Rekor! Pria Ini Terinfeksi Covid-19 selama 2 Tahun Nonstop
Selasa, 16 September 2025 - 20:20 WIB
loading...
Kasus luar biasa terjadi dalam dunia medis ketika seorang pria dilaporkan mengalami infeksi Covid-19 yang berlangsung selama lebih dari dua tahun tanpa henti. Foto/NBC
A
A
A
JAKARTA - Kasus luar biasa terjadi dalam dunia medis ketika seorang pria dilaporkan mengalami infeksi Covid-19 yang berlangsung selama lebih dari dua tahun tanpa henti. Infeksi berkepanjangan ini menjadi rekor baru karena pasien terus membawa virus aktif dalam tubuhnya.
Dilansir dari Science Alert, Selasa (16/9/2025), pasien berusia 41 tahun ini harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit sebanyak lima kali karena gejala Covid-19 , yakni pernapasan yang tidak kunjung membaik.
Fenomena ini berbeda dengan kasus Covid-19 panjang yang biasanya terjadi setelah virus hilang dari tubuh. Pada pria ini, virus justru terus bertahan dan berkembang dalam tubuhnya, sehingga mengakibatkan fase infeksi akut yang berkelanjutan.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran para ahli karena berpotensi menjadi tempat lahirnya varian baru yang lebih menular.
Baca Juga: Gejala Varian Covid-19 Stratus yang Dominan di Indonesia, Suara Serak Jadi Ciri Khas
Para peneliti menjelaskan bahwa infeksi yang berlangsung lama bukan sekadar kelanjutan gejala seperti pada kasus long Covid-19. Bedanya, virus tetap berada dalam tubuh dan terus bereplikasi dalam jangka waktu yang sangat panjang.
"Infeksi jangka panjang memungkinkan virus menemukan cara untuk menginfeksi sel secara lebih efisien, dan (penelitian ini) menambah bukti bahwa varian yang lebih mudah menular telah muncul dari infeksi semacam itu," kata epidemiolog Universitas Harvard, William Hanage, kepada Sophia Abene di Contagion Live.
Kasus seperti ini dianggap sebagai ancaman bagi kesehatan masyarakat. Sebab memberi kesempatan virus untuk beradaptasi, bermutasi, bahkan memunculkan varian baru yang lebih sulit dikendalikan.
Tim ahli bioinformatika dari Universitas Boston, yang dipimpin oleh Joseline Velasquez-Reyes, melakukan analisis genetik terhadap sampel virus dari pasien antara Maret 2021 hingga Juli 2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat mutasi virus pada pasien serupa dengan yang ditemukan pada populasi luas.
Lebih mengejutkan lagi, beberapa mutasi yang teridentifikasi pada pasien tersebut mirip dengan mutasi yang kemudian muncul pada varian Omicron. Artinya, dalam satu tubuh manusia saja, virus bisa mengalami proses evolusi yang menyerupai perkembangan varian global.
Baca Juga: Varian Covid-19 XFG Stratus Muncul di 38 Negara, Gejalanya Unik
Pasien tersebut diketahui juga menderita HIV-1 stadium lanjut, yang membuat sistem imunnya sangat lemah. Jumlah sel T penolong hanya mencapai 35 sel per mikroliter darah, jauh di bawah kisaran normal 500–1.500 sel per mikroliter.
Selama lebih dari dua tahun, pria ini tidak mendapatkan terapi antiretroviral yang seharusnya dapat memperkuat imunitasnya. Ia mengalami gejala seperti sesak napas, sakit kepala, nyeri otot, hingga kelelahan berkepanjangan. Kondisi inilah yang memungkinkan virus bertahan begitu lama di dalam tubuhnya.
Meski virus bertahan lebih dari dua tahun, para peneliti menduga bahwa risiko penularannya justru rendah. "Tidak adanya infeksi lanjutan yang diduga terjadi mungkin mengindikasikan hilangnya penularan selama adaptasi terhadap satu inang," tutur Velasquez-Reyes dan tim menduga.
Namun, para ahli menekankan bahwa tidak semua kasus infeksi jangka panjang akan mengikuti pola yang sama. Ada kemungkinan kasus lain bisa memunculkan varian baru yang lebih menular dan berbahaya. Inilah alasan mengapa pengawasan ketat terhadap perkembangan Covid-19 harus tetap dilakukan.
Baca Juga: Sakit Tenggorokan Tajam seperti Disayat Silet Jadi Gejala Covid-19 Varian Nimbus
Kasus ini menjadi pengingat bahwa Covid-19 masih memiliki potensi besar untuk bermutasi, terutama pada individu dengan sistem imun lemah. Oleh karena itu, para peneliti menekankan pentingnya upaya pencegahan baik di tingkat individu maupun masyarakat.
"Membersihkan infeksi ini harus menjadi prioritas bagi sistem perawatan kesehatan," para peneliti menyimpulkan.
Dilansir dari Science Alert, Selasa (16/9/2025), pasien berusia 41 tahun ini harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit sebanyak lima kali karena gejala Covid-19 , yakni pernapasan yang tidak kunjung membaik.
Fenomena ini berbeda dengan kasus Covid-19 panjang yang biasanya terjadi setelah virus hilang dari tubuh. Pada pria ini, virus justru terus bertahan dan berkembang dalam tubuhnya, sehingga mengakibatkan fase infeksi akut yang berkelanjutan.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran para ahli karena berpotensi menjadi tempat lahirnya varian baru yang lebih menular.
Baca Juga: Gejala Varian Covid-19 Stratus yang Dominan di Indonesia, Suara Serak Jadi Ciri Khas
Perbedaan Infeksi Jangka Panjang dengan Covid-19 Panjang
Para peneliti menjelaskan bahwa infeksi yang berlangsung lama bukan sekadar kelanjutan gejala seperti pada kasus long Covid-19. Bedanya, virus tetap berada dalam tubuh dan terus bereplikasi dalam jangka waktu yang sangat panjang.
"Infeksi jangka panjang memungkinkan virus menemukan cara untuk menginfeksi sel secara lebih efisien, dan (penelitian ini) menambah bukti bahwa varian yang lebih mudah menular telah muncul dari infeksi semacam itu," kata epidemiolog Universitas Harvard, William Hanage, kepada Sophia Abene di Contagion Live.
Kasus seperti ini dianggap sebagai ancaman bagi kesehatan masyarakat. Sebab memberi kesempatan virus untuk beradaptasi, bermutasi, bahkan memunculkan varian baru yang lebih sulit dikendalikan.
Analisis Genetik: Mutasi Mirip Omicron
Tim ahli bioinformatika dari Universitas Boston, yang dipimpin oleh Joseline Velasquez-Reyes, melakukan analisis genetik terhadap sampel virus dari pasien antara Maret 2021 hingga Juli 2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat mutasi virus pada pasien serupa dengan yang ditemukan pada populasi luas.
Lebih mengejutkan lagi, beberapa mutasi yang teridentifikasi pada pasien tersebut mirip dengan mutasi yang kemudian muncul pada varian Omicron. Artinya, dalam satu tubuh manusia saja, virus bisa mengalami proses evolusi yang menyerupai perkembangan varian global.
Baca Juga: Varian Covid-19 XFG Stratus Muncul di 38 Negara, Gejalanya Unik
Kondisi Pasien yang Rentan
Pasien tersebut diketahui juga menderita HIV-1 stadium lanjut, yang membuat sistem imunnya sangat lemah. Jumlah sel T penolong hanya mencapai 35 sel per mikroliter darah, jauh di bawah kisaran normal 500–1.500 sel per mikroliter.
Selama lebih dari dua tahun, pria ini tidak mendapatkan terapi antiretroviral yang seharusnya dapat memperkuat imunitasnya. Ia mengalami gejala seperti sesak napas, sakit kepala, nyeri otot, hingga kelelahan berkepanjangan. Kondisi inilah yang memungkinkan virus bertahan begitu lama di dalam tubuhnya.
Risiko Penularan dan Evolusi Virus
Meski virus bertahan lebih dari dua tahun, para peneliti menduga bahwa risiko penularannya justru rendah. "Tidak adanya infeksi lanjutan yang diduga terjadi mungkin mengindikasikan hilangnya penularan selama adaptasi terhadap satu inang," tutur Velasquez-Reyes dan tim menduga.
Namun, para ahli menekankan bahwa tidak semua kasus infeksi jangka panjang akan mengikuti pola yang sama. Ada kemungkinan kasus lain bisa memunculkan varian baru yang lebih menular dan berbahaya. Inilah alasan mengapa pengawasan ketat terhadap perkembangan Covid-19 harus tetap dilakukan.
Baca Juga: Sakit Tenggorokan Tajam seperti Disayat Silet Jadi Gejala Covid-19 Varian Nimbus
Imbauan untuk Pencegahan dan Kesehatan Publik
Kasus ini menjadi pengingat bahwa Covid-19 masih memiliki potensi besar untuk bermutasi, terutama pada individu dengan sistem imun lemah. Oleh karena itu, para peneliti menekankan pentingnya upaya pencegahan baik di tingkat individu maupun masyarakat.
"Membersihkan infeksi ini harus menjadi prioritas bagi sistem perawatan kesehatan," para peneliti menyimpulkan.
(dra)
Lihat Juga :