas dengan jawaban dari semua yang pernah saya tanyai, 'emang ngintungnya gimana? ngebaginya atas dasar apa?'" sambungnya.
Baca Juga: Keresahan Tompi soal Senioritas di Dunia Kedokteran, Junior yang Sampaikan Kritik Dianggap Keras Kepala
![Tompi Bongkar Alasan Keluar dari WAMI, Soroti Kisruh Royalti Musik di Indonesia]()
Foto/Instagram @dr_tompi
Dalam keterangannya, Tompi mengungkap bahwa sejak dulu ia sudah menaruh perhatian besar terhadap transparansi pengelolaan royalti. Ia bahkan mengaku pernah beberapa kali berdiskusi dengan mendiang Glenn Fredly mengenai bagaimana Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) menghitung serta mendistribusikan royalti yang berasal dari konser, kafe, dan pemutaran lagu di berbagai media.
"Dulu sama Glenn, saya beberapa kali diskusi tentang LMK ngutip dan ngebagi royalti dari konser," jelasnya.
Namun, setiap kali ia mengajukan pertanyaan, jawaban yang diterimanya selalu terasa janggal dan tidak masuk akal. Menurutnya, hal inilah yang membuat masalah royalti di Tanah Air terus berlarut-larut tanpa ada solusi nyata yang berpihak pada semua pihak.
"Jawaban yang nggak masuk akal sehat saya. Dan semakin ke sini, kok semakin kisruh aja," ujarnya.
Baca Juga: 5 Potret Rumah Tompi yang Disebut Atta Halilintar Rp150 Miliar hingga Dipanggil Petugas Pajak
Penyanyi 46 tahun itu menegaskan bahwa keputusan keluar dari WAMI bukan hanya bentuk kekecewaan pribadi, tetapi juga pernyataan sikap terhadap sistem yang dinilainya belum transparan.
Sebagai bentuk protes, pemilik nama asli Teuku Adifitrian itu memutuskan untuk sementara membebaskan seluruh lagu ciptaannya diputar di berbagai panggung pertunjukan, konser, acara publik, hingga kafe tanpa perlu membayar royalti.
Ia menyebut langkah ini sebagai cara untuk mendukung para pelaku usaha dan musisi lain yang selama ini harus berhadapan dengan tuntutan pembayaran royalti di tengah mekanisme yang masih membingungkan. Baginya, musik seharusnya bisa dinikmati dengan adil tanpa memberatkan pihak manapun.
"Silakan yang mau menyanyikan lagu-lagu saya di semua panggung-panggung pertunjukan, konser, kafe, mainkan. Saya nggak akan ngutip apa pun sampai pengumuman selanjutnya," tandasnya.
Baca Juga: Kenang 4 Tahun Glenn Fredly Berpulang, Tompi: Kami Rindu
Keputusan berani Tompi ini mendapatkan dukungan luas dari warganet. Banyak yang memujinya sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem yang belum memberikan keadilan sepenuhnya bagi musisi dan pengguna karya.
Beberapa komentar di media sosial bahkan menyebut bahwa jika Glenn Fredly masih hidup, ia kemungkinan besar akan mengambil langkah serupa mengingat pandangan keduanya soal royalti sangat sejalan. Tak sedikit pula yang berharap tindakan Tompi ini dapat membuka mata para pemangku kebijakan untuk segera membenahi sistem pengelolaan royalti di Indonesia.
"Panutan, panutan, panutan" kata warganet.
"Mantap sampai tuh kroco-kroco dan yang heboh-heboh sebelumnya pada bener dulu. Baru atur ulang cara ngitungnya," tulis warganet.
"Kalau bung @glennfredly309 masih ada di sini, dia pasti akan mengatakan yang sama dengan @dr_tompi. Well said dok," komentar warganet.
Isu royalti musik memang sedang menjadi sorotan besar dalam beberapa waktu terakhir. Polemik ini melibatkan banyak pihak, mulai dari LMK, WAMI, hingga para musisi yang terbagi dalam dua kubu—ada yang menuntut pembayaran royalti secara ketat dan ada pula yang membebaskan lagunya diputar tanpa izin resmi.
Keputusan Tompi ini diambil setelah ia merasa tidak pernah mendapatkan kejelasan memadai dari WAMI mengenai sistem perhitungan dan pembagian royalti, yang selama ini menjadi salah satu isu sensitif di industri musik Indonesia. Langkah pelantun Menghujam Jantungku itu pun sontak memicu perbincangan hangat di kalangan musisi dan warganet.
"Jadi per kemarin saya suda minta manager saya @natalia_281 untuk keluar keanggotaan dari @wami.id," tulis Tompi dikutip dari Instagram @dr_tompi, Rabu (13/8/2025).
"Belum pernah puas dan jelas dengan jawaban dari semua yang pernah saya tanyai, 'emang ngintungnya gimana? ngebaginya atas dasar apa?'" sambungnya.
Baca Juga: Keresahan Tompi soal Senioritas di Dunia Kedokteran, Junior yang Sampaikan Kritik Dianggap Keras Kepala

Foto/Instagram @dr_tompi
Dalam keterangannya, Tompi mengungkap bahwa sejak dulu ia sudah menaruh perhatian besar terhadap transparansi pengelolaan royalti. Ia bahkan mengaku pernah beberapa kali berdiskusi dengan mendiang Glenn Fredly mengenai bagaimana Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) menghitung serta mendistribusikan royalti yang berasal dari konser, kafe, dan pemutaran lagu di berbagai media.
"Dulu sama Glenn, saya beberapa kali diskusi tentang LMK ngutip dan ngebagi royalti dari konser," jelasnya.
Namun, setiap kali ia mengajukan pertanyaan, jawaban yang diterimanya selalu terasa janggal dan tidak masuk akal. Menurutnya, hal inilah yang membuat masalah royalti di Tanah Air terus berlarut-larut tanpa ada solusi nyata yang berpihak pada semua pihak.
"Jawaban yang nggak masuk akal sehat saya. Dan semakin ke sini, kok semakin kisruh aja," ujarnya.
Baca Juga: 5 Potret Rumah Tompi yang Disebut Atta Halilintar Rp150 Miliar hingga Dipanggil Petugas Pajak
Penyanyi 46 tahun itu menegaskan bahwa keputusan keluar dari WAMI bukan hanya bentuk kekecewaan pribadi, tetapi juga pernyataan sikap terhadap sistem yang dinilainya belum transparan.
Sebagai bentuk protes, pemilik nama asli Teuku Adifitrian itu memutuskan untuk sementara membebaskan seluruh lagu ciptaannya diputar di berbagai panggung pertunjukan, konser, acara publik, hingga kafe tanpa perlu membayar royalti.
Ia menyebut langkah ini sebagai cara untuk mendukung para pelaku usaha dan musisi lain yang selama ini harus berhadapan dengan tuntutan pembayaran royalti di tengah mekanisme yang masih membingungkan. Baginya, musik seharusnya bisa dinikmati dengan adil tanpa memberatkan pihak manapun.
"Silakan yang mau menyanyikan lagu-lagu saya di semua panggung-panggung pertunjukan, konser, kafe, mainkan. Saya nggak akan ngutip apa pun sampai pengumuman selanjutnya," tandasnya.
Baca Juga: Kenang 4 Tahun Glenn Fredly Berpulang, Tompi: Kami Rindu
Keputusan berani Tompi ini mendapatkan dukungan luas dari warganet. Banyak yang memujinya sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem yang belum memberikan keadilan sepenuhnya bagi musisi dan pengguna karya.
Beberapa komentar di media sosial bahkan menyebut bahwa jika Glenn Fredly masih hidup, ia kemungkinan besar akan mengambil langkah serupa mengingat pandangan keduanya soal royalti sangat sejalan. Tak sedikit pula yang berharap tindakan Tompi ini dapat membuka mata para pemangku kebijakan untuk segera membenahi sistem pengelolaan royalti di Indonesia.
"Panutan, panutan, panutan" kata warganet.
"Mantap sampai tuh kroco-kroco dan yang heboh-heboh sebelumnya pada bener dulu. Baru atur ulang cara ngitungnya," tulis warganet.
"Kalau bung @glennfredly309 masih ada di sini, dia pasti akan mengatakan yang sama dengan @dr_tompi. Well said dok," komentar warganet.
Isu royalti musik memang sedang menjadi sorotan besar dalam beberapa waktu terakhir. Polemik ini melibatkan banyak pihak, mulai dari LMK, WAMI, hingga para musisi yang terbagi dalam dua kubu—ada yang menuntut pembayaran royalti secara ketat dan ada pula yang membebaskan lagunya diputar tanpa izin resmi.
(dra)
Lihat Juga :