Ini Alasan Wanda Hamidah Jadi Satu-satunya Wakil Indonesia yang Berlayar ke Gaza
Kamis, 18 September 2025 - 07:00 WIB
loading...
A
A
A
"Banyak hal terjadi. Utamanya 'kekacauan kecil' akibat berbagai sabotase," jelasnya.
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa perjalanan menuju Gaza bukanlah sesuatu yang mudah untuk diwujudkan. Berbagai hambatan teknis dan nonteknis muncul silih berganti, membuat persiapan semakin rumit dan penuh tantangan.
![Ini Alasan Wanda Hamidah Jadi Satu-satunya Wakil Indonesia yang Berlayar ke Gaza]()
Foto/Instagram @new_risalahamar
Baca Juga: Wanda Hamidah Akhirnya Berlayar ke Gaza: Kita Akan Mematahkan Blokade Zionis Israel
Situasi ini bahkan diperparah dengan adanya dugaan sabotase yang menyebabkan kekacauan di lapangan. Kondisi tersebut membuat para aktivis tidak bisa melanjutkan perjalanan mereka ke Gaza.
"Mulai dari hilangnya bahan bakar untuk kapal, kapal-kapal yang mendadak rusak massal, sampai mundurnya para kapten kapal karena tekanan," ujarnya.
Dengan kondisi demikian, para aktivis harus bergerak cepat untuk mencari pengganti baik armada hingga kapten kapal dalam waktu yang sangat terbatas. Di mana hal tersebut menjadi sebuah tantangan besar di tengah misi kemanusiaan.
"Dan waktu singkat kami harus mencari 20 kapten kapal dan 20 kru lain, tanpa jaminan pulang," ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa perjalanan menuju Gaza bukanlah sesuatu yang mudah untuk diwujudkan. Berbagai hambatan teknis dan nonteknis muncul silih berganti, membuat persiapan semakin rumit dan penuh tantangan.

Foto/Instagram @new_risalahamar
Baca Juga: Wanda Hamidah Akhirnya Berlayar ke Gaza: Kita Akan Mematahkan Blokade Zionis Israel
Situasi ini bahkan diperparah dengan adanya dugaan sabotase yang menyebabkan kekacauan di lapangan. Kondisi tersebut membuat para aktivis tidak bisa melanjutkan perjalanan mereka ke Gaza.
"Mulai dari hilangnya bahan bakar untuk kapal, kapal-kapal yang mendadak rusak massal, sampai mundurnya para kapten kapal karena tekanan," ujarnya.
Dengan kondisi demikian, para aktivis harus bergerak cepat untuk mencari pengganti baik armada hingga kapten kapal dalam waktu yang sangat terbatas. Di mana hal tersebut menjadi sebuah tantangan besar di tengah misi kemanusiaan.
"Dan waktu singkat kami harus mencari 20 kapten kapal dan 20 kru lain, tanpa jaminan pulang," ungkapnya.
Lihat Juga :