1.200 Aktor dan Sutradara Hollywood Boikot Industri Film Israel
Rabu, 10 September 2025 - 08:20 WIB
loading...
Lebih dari 1.200 aktor, sutradara, dan profesional industri film Hollywood menyatakan sikap dengan menandatangani ikrar boikot lembaga-lembaga perfilman Israel. Foto/Variety
A
A
A
JAKARTA - Lebih dari 1.200 aktor , sutradara , dan profesional industri film Hollywood menyatakan sikap tegas dengan menandatangani ikrar boikot terhadap lembaga-lembaga perfilman Israel . Mereka menuding institusi film di negara tersebut terlibat dalam genosida dan sistem apartheid terhadap rakyat Palestina.
Langkah ini dinilai sebagai salah satu bentuk boikot budaya terbesar yang dilakukan kalangan seniman internasional sejak konflik di Gaza semakin memanas. Dukungan luas dari figur publik ternama membuat gerakan ini menjadi sorotan global.
Baca Juga: Kronologi Hamdan Ballal Sutradara No Other Land Diserang dan Ditangkap Militer Israel
Para sineas dan aktor yang menandatangani ikrar tersebut menegaskan bahwa film memiliki peran penting dalam membentuk opini masyarakat dunia. Karena itu, mereka merasa wajib untuk tidak menutup mata terhadap kekerasan yang menimpa warga sipil Palestina.
Dalam pernyataan resminya, mereka menulis bahwa pemerintah berbagai negara saat ini dinilai membiarkan bahkan memfasilitasi pembantaian di Gaza. Oleh karena itu, langkah boikot dianggap sebagai bentuk solidaritas sekaligus tekanan moral agar Israel menghentikan aksi yang dinilai sebagai genosida.
"Sebagai pembuat film, aktor, pekerja industri film, dan institusi, kami menyadari kekuatan sinema dalam membentuk persepsi," demikian bunyi ikrar tersebut dilansir dari The Guardian, Rabu (10/9/2025).
"Di momen krisis yang mendesak ini, di mana banyak pemerintah kita memfasilitasi pembantaian di Gaza, kita harus melakukan segala yang kita bisa untuk mengatasi keterlibatan dalam kengerian yang tak henti-hentinya ini," sambungnya.
Gerakan ini semakin mendapat perhatian luas karena melibatkan banyak nama besar di dunia film internasional. Di antara mereka terdapat sutradara papan atas Yorgos Lanthimos, Ava DuVernay, Asif Kapadia, Boots Riley, hingga Joshua Oppenheimer. Sementara dari kalangan aktor, tercatat Olivia Colman, Mark Ruffalo, Tilda Swinton, Javier Bardem, Riz Ahmed, Ayo Edebiri, Josh O’Connor, Cynthia Nixon, Rebecca Hall, dan Julie Christie.
Keikutsertaan para bintang ternama ini membuat boikot tersebut menjadi lebih berpengaruh. Tidak hanya karena jumlahnya yang besar, tetapi juga karena reputasi mereka yang memiliki jangkauan global dalam membentuk opini publik.
Baca Juga: Profil Hamdan Ballal, Sutradara No Other Land yang Ditangkap Tentara Israel usai Dianiaya
Para penandatangan ikrar berkomitmen untuk tidak menayangkan film, tampil, atau bekerja sama dengan institusi perfilman Israel. Hal ini termasuk festival film, bioskop, lembaga penyiaran, hingga perusahaan produksi yang dinilai berkolaborasi dengan pemerintah Israel.
"Seruan ini ditujukan kepada para pekerja film untuk menolak bekerja sama dengan institusi-institusi Israel yang terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia Israel terhadap rakyat Palestina," demikian bunyi pernyataan tersebut.
"Penolakan ini bertujuan pada keterlibatan institusi, bukan identitas. Terdapat pula 2 juta warga Palestina berkewarganegaraan Israel, dan masyarakat sipil Palestina telah mengembangkan pedoman yang peka terhadap konteks untuk komunitas tersebut," lanjutnya.
Mereka menilai banyak lembaga film Israel berperan menutupi atau membenarkan kebijakan pemerintah yang dituding melakukan kejahatan terhadap warga Palestina. Beberapa festival yang disebut antara lain Festival Film Yerusalem, Festival Film Internasional Haifa, Docaviv, dan TLVFest.
"Kami menjawab seruan para sineas Palestina, yang telah mendesak industri film internasional untuk menolak kebungkaman, rasisme, dan dehumanisasi, serta untuk 'melakukan segala yang mungkin secara manusiawi' untuk mengakhiri keterlibatan dalam penindasan mereka," bunyi pernyataan tersebut.
Gerakan ini terinspirasi dari sejarah boikot budaya internasional yang pernah membantu mengakhiri apartheid di Afrika Selatan. Para penandatangan percaya langkah serupa dapat memberikan tekanan nyata terhadap Israel, sekaligus menunjukkan solidaritas global kepada rakyat Palestina.
Penulis skenario David Farr, salah satu penandatangan ikrar, bahkan menegaskan bahwa sebagai keturunan penyintas Holocaust, ia merasa marah atas tindakan Israel yang dianggap melakukan sistem apartheid dan pembersihan etnis. Ia percaya, boikot budaya adalah langkah yang efektif untuk menghentikan pelanggaran hak asasi manusia.
"Sebagai keturunan penyintas Holocaust, saya merasa sedih dan marah atas tindakan negara Israel, yang selama beberapa dekade telah menegakkan sistem apartheid terhadap rakyat Palestina yang tanahnya telah mereka rampas, dan yang kini terus-menerus melakukan genosida dan pembersihan etnis di Gaza," tuturnya.
"Dalam konteks ini, saya tidak dapat mendukung karya saya diterbitkan atau dipentaskan di Israel. Boikot budaya itu penting di Afrika Selatan. Boikot kali ini akan menjadi penting dan menurut saya harus didukung oleh semua seniman yang berhati nurani," tambahnya.
Baca Juga: Cerita Pilu Sutradara Palestina Pemenang Oscar sebelum Dibebaskan Israel, Kepalanya Ditendang bak Bola
Namun, langkah ini tidak luput dari penolakan. Asosiasi Produsen Israel menilai boikot tersebut menyasar pihak yang salah. Menurut mereka, para sineas Israel justru telah lama menjadi jembatan dialog antara narasi Palestina dan Israel melalui karya film, dokumenter, serta produksi televisi.
"Selama beberapa dekade, kami, para seniman, pendongeng, dan kreator Israel, telah menjadi suara utama yang memungkinkan penonton mendengar dan menyaksikan kompleksitas konflik, termasuk narasi Palestina dan kritik terhadap kebijakan negara Israel," tulis mereka dalam sebuah pernyataan yang dikirimkan kepada The Guardian.
"Kami bekerja sama dengan para kreator Palestina, menceritakan kisah bersama kami, dan mempromosikan perdamaian serta mengakhiri kekerasan melalui ribuan film, serial TV, dan dokumenter. Seruan boikot ini sangat keliru," sambungnya.
Mereka menilai boikot tersebut berpotensi membungkam suara kreator Israel yang selama ini memperjuangkan perdamaian. Pernyataan itu menegaskan bahwa langkah pemutusan kerja sama justru bisa menghambat proses dialog dan merusak upaya kolektif untuk mengakhiri kekerasan.
"Dengan menyasar kami – para kreator yang menyuarakan beragam narasi dan mendorong dialog – para penandatangan ini melemahkan tujuan mereka sendiri dan berusaha membungkam kami. Tindakan picik ini justru bertujuan untuk menghilangkan upaya kolaboratif yang bertujuan mengakhiri kekerasan dan mencapai perdamaian," ujarnya.
"Kami tidak akan membiarkan hal ini dan akan menghambat upaya kami untuk mengakhiri kekerasan dan membawa perdamaian yang adil ke kawasan kami demi kepentingan semua," imbuhnya.
Gerakan ini tidak berdiri sendiri. Sebelumnya, sejumlah aktor dan sutradara terkenal seperti Joaquin Phoenix, Pedro Pascal, Ralph Fiennes, dan Guillermo del Toro juga ikut dalam kampanye mengecam kebungkaman industri film terhadap konflik di Gaza.
Bahkan, Asosiasi Aktor Norwegia (Norwegian Actors Equity Association) merekomendasikan anggotanya untuk menolak bekerja sama dengan lembaga budaya Israel. Hal ini menunjukkan bahwa solidaritas internasional terus berkembang di berbagai negara, memperkuat pesan moral agar Israel segera mengakhiri kekerasan.
Langkah ini dinilai sebagai salah satu bentuk boikot budaya terbesar yang dilakukan kalangan seniman internasional sejak konflik di Gaza semakin memanas. Dukungan luas dari figur publik ternama membuat gerakan ini menjadi sorotan global.
1.200 Aktor dan Sutradara Hollywood Boikot Industri Film Israel
Baca Juga: Kronologi Hamdan Ballal Sutradara No Other Land Diserang dan Ditangkap Militer Israel
Alasan Boikot Industri Film Israel
Para sineas dan aktor yang menandatangani ikrar tersebut menegaskan bahwa film memiliki peran penting dalam membentuk opini masyarakat dunia. Karena itu, mereka merasa wajib untuk tidak menutup mata terhadap kekerasan yang menimpa warga sipil Palestina.
Dalam pernyataan resminya, mereka menulis bahwa pemerintah berbagai negara saat ini dinilai membiarkan bahkan memfasilitasi pembantaian di Gaza. Oleh karena itu, langkah boikot dianggap sebagai bentuk solidaritas sekaligus tekanan moral agar Israel menghentikan aksi yang dinilai sebagai genosida.
"Sebagai pembuat film, aktor, pekerja industri film, dan institusi, kami menyadari kekuatan sinema dalam membentuk persepsi," demikian bunyi ikrar tersebut dilansir dari The Guardian, Rabu (10/9/2025).
"Di momen krisis yang mendesak ini, di mana banyak pemerintah kita memfasilitasi pembantaian di Gaza, kita harus melakukan segala yang kita bisa untuk mengatasi keterlibatan dalam kengerian yang tak henti-hentinya ini," sambungnya.
Daftar Nama Besar yang Terlibat
Gerakan ini semakin mendapat perhatian luas karena melibatkan banyak nama besar di dunia film internasional. Di antara mereka terdapat sutradara papan atas Yorgos Lanthimos, Ava DuVernay, Asif Kapadia, Boots Riley, hingga Joshua Oppenheimer. Sementara dari kalangan aktor, tercatat Olivia Colman, Mark Ruffalo, Tilda Swinton, Javier Bardem, Riz Ahmed, Ayo Edebiri, Josh O’Connor, Cynthia Nixon, Rebecca Hall, dan Julie Christie.
Keikutsertaan para bintang ternama ini membuat boikot tersebut menjadi lebih berpengaruh. Tidak hanya karena jumlahnya yang besar, tetapi juga karena reputasi mereka yang memiliki jangkauan global dalam membentuk opini publik.
Baca Juga: Profil Hamdan Ballal, Sutradara No Other Land yang Ditangkap Tentara Israel usai Dianiaya
Bentuk Boikot yang Dilakukan
Para penandatangan ikrar berkomitmen untuk tidak menayangkan film, tampil, atau bekerja sama dengan institusi perfilman Israel. Hal ini termasuk festival film, bioskop, lembaga penyiaran, hingga perusahaan produksi yang dinilai berkolaborasi dengan pemerintah Israel.
"Seruan ini ditujukan kepada para pekerja film untuk menolak bekerja sama dengan institusi-institusi Israel yang terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia Israel terhadap rakyat Palestina," demikian bunyi pernyataan tersebut.
"Penolakan ini bertujuan pada keterlibatan institusi, bukan identitas. Terdapat pula 2 juta warga Palestina berkewarganegaraan Israel, dan masyarakat sipil Palestina telah mengembangkan pedoman yang peka terhadap konteks untuk komunitas tersebut," lanjutnya.
Mereka menilai banyak lembaga film Israel berperan menutupi atau membenarkan kebijakan pemerintah yang dituding melakukan kejahatan terhadap warga Palestina. Beberapa festival yang disebut antara lain Festival Film Yerusalem, Festival Film Internasional Haifa, Docaviv, dan TLVFest.
"Kami menjawab seruan para sineas Palestina, yang telah mendesak industri film internasional untuk menolak kebungkaman, rasisme, dan dehumanisasi, serta untuk 'melakukan segala yang mungkin secara manusiawi' untuk mengakhiri keterlibatan dalam penindasan mereka," bunyi pernyataan tersebut.
Inspirasi dari Boikot Budaya Afrika Selatan
Gerakan ini terinspirasi dari sejarah boikot budaya internasional yang pernah membantu mengakhiri apartheid di Afrika Selatan. Para penandatangan percaya langkah serupa dapat memberikan tekanan nyata terhadap Israel, sekaligus menunjukkan solidaritas global kepada rakyat Palestina.
Penulis skenario David Farr, salah satu penandatangan ikrar, bahkan menegaskan bahwa sebagai keturunan penyintas Holocaust, ia merasa marah atas tindakan Israel yang dianggap melakukan sistem apartheid dan pembersihan etnis. Ia percaya, boikot budaya adalah langkah yang efektif untuk menghentikan pelanggaran hak asasi manusia.
"Sebagai keturunan penyintas Holocaust, saya merasa sedih dan marah atas tindakan negara Israel, yang selama beberapa dekade telah menegakkan sistem apartheid terhadap rakyat Palestina yang tanahnya telah mereka rampas, dan yang kini terus-menerus melakukan genosida dan pembersihan etnis di Gaza," tuturnya.
"Dalam konteks ini, saya tidak dapat mendukung karya saya diterbitkan atau dipentaskan di Israel. Boikot budaya itu penting di Afrika Selatan. Boikot kali ini akan menjadi penting dan menurut saya harus didukung oleh semua seniman yang berhati nurani," tambahnya.
Baca Juga: Cerita Pilu Sutradara Palestina Pemenang Oscar sebelum Dibebaskan Israel, Kepalanya Ditendang bak Bola
Tanggapan dari Asosiasi Produsen Israel
Namun, langkah ini tidak luput dari penolakan. Asosiasi Produsen Israel menilai boikot tersebut menyasar pihak yang salah. Menurut mereka, para sineas Israel justru telah lama menjadi jembatan dialog antara narasi Palestina dan Israel melalui karya film, dokumenter, serta produksi televisi.
"Selama beberapa dekade, kami, para seniman, pendongeng, dan kreator Israel, telah menjadi suara utama yang memungkinkan penonton mendengar dan menyaksikan kompleksitas konflik, termasuk narasi Palestina dan kritik terhadap kebijakan negara Israel," tulis mereka dalam sebuah pernyataan yang dikirimkan kepada The Guardian.
"Kami bekerja sama dengan para kreator Palestina, menceritakan kisah bersama kami, dan mempromosikan perdamaian serta mengakhiri kekerasan melalui ribuan film, serial TV, dan dokumenter. Seruan boikot ini sangat keliru," sambungnya.
Mereka menilai boikot tersebut berpotensi membungkam suara kreator Israel yang selama ini memperjuangkan perdamaian. Pernyataan itu menegaskan bahwa langkah pemutusan kerja sama justru bisa menghambat proses dialog dan merusak upaya kolektif untuk mengakhiri kekerasan.
"Dengan menyasar kami – para kreator yang menyuarakan beragam narasi dan mendorong dialog – para penandatangan ini melemahkan tujuan mereka sendiri dan berusaha membungkam kami. Tindakan picik ini justru bertujuan untuk menghilangkan upaya kolaboratif yang bertujuan mengakhiri kekerasan dan mencapai perdamaian," ujarnya.
"Kami tidak akan membiarkan hal ini dan akan menghambat upaya kami untuk mengakhiri kekerasan dan membawa perdamaian yang adil ke kawasan kami demi kepentingan semua," imbuhnya.
Dukungan dari Industri Hiburan Global
Gerakan ini tidak berdiri sendiri. Sebelumnya, sejumlah aktor dan sutradara terkenal seperti Joaquin Phoenix, Pedro Pascal, Ralph Fiennes, dan Guillermo del Toro juga ikut dalam kampanye mengecam kebungkaman industri film terhadap konflik di Gaza.
Bahkan, Asosiasi Aktor Norwegia (Norwegian Actors Equity Association) merekomendasikan anggotanya untuk menolak bekerja sama dengan lembaga budaya Israel. Hal ini menunjukkan bahwa solidaritas internasional terus berkembang di berbagai negara, memperkuat pesan moral agar Israel segera mengakhiri kekerasan.
(dra)
Lihat Juga :